MESO SCALE LANDSCAPE ECOLOGY 2016

10 05 2016

Meso Scale Landscape Ecology 2016

QUIZ: MESO SCALE LANDSCAPE ECOLOGY

Jawablah pertanyaan di bawah ini

  1. Buatlah satu Studi Kasus sederhana yang mencerminkan kegiatan penelitian dalam bidang ARL pada Skala MESO,
  2. Sebutkan lokasi yang ingin Anda analisis untuk studi kasus tsb,
  3. Jelaskan alasannya dalam perspektif Ekologi Lanskap, mengapa Anda ingin melakukan analisis tersebut di lokasi tsb.
  4. Maksimum 300 kata.

Tulis jawaban Anda pada blog http://kaswanto.staff.ipb.ac.id/  paling lambat hari Selasa tanggal 17 Mei 2015 pukul 08.00 WIB.

Jangan lupa sebutkan Nama dan NIM Anda.

Materi Kuliah silahkan download di sini XI MESO SCALE in LANDSAPE ECOLOGY 2016.

Selamat mengerjakan!!

 

 

Salam Ekologi Lanskap,

KAS



Actions

Informations

72 responses to “MESO SCALE LANDSCAPE ECOLOGY 2016”

10 05 2016
Kaswanto (12:31:54) :

Silahkan beri jawaban kuisnya di artikel ini. Terima kasih banyak.

Salam,
KAS

15 05 2016
Evi Silviana Heryanti (A44140002) (13:46:43) :

Evi Silviana Heryanti
A44140002

Studi kasus yang ingin saya bahas yaitu perubahan kualitas air di daerah Bara, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Semakin padatnya pemukiman serta semakin banyaknya pedagang yang berjualan di tepi-tepi jalan berpotensi menyebabkan perubahan kualitas air di daerah tersebut. Perubahan tersebut terutama disebabkan oleh para pedagang yang membuang limbah dagangannya ke selokan-selokan jalan, serta kurangnya kesadaran dari para pedagang maupun masyarakat sekitar untuk membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, kurangnya pengelolaan air bersih akibat pemukiman yang terlalu padat tersebut. Perubahan tersebut dikhawatirkan dapat mengancam kesehatan masyarakat sekitar, termasuk mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di daerah tersebut. Berdasarkan perspektif ekologi lanskap, telah terjadi dinamika dari segi waktu dan ruang. Seiring dengan berjalannya waktu dan kebutuhan manusia yang semakin banyak, kebutuhan akan ruang menjadi semakin tinggi. Akibatnya struktur serta fungsi dari wilayah tersebut menjadi berubah. Perubahan yang terjadi terus menerus tanpa adanya perbaikan dapat menurunkan nilai ekologi dari sebuah lanskap.

15 05 2016
Rizza Maharani (13:57:25) :

Studi Kasus yang saya bahas mengenai tentang Perubahan Signifikan pada Daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Setiap tahun tercatat penduduk Banyuwangi naik sekitar 0,22%, semakin meningkatnya penduduk Banyuwangi semakin banyak perubahan yang terjadi di daerah ini, salah satunya peningkatan pembangunan perumahan di daerah persawahan. Selain itu peningkatan wilayah industri juga terjadi di Banyuwangi. Lahan kosong yang dulunya dibiarkan kini dibangun untuk pembangunan industri. Namun dengan berjalannya pembangunan industri, pemerintah Banyuwangi juga meningkatkan pembangunan RTH (Ruang Terbuka Hijau). Setiap kecamatan harus memiliki ruang terbuka hijau, selain untuk mengatur stok karbon RTH juga berfungsi sebagai penyeimbang iklim di Banyuwangi. Stok karbon dari tahun ke tahun mengalami penurunan, kegiatan pemerintah seperti reboisasi dan pelarangan penebangan hutan sangat berpengaruh dalam perubahan ini. Dari prespektif Ekologi Lanskapnya, dinamika struktur dan waktu terjadi pada Banyuwangi. Pembangunan dimana-mana namun diimbangi dengan penghijauan setiap kecamatan dan juga Taman nasional. Pemerintah Banyuwangi memiliki program rancang bangun dengan menggunakan konsep green arsitek. Rancang bangun dengan konsep ini secara pasti akan mengurangi gas emisi rumah kaca.

Rizza Maharani A44140051

15 05 2016
Intan Nur Fathonah (15:53:22) :

Assalamualaikum wr. wb.

Saya Intan Nur Fathonah (A44140011), mahasiswa ARL angkatan 51. Terima kasih Pak sebelumnya karena telah memberikan materi Meso Scale di mata kuliah Pengantar Ekologi Lanskap. Cara mengajar Bapak yang sangat menyenangkan membuat saya lebih mudah memahami materi tersebut.

Mengenai tugas yang Bapak berikan Minggu lalu, saya tertarik untuk mengangkat studi kasus mengenai pemetaan ruang terbuka dan ruang terbangun di Kota Tasikmalaya dari waktu ke waktu. Lokasinya berada di Kota Tasikmalaya. Saya tertarik mengadakan penelitiannya di Kota Tasikmalaya karena kota tersebut adalah kota kelahiran saya dan Kota Tasikmalaya merupakan kota yang sedang berkembang saat ini.

Saya ingin melakukan penelitian mengenai ini karena saya ingin menganalisis kecepatan pertumbuhan Kota Tasikmalaya dilihat dari perkembangan ruang terbangun dan ruang terbukanya. Dengan analisis tersebut, saya dapat merencanakan di mana mana saja ruang terbuka yang dapat dibuat agar ruang-ruang terbuka di Kota Tasikmalaya masih dapat terhubung satu sama lain. Saya juga dapat merencanakan penataan ruang-ruang terbangun agar tidak menyebabkan fragmentasi yang berdampak buruk kepada ekologi. Intinya, saya ingin dengan penelitian ini pertumbuhan kota dapat lebih dikendalikan dan tidak merusak ekologi yang sudah ada.

Terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

15 05 2016
febya mutiara edison (21:39:01) :

Assalamu’allaikum wr wb, selamat malam. Saya Febya Mutiara Edison A44140042 ARL 51. Sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak yang telah mengajar materi skala meso di minggu. Studi kasus yang saya ingin bahas tentang kuaitas air yang ada di kota Padang di mulai dari daerah hulu, tengah dan hilir. Pada daerah hulu sungai terdapat beberapa sumber DAS yang berakir pada sungai utama. Terdapat tiga DAS yang ada di kota Padang yang berasal dari gunung Merapi. Sungai di daerah hulu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air untuk kehidupan sehari-hari, ternak dan bahkan perikanan dengan membentuk tambak- tambak di sekitar pekarangan rumah. Pada wilayah tengah air sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air bagi PDAM, irigasi sawah, mengairi ladang dan juga perikanan. Pada daerah hilir air mengalir ke muara sungai dan langsung ke laut, karena kota padang terletak di daerah pesisir. Terima kasih

15 05 2016
febya mutiara edison (21:39:36) :

