SUPERNOVA: PETIR

8 02 2010

Akhirnya ketemu juga novel SUPERNOVA: PETIR yang complete.
Setelah sekian lama mencari yang full, akhirnya ketemu di sebuah blog. Thank you…

Listrik sudah mengawiniku

Menyaksikan keakraban Dedi dengan listrik sering membuatku tergoda, tapi ngeri mencoba. Barangkali listrik juga sudah mengawiniku waktu itu, karena sejak kesetrum satu keanehan muncul: aku jadi senang menontoni kilatan petir. Kalau langit mulai ditumpuki awan gelap, aku yang paling dulu berlari keluar. Cras! Dia muncul. Aku gembira. Lalu langit seperti sendawa gede-gedean. Kaca jendela bergetar dan Watti memekik ngeri. Cras! Cras! Cras! Bentuknya seperti amuba. Aku makin bahagia. Angkasa pun terbahak. Geledek yang lebih besar datang dan Watti menutup kupingnya. Beberapa saat kemudian karyawan Dedi tergopoh-gopoh keluar menggiringku masuk rumah. Sekujur tubuh ini sudah basah kuyup. Menonton petir sering bikin aku tidak sadar, air hujan lewat saja tanpa dirasa.
Kejadian itu berulang terus, sampai-sampai mereka berinisiatif mengurungku dalam kamar kalau musim hujan datang. Aku cuma bisa berdiri di tepi nako jendela, memejamkan mata nikmat setiap geledek besar menggetarkan kaca. Sayup-sayup kudengar pekikan kaget kakakku di ruang tengah.
Watti yang senantiasa mendamba drama keluarga mulai mengangkat isu itu ke permukaan. Satu malam di meja makan—ralat, di setengah meja ping-pong tanpa kaki kiri yang tidak mau dibuang Dedi hingga diganjallah oleh dus kulkas dan . . . alakazam! Jadilah meja makan!—Watti membuka perkara: Ded, Etra kena kuasa gelap.


Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>