IPB Today Volume 221

IPB Today Volume 221
IPB Today Volume 221

 

IPB Today Volume 221

Selama tiga 3 hari, 9-11 Juli 2019, rombongan peneliti yang tergabung dalam Tim Aksi Transformasi Pertanian dari Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University kunjungi Desa Bulakan dan Desa Sukatani (Kabupaten Serang) dan Desa Pamubulan (Kabupaten Lebak). Kedatangan tim yang terdiri dari Dr. Kaswanto, Dr. Sofyan Zaman, Lukman Hakim, Fajar Cakrawinata, Muhammad Badar, dan Ostaf al Mustafa ke dua desa tersebut untuk mengubah kebiasaan petani. Dari petani tanaman tahunan ke petani dengan kombinasi tanaman tahunan dan musiman.

“Konsepnya ke lanskap agroforestri untuk menjaga keberlanjutan aset-aset PLN (SUTET dan SUTT) yang ada di dua desa tersebut serta untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Dalam kunjungan tiga hari ini, tim melakukan Focus Group Discussion (FGD), mengambil sampel tanah di area demplot di bawah jaringan SUTET PLN, melakukan wawancara dengan para stakeholders, sekaligus membuat film dokumenter,” ujar Dr Kaswanto.

Dari hasil pantauannya di desa Bulakan, masalah mendasar pada desa ini adalah kebanyakan petaninya merupakan petani penggarap dari tanah milik perusahaan maupun milik penduduk luar. Tidak ada kelompok tani dan BUMDes. Warga juga lebih memilih menjadi buruh atau meninggalkan desa. “Tak ada kelompok tani, sedangkan BUMDes belum menjadi penggerak ekonomi  masyarakat. Berdasarkan info dari petani, untuk menggarap tanah, perusahaan menerapkan bagi hasil, tapi kalau gagal panen, petani akan didenda sebesar sepuluh juta rupiah. Itulah sebabnya, mereka enggan mengolah tanah milik perusahaan, karena terancam oleh denda, yang tak bisa ditebus hanya dengan panen-panen berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi lebih baik terjadi di desa Pamubulan. BUMDesnya sudah proaktif membantu petani karet bahkan sudah memiliki laba perusahaan. Masalah pada desa ini ada pada kondisi alam, yakni kontur desa yang berbukit dan jaringan kabel PLN yang rendah, sekitar enam meter dari atas tanah. “Kami takut mengolah tanah, apalagi saat hujan dan petir,” ujar peserta FGD, yang tetap membiarkan tanahnya tak tergarap.
Melihat kondisi ini, Dr Kaswanto berharap BUMDes di tiga desa tersebut bisa bangkit atau bisa menjadi BUMDes Bersama, yang melibatkan desa-desa lainnya. Untuk itu, Tim PSP3 akan membuat empat serial buku saku BUMDes berupa DIY BUMDes, Akselerasi BUMDes, Eskalasi BUMDes dan Aktualisasi BUMDes. “Dengan adanya buku saku tersebut, kami optimis eksistensi BUMDes menjadi lebih realistis sehingga ekonomi rakyat pedesaan bisa meningkat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr Sofyan Zaman juga optimis dengan pilihan masyarakat untuk menanam jagung, karena tak akan terkendala dengan pemasaran. Dr Sofyan sudah bertemu dengan pihak offtaker atau pengumpul besar, yang akan membeli berapapun hasil panen petani. Mereka juga akan menurunkan tim yang akan membantu petani secara langsung. Bahkan menyiapkan mesin pengering, sehingga kadar air memenuhi syarat standar. Sementara itu, Dr Sofyan Sjaf, Kepala PSP3-LPPM IPB, menegaskan bahwa petani akan menerima harga pembelian yang tinggi, karena mata rantai yang cukup panjang dalam pembelian jagung, akan terpotong oleh offtaker. “Saya berharap, kerja sama dengan PT Eragano yang menjadi offtaker, dapat segera  menyejahterakan petani jagung. Harapan saya, kerjasama ini bisa terus berlanjut dengan PLN dan PT Eragano, maupun pihak lain yang peduli dengan ekonomi pedesaaan,” tandasnya.

Reporter: Ostaf / Siti Zulaedah

Unduh: IPB Today Volume 221

Share
One Comment