Assalamu’allaikum wr wb, selamat malam. Saya Febya Mutiara Edison A44140042 ARL 51. Sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak yang telah mengajar materi skala meso di minggu. Studi kasus yang saya ingin bahas tentang kuaitas air yang ada di kota Padang di mulai dari daerah hulu, tengah dan hilir. Pada daerah hulu sungai terdapat beberapa sumber DAS yang berakir pada sungai utama. Terdapat tiga DAS yang ada di kota Padang yang berasal dari gunung Merapi. Sungai di daerah hulu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air untuk kehidupan sehari-hari, ternak dan bahkan perikanan dengan membentuk tambak- tambak di sekitar pekarangan rumah. Pada wilayah tengah air sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air bagi PDAM, irigasi sawah, mengairi ladang dan juga perikanan. Pada daerah hilir air mengalir ke muara sungai dan langsung ke laut, karena kota padang terletak di daerah pesisir. Terimakasih

15 05 2016
Annisa Farah Agustin (23:50:42) :

Annisa Farah A. (A44140034)

Studi kasus upaya revitalisasi lahan bekas tambang dengan cara budidaya ikan tawar di suata kawasan kubangan bekas tambang. Lahan ini berlokasi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan bekas tambang biasanya selalu menyisakan kubangan-kubangan besar yang terbengkalai. Biasanya beberapa daerah disekitar lahan tersebut juga tidak memiliki nilai ekologi. Terkadang kubangan bekas tambang juga dapat menimbulkan korban, yang notabene merupakan anak-anak kecil yang mengira bahwa kubangan tersebut tidak berbahaya. Apabila kubangan bekas tambang tersebut dijadikan tempat budidaya perikanan air tawar dan daerah sekitarnya ditata, maka dari sisi ekologis dapat memperbaiki ekosistem di wilayah tersebut. Dengan adanya ikan dan sistem pengairan yang baik dapat mendatangkan capung maupun biota perairan lain yang dapat membantu memperbaiki kawasan tersebut. Penataan dan penambahan tanaman yang cocok pada daerah sekitar bekas tambang juga dapat memperbaiki nilai ekologis di kawasan tersebut, semisal kawasan tersebut menjadi habitat baru suatu jenis burung. Apabila nantinya revitalisasi lahan bekas tambang berjalan dengan baik dan berkelanutan, lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi suata tempat pariwisata yang dapat menguntungkan masyarakat sekitar dan menaikkan pendapatan daerah.

16 05 2016
Ajeng Indah Syafitri (06:22:13) :

1.Masalah karbon stock
selama 15 tahun (1990- 2005) di sub DAS Konto telah terjadi emisi C sebesar 0.35 M ton. Total kehilangan karbon tersimpan (emisi C) di seluruh sub-DAS Kali Konto adalah sekitar 320689 Mg, dimana sekitar 158969 Mg adalah berasal dari alih guna lahan hutan menjadi lahan-lahan pertanian, dan sekitar 179208 Mg (56% dari total) berasal dari perkebunan yang diubah menjadi lahan pertanian tanaman semusim. Guna mengembalikan fungsi DAS sebagai penyimpan karbon yang paling efektif, perlu dilakukan usaha konservasi lahan hutan alami yang ada. Upaya penanaman pohon dalam perkebunan, masih diikuti dengan pelepasan karbon dalam jumlah yang relatif besar. Pemilihan jenis pohon penaung kopi yang lebih beragam dalam lahan agroforestri berbasis kopi akan memperkecil besarnya pelepasan karbon ke atmosfer.
Kualitas air
Dipakai untuk kegiatan rumah tangga sehari-hari, missal mandi, mencuci pakaian,namun tidak untuk minum. Namun di musim penghujan, air menjadi keruh dan berlumpur akibat sedimentasi tanah di DAS.
Perubahan land cover
Berdasarkan citra satelit tahun 1990 dan 2005, terlihat jelas adanya perubahan kelas tutupan lahan pada lahan hutan terganggu, perkebunan, agroforestri, tanaman semusim, semak belukar dan pemukiman. Penurunan luasan tutupan lahan, terbesar terjadi pada lahan hutan terganggu yaitu sekitar 33% di tahun 1990, diikuti perkebunan sekitar 10%, semak belukar sekitar 76%. Di sisi lain terjadi peningkatan luasan lahan tanaman semusim sebesar 45 % (6251.49 ha) dan pemukiman sebesar 18% (30.24 ha).
2. DAS Kanto, Jawa Timur
3. Menurut laporan penelitian LSM Wetland International (WI) dan Delft Hyraulics bahwa Indonesia adalah negara penghasil emisi CO2 ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan China.
Dalam jangka waktu sekitar 25 tahun, jumlah C yang diserap dan diakumulasikan dalam biomasa pohon dan tanaman lainnya hanya sekitar 5-60 Mg C/ha (Tomich et al, 1998). Jadi, untuk memulihkan kembali cadangan C seperti yang ditemui semula di hutan membutuhkan pengelolaan yang cermat dan waktu yang lama.

16 05 2016
Taufik Septiyan Maulana (A44140014) (11:20:21) :

Assalamualaikum Wr.Wb.
Sebelumnya perkenalkan pak, saya Taufik Septiyan Maulana (A44140014) salah satu mahasiswa pada Mata Kuliah Pengantar Ekologi Lanskap (ARL230). Terkait kuis yang bapak berikan pada pertemuan minggu lalu tentang Meso Scale, saya tertarik untuk membuat Studi Kasus dalam skala Meso Scale mengenai Water Quality. Lokasi yang ingin saya analisis ini adalah salah satu daerah di kampung halaman saya, yakni Kecamatan Sukaregang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Saya memilih lokasi tersebut sebab berdasarkan pengamatan yang saya lakukan daerah tersebut telah mengalami penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air ini disebabkan oleh berkembangnya industri-industri penyamakan kulit di daerah tersebut. Industri penyamakan kulit ini melakukan pembuangan limbah hasil proses industri ke dua sungai yakni, Sungai Ciwalen dan Sungai Cigulempang. Hal ini menyebabkan degradasi lingkungan di sekitar daerah tersebut seperti berkurangnya keanekaragaman hayati terutama di lingkungan perairan, terkontaminasinya sumur-sumur warga, serta ancaman bahaya pertanian dan kesehatan sebagai air irigasi pertanian. Melalui analisis Water Quality secara pendekatan Ekologis Lanskap, saya ingin mengetahui kualitas air di wilayah Sukaregang berdasarkan parameter Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Ammonium, Nitrate, Nitrite, Phosphate, pH, tingkat basa, Bacteria Escherichia coli, dan General Bacteria. Hasil parameter tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan tahapan-tahapan selanjutnya untuk menjadikan kembali lanskap sungai di daerah Sukaregang bernilai fungsional, estetika, serta ekologis bagi masyarakat dan seluruh ekositem lingkungan.
Sekian jawaban yang dapat saya berikan, mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata. Saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum. Wr. Wb.

16 05 2016
utari septi aulia (11:58:01) :

selamat siang pak. saya utari septi aulia A44140024, untuk jawaban pertama saya mengambil studi kasus water quality yaitu Tarusan Kamang di daerah Gadut kecamatan Tilatang Kamang Sumaera Barat. alasan saya mengambil kasus ini karena danau yang terletak ditengah bukit dan sawah ini memiliki keunikan. pada saat musim panas danau tersebut akan berair sedangkan pada saat musim hujan danau tersebut kan kering hingga berubah menjadi hamparan tanah lapang. sekian dari saya, terimakasih atas waktu yang telah bapak luangkan untuk membaca hasil quiz saya ini.

16 05 2016
Andika Yudianto (11:58:43) :

Selamat Pagi Pak, saya Andika Yudianto (A44140029) mahasiswa Pengantar Ekologi Lanskap. Saya memiliki sebuah gagasan yag berkaitan dengan tugas yang Bapak berikan. Saya berfikiran untuk memiliki riset dalam bidang kesesuaian lahan, lebih tepatnya pada penanaman karet di Provinsi Lampung. Dengan mengandalkan teknologi yang ada, saya ingin melakukan mapping lahan yang sesuai dan produktif untuk berkebun karet. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi mengambil beberapa peta dari fasilitas pengindraan jarak jauh, dalam hal ini satelit, seperti peta drainase, peta kesesuaian lahan pertanian, peta ekologi satwa dan fauna, serta peta topografi untuk kemudian disatukan bersama basemap Provinsi Lampung. Analisis yang saya laksanakan adalah, dengan adanya peta-peta yang diunduh diatas, saya ingin merumuskan dan menemukan tempat-tempat yang baik secara ekonomi dan ekologi untuk lahan karet. Dengan ini, masalah yang dapat dihindari adalah degradasi dan alih fungsi lahan dari sawah ke perkebunan karet maupun merambahnya fasad kota ke daerah berpotensi tanam. Hal ini akan membuat wajah Provinsi Lampung lebih tertata dan lebih rapi.

16 05 2016
Muthia Yolandha (A44140036) (12:31:11) :

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
Nama saya Muthia Yolandha  (A44140036) ARL 51.
Saya ingin membahas studi kasus tentang Menurunnya Popolasi Gajah di Riau (Sumatera).

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu subspecies gajah yang ada di Asia dan hanya terdapat di Pulau Sumatra. Gajah Sumatera dikategorikan sebagai species terancam punah. Kelangsungan hidup gajah sumatera sangat tergantung pada pengelolaan habitat yang mencakup pengontrolan dan pengaturan terhadap vegetasi hutan, tempat terbuka, sumber-sumber air, dan tempat tidur. Populasi Gajah Sumatera telah menurun secara dramatis oleh karena hilangnya habitat dan degradasi lahan akibat makin meluasnya pemukiman manusia dan pengembangan perkebunan berskala besar. Habitat Gajah Sumatera telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif. Daerah jelajah yang sempit mengakibatkan berkurangnya gajah dalam mencari makan. Gajah mempunyai daerah jelajah yang meliputi berbagai tipe ekosistem hutan yaitu hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan gambut, dan hutan hujan dataran pegunungan.

Kondisi hutan dan lingkungan di Riau yang semakin rusak  maka habitat gajah juga termasuk dalam lingkungan di mana manusia bertempat tinggal. Hutan bagian dari lingkungan merupakan habitat berbagai satwa dan flora sebagai sumber pakan bagi satwa. Pengurangan habitat gajah secara nyata ini karena berubahnya habitat gajah menjadi perkebunan monokultur (sawit dan karet) yang telah menggusur habitat Gajah Sumatera di hutan Riau. Selain itu, hal ini juga telah membuat gajah terjebak dalam blok- blok kecil hutan yang tidak cukup untuk menyokong kehidupan gajah untuk jangka  panjang. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meluasnya lahan pertanian serta meningkatnya pembangunan di segala sektor, sering muncul masalah gangguan satwa liar terhadap pemukiman, perkebunan dan perladangan masyarakat di Riau. Gangguan tersebut terjadi akibat dari perencanaan dan penggunaan tata ruang wilayah yang tidak mempertimbangan habitat satwa liar sebagai faktor penyanggga lingkungan hidup.

Saya menganalisis studi kasus ini karena problema-problema seperti inilah yang mengharuskan adanya upaya konservasi untuk menghindari kepunahan yang lebih berlanjut. Tekanan terhadap kawasan hutan untuk dikonversi menjadi fungsi lain seperti pemukiman, perkebunan dan aktivitas ekonomi lainnya telah mengakibatkan luas kawasan hutan terus merosot. Kondisi inilah yang mengakibatkan habitat satwa terus berkurang. Selanjutnya, satwa tersebut terpaksa harus keluar dari habitatnya untuk mencari makanan demi mempertahankan hidupnya dan akan berhadapan dengan masyarakat pemilik kebun-kebun yang dirusak.

Terima kasih.

16 05 2016
Allya Akmelina (12:33:49) :

Selamat siang Bapak Kaswanto, saya Allya Akmelina ARL 51 ( A44140006). Case study yang saya pilih untuk dianalisis adalah water quality yaitu pada sungai ciliwung. Seperti yang sudah kita ketahui sendiri, bahwa air merupakan sumber kehidupan namun pada badan air itu sendiri sudah banyak yang mengalami pencemaran baik karena limbah industri ataupun limbah rumah tangga baik berupa bahan organik sampai bahan anorganik. Sungai ciliwung memiliki kualitas air yang sangat mengkhawatirkan dan menurut Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan dari sembilan sungai di Pulau Jawa, Sungai Ciliwung menempati urutan pertama sebagai daerah aliran sungai terburuk. Dalam kurun waktu 10 tahun terjadi pengurangan tanah basah di DAS Cili- wung sebesar 14 % dan Indeks Kualitas Air (IKA) Sungai Ciliwung mengalami penurunan 33.38%. Sudah dapat dipastikan air sungai ciliwung sudah tidak sesuai lagi dengan baku mutu peruntukannya yaitu untuk air minum, perikanan, pertanian dan usaha perkotaan lainnya. Menganalisis water quality di sungai ciliwung perlu dilakukan karena keberadaan kualitas air yang baik dapat menopang keseimbangan ekosistem, terlebih lagi kegunaan awal dari sungai ciliwung itu sendiri adalah sebagai sumber baku air minum PDAM Bogor dan PDAM Pejompongan Jakarta serta sebagai aliran drainase.
Sekian dan Terima kasih

16 05 2016
kaswanto (16:14:10) :

Great!!

16 05 2016
kaswanto (16:14:25) :

Bagus Sekali!!

16 05 2016
Amira Syafriana (18:26:45) :

Salam sejahtera.
Saya Amira Syafriana (A44140016) mahasiswi Arsitektur Lanskap 51. Study Case yang saya ambil untuk materi Meso Scale Landscape Ecology adalah UHI (urban heat island) di kawasan Bogor. Menurut saya, kota Bogor sudah mengalami banyak perubahan 10 tahun terakhir ini akibat maraknya pembangunan yang meminimalisir lahan hijau dan semakin hari frekuensi pembangunan semakin meningkat. Sebagai warga Bogor, saya merasakan betul perubahan itu. Yang pada awalnya beberapa tahun lalu udara pagi Bogor masih terasa sangat dingin sehingga membuat masyarakat di dalamnya mengenakan jaket, atau udara Bogor yang terasa sejuk dari sore hingga malam hari. Namun beberapa tahun belakangan ini, Bogor tidak lagi sesejuk biasanya. Dinginnya udara pagi Bogor tidak dapat berlangsung lama, apalagi saat siang hari panasnya matahari terasa sangat terik, hampir serupa dengan Jakarta. Fenomena UHI di Bogor ini terjadi akibat adanya perubahan tata guna lahan dari daerah bervegetasi menjadi bangunan, jalan dan permukaan yang menyimpan panas pada siang hari lalu melepaskannya secara perlahan pada malam hari sehingga membuatnya lebih panas dari daerah sekitarnya. Apabila dilihat dari sudut pandang antropologi atau ekonomi, pembangunan ini bernilai positif karena menguntungkan masyarakat. Namun dari sisi Ekologi Lanskap, pembangunan yang merubah tata guna lahan hijau bernilai negatif karena dampaknya sangat besar dan merugikan lingkungan sekitar meskipun secara perlahan. Case Study ini menurut saya menarik karena solusi dari problematika kasus ini harus dapat menyeimbangkan banyak sisi pandang.

16 05 2016
Reza Istajib (A44140075) (18:28:08) :

Assalamualaikum bapak Kaswanto, perkenalkan nama saya Reza Istajib mahasiswa ARL angkatan 51.

Mengenai quiz mengenai materi Meso scale landscape ecology, saya ingin mengangkat studi kasus tentang pertumbuhan pembangunan di kota Purwokerto.
Kota Purwokerto merupakan kota kampung halaman saya, dimana kota tersebut merupakan kota yang sedang berkembang. Banyak sekali proyek yang sedang berjalan disana, seperti pembangunan supermarket dan perumahan. Saya ingin mengetahui bagaimana tingkat pertumbuhan kota tersebut, dan berusaha menjaga ruang terbuka hijaunya tetap ada dan saling terhubung, serta mengurangi tingkat fragmentasi yang terjadi. Sehingga pertumbuhan kota Purwokerto masih pada taraf aman dari kerusakan lanskap dan ekologi yang terjadi.

Terimakasih atas ilmu dan wawasan yang sudah bapak bagikan kepada kami semua
Wassalamualaikum wr wb

16 05 2016
Irfan Aufar Azmi (18:37:44) :

Saya Irfan Aufar Azmi (A44140084) mahasiswa Arsitektur Lanskap 51. Study Case yang saya ambil untuk materi Meso Scale Landscape Ecology adalah Pengaruh perubahan tataguna lahan terhadap efektivitas banjir kanal barat. Banjir Kanal Barat (BKB) merupakan upaya pemerintah DKI Jakarta dalam menanggulangi masalah banjir di DKI Jakarta. BKB di desain untuk dapat mengalirkan debit banjir 100 tahunan yang datang dari sungai Ciliwung, kalikali kecil dan beberapa stasiun pompa. Sungai Ciliwung yang berperan besar menyuplai debit aliran ke BKB sangat tergantung pada tata guna lahannya. Perubahan tata guna lahan yang terjadi saat ini di sepanjang DAS sungai Ciliwung diduga sebagai salah satu faktor penyebab banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta selain faktor internal BKB sendiri seperti bantaran BKB yang dijadikan sebagai tempat hunian dan kegiatan manusia, BKB sebagai tempat pembuangan sampah, pendangkalan saluran akibat sedimentasi dan lain sebagainya.

Dengan kapasitas saluran BKB saat ini berdasarkan Masterplan for Drainage and Flood Control of Jakarta yang didesain oleh NEDECO pada tahun 1973 apakah BKB masih cukup efektif menanggulangi masalah banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta dengan adanya perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai Ciliwung.

Analisa efektifitas BKB didasarkan pada data curah hujan BMG Pusat dan data tata guna lahan DAS sungai Ciliwung pda tahun 1982 sampai dengan 2012 dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SMADA dan HECRAS. Dari analisa didapat bahwa intensitas curah hujan mengalami peningkatan serta tata guna di daerah hulu mengalami perubahan penurunan daya serap. Untuk saat ini BKB kurang efektif lagi mengatasi banjir di DKI Jakarta.

16 05 2016
Nurul Febrizqa Jevany (A44140005) (18:43:13) :

Assalamualaikum , Selamat Malam Pak Kaswanto. Saya Nurul Febrizqa Jevany ARL 51 dengan NIM A44140005.

Mengenai kuis dengan materi Meso Scale Landscape Ecology, saya mengangkat studi kasus tentang Water Quality di Danau Toba, Sumatera Utara. Danau Toba adalah salah satu danau terbesar di Indonesia. Danau Toba memiliki kondisi udara yang sangat sejuk dan segar, dan dulu kualitas airnya sangat bagus, namun dengan perkembangan zaman saat ini, banyak pembangunan yang dilakukan disekitar danau menyebabkan air danau tercemar dan juga semakin besarnya perdagangan yang dilakukan di sekitar danau. Adanya banyak anak kecil yang bermain tangkap koin di dalam danau yang menyebabkan tercemar danau. Namun beberapa waktu kemarin ada seorang peniliti dari Australia yang mencoba membudidayakan Eceng Gondok pada satu titik tertentu di danau, yang memberikan efek positif terhadap kualitas air danau. Sampai saat ini peniliti tersebut masih melanjutkan penilitiaannya.

Terimakasih Pak atas bimbingan Bapak yang memperluas wawasan kami.
Wassalamualaikum , Selamat Malam

16 05 2016
Ranti Nabila D. (18:52:13) :

Selamat malam Bapak Kaswanto. Perkenalkan nama saya Ranti Nabila Dhiyandini NIM A44140066. Case Study yang ingin saya analisa adalah masalah kualitas air. Lokasi yang diambil berasal dari tempat tinggal saya yaitu sungai Ciliwung, Bogor. Air sungai Ciliwung yang melewati kota Bogor telah mengalami penurunan kualitas sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber air yang memenuhi standar kelas I,II dan III dimana kelas tersebut mempunyai nilai kisaran total coliform sebesar 1.000-10.000 koloni/ml, pH 6-9, DO 6 mg/l, BOD 2-6 mg/l dan suhu 200C- 300C yang ditetapkan dalam PP No.82 Tahun 2001. Penurunan kualitas air sungai Ciliwung kota Bogor disebabkan oleh beberapa faktor. Namun, yang lebih dominan yaitu diakibatkan berbagai aktifitas masyarakat seperti pertanian, peternakan, perindustrian, pasar dan penggunaan air sungai Ciliwung sebagai tempat mandi,membuang hajat,mencuci dan membuang sampah. Menurut data tahun 2000, di DAS sungai Ciliwung terdapat sawah seluas 26.700 ha yang ditanami sepanjang tahun yang pada umumnya berpola tanaman (cropping pattern) padi-palawija-padi. Ada pula limbah organik yang berasal dari sisa buangan rumah tangga yang dapat menurunkan oksigen terlarut yang terkandung pada suatu perairan. Selain itu, terdapat kegiatan perdagangan (pasar) yang berlokasi dan beraktifitas di bantaran sungai Ciliwung, Bogor. Limbah hasil perdagangan dapat menyebabkan kerusakan pada badan air berupa perubahan nilai BOD, pH, suspended solid, settleable solid, minyak dan lemak,amoniak, urea, fosfor, warna, jumlah coli, bahan beracun dan kekeruhan. Kemudian, adanya industri yang berlokasi dan beraktifitas di bantaran sungai Ciliwung pun akan berpengaruh terhadap tingkat pencemaran sungai. Menurut data statistik di Kota Bogor terdapat sejumlah industri yang berpotensi sebagai sumber pencemaran DAS sungai Cilliwung Kota Bogor. Sementara, di daerah hulu terdapat 44 industri yang berpotensi menimbulkan beban pencemaran pada DAS sungai Ciliwung.
Melihat hal tersebut, perlu diadakannya sosialisasi dan penegakan aturan yang tegas terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai Ciliwung guna mengurangi pencemaran air yang terjadi.

16 05 2016
Lupita Rachma (18:56:23) :

Selamat malam Pak Kaswanto. saya Lupita Rachma, NIM A44140033. saya mengambil salah satu case study yaitu water quality dan lokasi yang di analisis adalah kota Cilegon yang notabenenya adalah kota dengan aktifitas industri baja terbesar di Asia Tenggara. Water Quality pada studi kasus ini berfokus pada Waduk Nadra Kerenceng yang merupakan penampungan air dari sungai Rawa Danau dan DAS Cidanau. Waduk ini merupakan pasokan utama air bagi warga di permukiman dan airnya digunakan untuk beragam aktivitas seperti MCK.
Keberadaan pabrik-pabrik baja dengan limbah cairnya tentu berdampak pada kualitas air di Waduk Nadra Kerenceng. Pengembangan studi kasus ini bertujuan untuk melihat sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh limbah industri bagi kualitas air di daerah ini, serta diketahui seberapa dalam sumur galian yang sesuai dan aman bagi warga di permukiman untuk agar mendapatkan air yang tidak tercemar.
Sekian, Terima Kasih.

16 05 2016
Muhamad ABdurahman (18:57:30) :

Assalamualaikum
Selamat sore Bapak Kaswanto , saya muhamad abdurahman A44140045 dari arl 51. kasus yang akan saya bawakan adalah wilayah pinggir kota yang dijadikan perumahan kumuh oleh imigran didaerah pinggir jalur kereta di kawasan tangerang sampai duri. pada kasus ini warga yang pendatang dari daerah datang dengan mendirikan perumahan yang mungkin ilegal dengan tidak memerhatikan lingkungan sekitar sehingga cukup banyak ruang yang harusnya bisa dimanfaatkan sebagi ruang terbuka hijau. masalah ini sudah berlarut larut terjadi tanpa tindak tegas dari pihak berwenang akibatnya wilayah yang kumuh dan kotor . kasus ini saya bahas karena seharunya warga yang imigran tersebut harusnya dialokaskan atau bahkan bisa dipulangkan kedaerah asalnya karena hal ini sangat merugikan . sebuah ironi bahwa ditengah kota yang megah dan besar seperti ibukota jakarta ini ada wilayah yang kotor dan tidak sesuai dengan alam. seharunya wilayah tersebut bisa dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau dan bahakan bisa dijadikan ruang terbuka biru . sekian kasus yang saya bahas terimakasih. :)

16 05 2016
Kannia Reffrizal Putri (A44140039) (19:05:20) :

Selamat malam Pak Kaswanto,saya Kannia Reffrizal Putri (A44140039) ARL 51. Saat ini saya akan memilih salah satu case studies yakni AEZ (Agro Ecological Zone) untuk saya analisis yakni tentang DAS yang berada di Kabupaten Cianjur,Jawa Barat. Kenapa saya memilih DAS yang berada di daerah Cianjur? Hal ini akan saya jabarkan seperti berikut. Di Kabupaten Cianjur terdapat banyak sungai terbagi dalam dua bagian Daerah Aliran Sungai (DAS), yakni DAS Citarum dan DAS Cibuni-Cilaki. Sungai Citarum merupakan sungai utama yang mengalir ke bagian Utara dengan beberapa anak sungainya di Kabupaten Cianjur antara lain Sungai Cibebet, Sungai Cikundul, Sungai Cibalagung dan Sungai Cisokan. Sungai Citarum melintasi beberapa kecamatan mulai dari kecamatan Bojongpicung yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat sampai dengan Kecamatan Cikalongkulon yang berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta. Di beberapa daerah, air mengalir sepanjang tahun karena curah hujan cukup tinggi, sehingga pada musim kemarau tidak terlihat adanya kekeringan. Sungai-sungai yang mengalir mempunyai pola dendritik.
Kondisi kualitas air sungai di Kabupaten Cianjur belum mengalami pencemaran berat karena tidak adanya industri dengan skala besar. Namun tidak sedikit sungai yang telah tercemar limbah domestik dari rumah tangga. Hal ini dapat dilihat dari indikator bakteri E. Coli di berbagai sungai di wilayah Cianjur utara, tengah, maupun selatan. Hal ini akan berdampak pada keanekaragaman hayati di Kabupaten Cianjur akibat penurunan kualitas dan kuantitas air di daerah tersebut. Air merupakan kebutuhan utama bagi makhluk hidup. Jika kondisi air buruk, maka kehidupan alam, terutama biota perairan akan terancam. Apabila kehidupan perairan terganggu, maka sektor perikanan di darat maupun laut juga akan terganggu. Hal ini dapat berarti menurunnya hasil tangkapan maupun kualitas hasil tangkapan. Selain itu, kesejahteraan masyarakat, terutama kesehatan juga dapat terganggu akibat penurunan kualitas dan kuantitas air bersih.
Waduk Cirata merupakan salah satu yang membendung Sungai Citarum yang digunakan sebagai sumber air permukaan/penampung air yang dapat dimanfatkan sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas kurang lebih 550 MW jam/rahun dan juga dimanfaatkan sebagai pengembangan budidaya perikanan darat dan pariwisata. Selain itu terdapat zona mata air dengan ketinggian sekitar 400-1000 mdpl. Zona mata air ini berpotensi terutama pada lereng bagian Timur Gunung Gede. Sebagian besar resapan air hujan yang ditampung oleh Gunung Wayang bagian Barat, Gunung Sembul dan Gunung Simpang bagian selayan, Gunung Kuda bagian selatan dan lereng-lereng bukit bagian selatan, serta dataran tinggi Sukanagara – Campaka menimbulkan sejumlah zona mata air yang sebagian bersifat permanen dan semi permanen mata air musiman.
Selanjutnya adalah DAS Ci Buni Cikali yang merupakan potensi sumber daya air yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan oleh penduduk seperti untuk dikonsumsi,irigasi dan lain lain. Hulu sungai yang terletak di kecamatan Pagelaran beberapa kecamatan, dari mulai kecamatan Pagelaran, Tanggeung,kandupandek,Agrabinta dan berakhir di kecamatan Sindangbarang dengan panjang sekitar 127 km. Sungai ini bermuara di Laut Selatan atau Samudera Hindia atau laut Indonesia.

Terima kasih Bapak Dr. Kaswanto.

16 05 2016
Danar Panji Wicaksono (A44140069) (19:06:47) :

Assalamualaikum wr wb, Selamat Malam Pak. Saya Danar Panji Wicaksono Mahasiswa Pengantar Ekologi Lanskap NIM A44140069 ARL 51.

Saya Mengangkat studi kasus water quality di sungai ciliwung. Sungai Ciliwung adalah sungai yang menjadi sumber air untuk pertanian di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Sungai ini juga memiliki bangunan yang memiliki fungsi irigasi. Sungai ini dulunya ingin dijasikan saran transportasi tetapi tidak jadi jadi karena adanya banyak kendala seperti banyak ada sedimentasi di aliran dan juga karena semakin rusaknya kualitas air sungai sejak meletusnya Gunung Salak ,akibat semakin banyak pembangunan pabrik-pabrik, keberadaan kebun teh dan juga karena kurangnya perawatan dan pengelolaan sungai.

Sekian , Terimakasih atas bimbingannya Pak.
Wassalamualikum wr wb. Selamat Malam

16 05 2016
sarah aulia sahelna (A44140054) (19:14:50) :

Sarah Aulia Sahelna (A44140054)
Selamat malam pak, Case studies yang saya bahas ini berada di Kota Palembang tepatnya di sungai musi Sungai yang membelah kota Palembang itu ternyata tercemar limbah yang didominasi limbah rumah tangga, dan sisanya limbah industri. Data yang disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel menyebutkan, sekitar 70 persen air Sungai Musi tercemar limbah rumah tangga, sedangkan sisanya 30 persen tercemar limbah perusahaan atau industri. Saat ini kualitas air Sungai Musi, yang menjadi bahan baku air Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi itu, terus mengarah ke standar kelas II. Terus menurunnya kualitas air Sungai Musi akibat terus terjadinya pencemaran baik itu dari limbah industri, khususnya rumah tangga (RT). Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Palembang, mengatakan, sesuai standard yang ditetapkan, PH air sungai sekitar 0-9. Sedangkan PH air sungai musi saat ini sekitar 6,3-7. Memang, saat ini air Sungai Musi masih masuk kelas I, artinya airnya masih layak buat dijadikan bahan baku minum. Namun, bila pencemaran dibiarkan terus terjadi, dikhawatirkan kualitas air sungai Musi turun ke kelas II.Selain di Sungai Musi, air anak sungai Musi di antaranya sungai Bendung, Sekanak, Aur, Buah, Kramasan dan Ogan juga terkandungan zat berbahaya dalam air tersebut. Hasilnya sangat mengejutkan, 9 dari 10 anak sungai Musi yang airnya diteliti ternyata kualitas baku mutu sungai terus menurun. Dengan kata lain, terjadi kenaikan kenaikan kadar kandungan zat berbahaya. Dampak lainnya adalah berpengaruh pada kesehatan masyarakat setempat yang menimbulkan bibit penyakit akibat dari penggunaan langsung air tersebut.

16 05 2016
aldi ahmad rainaldi (19:16:08) :

Selamat malam Bapak Kaswanto, saya Aldi Ahmad Rainaldi ARL 51 ( A44140010). Case study yang saya pilih untuk dianalisis adalah perkembangan kualitas air di Sungai Cimanuk, Garut. Sungai Cimanuk merupakan salah satu DAS yang bermuara ke Kabupaten Indramayu. Sungai tersebut menjadi sumber air PAM didaerah Garut. seiring perkembangan waktu, kualitas air sungai tersebut kian menurun. ni bisa diketahui berdasar hasil pengukuran dilakukan terhadap aliran sungai Cimanuk pada tiga titik, mulai arah hulu di kawasan Kecamatan Bayongbong, tengah di kawasan Copong Kecamatan Garut Kota, dan hilir di kawasan Sasak Beusi Cibatu. perubahan tersebut disebabkan oleh limbah domestik rumah tangga yang mencapai 60%. Hal tersebut diutarakan oleh Kepala Seksi Penataan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) kabupaten setempat, Solih. bila hal tersebut tidak ditangani, sungai tersebut dapat kehilangan fungsinya sebagai pengairan dan pemenuhan kebutuhan khalayak umum.
sekian dan terima kasih

16 05 2016
Tsara Nuha Apsari (19:18:06) :

Selamat malam,
Saya Tsara Nuha Apsari (A44140022) mahasiswi Arsitektur Lanskap 51. Studi kasus yang akan saya bahas dari materi Meso Scale Landscape Ecology adalah water quality. Salah satu kasus ini yaitu pada DAS Ciliwung. Secara umum, DAS Ciliwung telah mengalami degradasi secara kualitas dan kuantitas. Kualitas DAS Ciliwung sudah memburuk dan menyatakan kondisi tercemar. Kuantitas DAS Ciliwung sudah tidak memiliki debit yang mantap. Sampah padat dan limbah cair merupakan faktor utama pencemar DAS ini. Hal ini disebabkan juga oleh minimnya kesadaran masyarakat dan tidak terlayaninya prasarana dan sarana serta tidak diberlakukannya hukum secara tegas. Kuantitas DAS Ciliwung saat ini fluktuatif, karena hulu DAS yang mengalami kerusakan parah akibat tutupan lahan dan daerah resapan yang berkurang. Perlu dilakukan pencegahan terjadinya pencemaran lebih lanjut dengan cara mengonservasi hulu DAS, penghijauan kembali lahan, serta kesadaran akan lingkungan pada setiap individu. DAS Ciliwung merupakan sumber air utama untuk wilayah ibukota DKI Jakarta. Oleh karena itu, DAS Ciliwung perlu diperhatikan kualitas serta kuantitasnya karena menyangkut kehidupan sebagian besar masyarakat.

16 05 2016
Aprilia Rizky S. (19:19:13) :

Nama : Aprilia Rizky Subagya
NIM : A44140023
Contoh studi kasus kegiatan penelitian bidang arsitektur lanskap pada skala meso yaitu penelitian tentang perubahan fungsi sempadan sungai di suatu wilayah dalam jangka waktu lima tahun terakhir. Menurut sejarah, dahulu sungai merupakan bagian dari sistem transportasi yang sangat vital terutama bagi fungsi perdagangan. Perubahan zaman mempengaruhi perubahan fungsi sungai, saat ini sebagian masyarakat menganggap sungai adalah tempat pembuangan limbah terutama pada kawasan perkotaan. Sebagian permasalahan yang dihadapi pada hampir seluruh kota di Indonesia adalah permasalahan kawasan sempadan sungai kota, permasalahan yang terjadi antara lain alih fungsi penggunaan lahan sempadan sungai. Lokasi penelitian tersebut berada di Bogor, tepatnya di kecamatan CIsarua. Alasan memilih penelitian ini terkait dengan teori ekologi lanskap yaitu dinamika suatu wilayah. Perubahan fungsi sempadan sungai menunjukkan suatu “perbedaan” yang merupakan unsur yang penting dalam mengetahui proses dinamika itu sendiri. Perbedaan tersebut meliputi identitas dan historisnya. “Identitas” menjadi acuan dalam melihat proses dinamika, identitas ini dapat berupa karakteristik wilayah tersebut meliputi ciri fisik (kondisi wilayah tersebut) dan non fisik (sosial, ekonomi dan budaya). Selanjutnya, “Historis” proses dinamika selalu bersifat historis karena terkait dengan satuan waktu yang berbeda.

16 05 2016
Novia Dilla P (19:22:10) :

Selamat malam pak. Saya Novia Dilla Putri Mitha (A44140003). Terkait dengan quiz yang bapak berikan, case study yang ingin saya analisis adalah sebaran titik rawan longsor. Lokasi analisis ini berada di daerah tempat tinggal saya yaitu Bogor. Saya memilih lokasi ini, karena Bogor adalah daerah yang mengalami intensitas longsor lumayan tinggi. titik lokasi yang rawan longsor adalah jurang dekat sungai. Dampak dari longsor salah satunya mencemarkan air sungai, mengganggu kehidupan tanaman disekitarnya, dan membahayakan manusia. Sehingga perlu dilakukan analisis titik rawan longsor di Bogor, agar dalam melakukan perencanaan kita bisa mengetahui titik rawan longsor dan dapat menanggulanginya. Teknik yang saya lakukan dalam analisis ini mengambil dengan pengindraan jarak jauh dengan mengamati kemiringan lereng , sebaran jenis tanah, dan sistem hidrologi. Perpaduan ketiganya akan memberikan kesimpulan titik tersebut rawan longsor atau tidak.
Demikian jawaban quiz yang saya berikan. Mohon maaf atas segala kekurangan. Terimakasih.

16 05 2016
Echa Fadhila (19:28:43) :

Selamat malam Pak, saya Echa Fadhila Rahmawati dari ARL 51 dengan NIM: A44140026. Pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang LUCC yang terjadi pada daerah sekitar sungai Kalimalang kota Bekasi. Saya memilih daerah tersebut karena daerah tersebut merupakan daerah yang dekat dengan tempat tinggal saya. Menurut analisis saya selama ini, pada zaman dahulu sekitar tahun 2000an, sungai kalimalang ini tidak memiliki beban yang berat karena terdapat daerah bantaran sungai yang dapat dijadikan tempat mengalirnya air saat air sungai meluap, namun saat ini sungai kalimalang memiliki beban yang berat. Hal tersebut karena terjadinya pembangunan yang pesat pada kedua sisi sungai. Pertambahan pendudukpun meningkat. Area bantaran sungai pun yang dahulu ada kini sudah berubah menjadi jalan raya besar. Setelah pembangunan jalan raya inilah yang memperburuk penggunaan tataguna lahan di daerah tersebut. Hal tersebut membuat pembangunan perumahan yang pesat yang merupakan penyebab dari pembangunan mal2 shopping centre dan hotel di daerah Bekasi. Dengan terjadinya hal2 tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan tataguna lahan yang pesat terjadi di daerah tersebut.

16 05 2016
Rofifah Aulia Suyitno (19:50:06) :

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya Rofifah Aulia Suyitno (A44140080) dari departemen Arsitektur Lanskap angkatan 51. Saya akan menjelaskan case study mengenai WQI di Tempat Pembuangan Sampah Cilowong, Serang. Saya memilih case study ini karena pada tahun 2012 lalu telah dilakukan uji laboratorium sample air pada Sumur Pantau dan sungai yang berada di sekitar TPSA. Dari hasil uji laboratorium, terbukti bahwa Sumur Pantau dan sungai memiliki kandungan pencemaran yang parameternya melampaui baku mutu. Namun, kandungan pencemaran pada air sungai tergolong lebih tinggi karena tidak melalui filter.
Berdasarkan hasil uji laboratorium tersebut, saya merasa bahwa persoalan limbah sampah di Cilowong harus segera di kelola dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif yang semakin menumpuk. Lingkungan yang telah tercemar oleh limbah terutama pada sungai akan berakibat buruk bagi ekosistem sungai dan manusia yang menggunakan air sungai sebagai sumber air utama. Pencemaran air oleh sampah pada TPSA akan menimbulkan gangguan kesehatan apabila air dan ikan yang berasal dari sungai digunakan secara terus menerus. Pengolahan lingkungan dan pengolahan sampah pada area TPSA adalah langkah utama dalam mengatasi peningkatan tingkat pencemaran.
Pengolahan lingkungan dapat dilakukan dengan metode fitoremediasi. Metode ini menggunakan media tanaman sebagai penyerap, pendegradasi serta pengimbolisasian bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik atau anorganik. Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan pengumpulan, pengangkutan dan daur ulang. Pengelolaan sampah dilakukan untuk mengurangi dampak bagi kesehatan dan memulihkan sumber daya alam. Pengolahan sampah membutuhkan metode yang berbeda. Metode pengelolaan sampah tergantung pada tipe zat sampah, lahan yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan lahan.
Sekian penjelasan yang dapat saya berikan, mohon maaf apabila terdapat sesalahan dalam penulisan. Terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

16 05 2016
Marisa Ghassani (20:12:28) :

Selamat malam Pak Kaswanto. Nama saya Marisa Ghassani A44140059. Case study yang menarik bagi saya yaitu “Land Fragmentation & Degradation and Citizen Health Level Analysis in Jakarta”

Jakarta adalah salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat degradasi dan fragmentasi lahan yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa Jakarta sebagai pusat seluruh kegiatan, baik itu pemerintahan, ekonomi, politik, maupun budaya. Infrastruktur untuk mendukung seluruh kegiatan tersebut terus mengalami pertumbuhan dan perluasan seiring berjalannya waktu. Sawah-sawah dan ruang terbuka hijau lainnya yang dahulu terlihat sebagai matriks kini hanya berupa patches yang kecil dan jumlah sedikit, begitu pula sungai dan ruang terbuka biru lainnya sebagai koridor. Padahal, Jakarta merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi yang membutuhkan air dan udara dengan kualitas yang baik dan kuantitas yang cukup untuk menjamin kesehatan mereka. Namun, dengan tingginya tingkat fragmentasi dan degradasi lahan, RTB dan RTH sebagai pemasok dan pengalir air dan udara mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Tingkat kesehatan penduduk ibukota dikhawatirkan turun jika kondisi ini terus berlanjut. Metodologi yang dapat dilakukan untuk menganalisis kasus ini yaitu dengan data dari remote sensing dan data sekunder sebagai referensi untuk melihat perubahan lahan akibat fragmentasi dan degradasi, dan membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya ketika tingkat fragmentasi dan degradasi masih rendah. Selain itu diperlukan juga data kesehatan penduduk dari beberapa sampel di wilayah Jakarta dan membandingkannya seperti pada langkah sebelumnya. Maka, akan didapatkan hasil berupa perubahan tingkat kesehatan penduduk akibat fragmentasi dan degradasi lahan dari tahun ke tahun.
Sekian dari saya dan terima kasih atas materi yang telah Bapak sampaikan.

16 05 2016
Puti Zahra H.R. (20:20:38) :

Selamat malam pak, saya Puti Zahra Hadian Raudah (A44140081). Studi kasus yang ingin saya bahas tentang perubahan penggunaan lahan. Daerah yang akan saya jadikan contoh adalah di suatu perumahan di daerah tangerang selatan. Dulunya terdapat danau di tengah perumahan ini. Danau tersebut bersih dan terawat. Lingkungan di dalam perumahan tersebut asri dan nyaman. Danau tersebut juga digunakan untuk menampung air hujan. Satu tahun yang lalu saya berkunjung lagi ketempat tersebut setelah sekian lama saya tidak berkunjung dan terdapat perubahan yang signifikan. Danau yang berada di perumahan tersebut sudah ditimbun dengan tanah. Tanah tersebut nantinya akan dijadikan lahan baru untuk membangun rumah di perumahan tersebut. Terjadi perumbahan penggunaan lahan yang sebelumnya adalah danau yang digunakan untuk menampung air kini menjadi tanah yang akan dibangun lebih banyak rumah. Hal ini kemungkinan terjadi karena pertambahan penduduk yang membutuhkan tempat tinggal sehingga fungsi danau di ganti menjadi tempat tinggal. Sekian jawaban quiz saya, atas perhatian bapak saya ucapkan terimakasih.

16 05 2016
Putti Alya Hassani (20:53:28) :

Selamat malam Pak. Saya Putti Alya Hassani ARL51 (A44140021).
Saya ingin membahas studi kasus mengenai polusi cahaya. Lokasi yang akan saya analisis terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di lokasi ini terdapat laboratorium astronomi yang terkenal yaitu Observatorium Bosscha. Namun, saat ini pengamatan langit malam di Lembang terganggu karena adanya polusi cahaya dari permukiman penduduk dan pusat bisnis di sekitarnya. Selain menghalangi keindahan langit malam dan menyebabkan pemborosan energi, polusi cahaya dapat mengganggu berbagai makhluk hidup, terutama hewan nokturnal. Cahaya buatan yang berlebihan membuat hewan nokturnal kehilangan ekosistem malamnya, gangguan pada night vision, kesulitan mencari makan, serta meningkatkan resiko terekspos oleh predator. Polusi cahaya juga dapat menggangu sistem navigasi, reproduksi, dan growth behaviors baik pada tumbuhan maupun hewan.
Sekian jawaban saya, terima kasih.

16 05 2016
Neviera K P (A44140056) (20:57:47) :

Assalamu’alaikum wr wb. Studi kasus yang saya pilih, yaitu perubahan tata guna lahan di kawasan Kapuk, Jakarta Utara. Awalnya, kawasan Kapuk merupakan kawasan hutan bakau yang terbentang di pantai Utara Jakarta dan dijadikan sebagai hutan lindung. Namun, kawasan tersebut diubah menjadi permukiman, pusat bisnis, rekreasi, dan fungsi serta fasilitas kota lainnya. Hal tersebut mengurangi daya dukung lingkungan. Perubahan fisik lingkungan yang terjadi adalah perubahan siklus hidrologi karena hutan bakau berfungsi sebagai daerah resapan air dan berguna saat musim kemarau. Selain itu, hilangnya hutan bakau sebagai penahan gelombang laut mengakibatkan abrasi pantai. Perubahan topografi juga terjadi akibat pembangunan dan memengaruhi kestabilan tanah. Perubahan dari segi biologi yang terjadi adalah menurunnya keanekaragaman hayati akibat hilangnya habitat. Perubahan lingkungan kimiawi juga terjadi akibat adanya pembuangan limbah yang mengandung logam berat.
Sekian, terima kasih.

16 05 2016
sucia lestari dewi A44140019 (21:12:02) :

Assalamualaikum wr.wb
Saya akan membahas studi kasus mengenai perubahan penggunaan lahan di daerah Babakab Doneng Desa Babakan Kecamatan Dramaga Kabupaten bogor. Di daerah ini terjadi perubahan penggunaan lahan dari landuse persawahan menjadi area permukinan atau kost-kostan. Ini diakibatkan karena area inj dekat dengan kampus IPB yang mengakibatkan mahasiswa pendatabg membutuhkan tempat tinggal. Hal ini mengakibatkan pada berkurangnya ruang terbuka hijau yang berkaitan dengan terganggunya fungsi ekologi lanskap. Akibat dari perubahan penggunaan lahan ini terlihat dari semakin padatnya permukiman di daerah Babakan Doneng.
Kondisi Babakan Doneng saat ini sangat padat dan terlihat sesak akibat ruang terbuka hijau di daerah ini sangat sedikit. Seiring berjalannya waktu ruang terbuka hijau di daerah ini akan habis akibat dari alih fungsi lahan. Proses ini akibat dari adanya perubahan ruang dan waktu di daerah ini. Jika hal ini tidak diatasi , maka kualitas ekologinya menurun seperti pasokan O2 menurun.
Terima kasih
Wassalamualaikum

16 05 2016
Nur Ainun Afifah Harahap (A44140009) (21:14:21) :

Studi Kasus: Analisis Habitat dan Spesies Satwa Burung pada Lanskap Wisata Alami di Kota Bandung
Lokasi: Taman Hutan Raya Juanda
Alasan: Taman Hutan Raya Juanda merupakan lanskap alami yang memiliki nilai sejarah serta nilai wisata yang tinggi di Kota Bandung. Taman Hutan Raya Juanda memiliki luas sekitar 590 hektar. Kawasan taman hutan ini masih terbilang alami, sejuk, serta terbebas dari polusi. Taman hutan ini memiliki sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 spesies. Banyaknya spesies tanaman ini menjadi habitat tersendiri bagi para satwa liar, terutama burung. Patch di kawasan ini berupa pepohonan dan bangunan. Mosaik dari kawasan ini berupa lanskap perhutanan. Lanskap perhutanan dengan pepohonan yang bervariasi ketinggiannya merupakan kunci dari habitat satwa burung. Keterhubungan antara satu patch pepohonan dengan patch pepohonan lainnya di kawasan taman hutan ini menjadi kunci kayanya spesies burung yang menggunakan kawasan taman hutan ini sebagai habitat. Selain itu, pohon-pohon juga menjadi habitat binatang-binatang lainnya yang menjadi sumber makanan bagi burung. Lanskap perhutanan akan membentuk ekosistem-ekosistem dengan berbagai rantai makanan dimana satwa burung menjadi konsumen dalam rantai makanan tersebut. Oleh karena itu, habitat serta spesies satwa burung di kawasan taman hutan ini penting untuk dianalisis.

16 05 2016
Lala Nila Sari (21:43:48) :

Selamat malam.
Saya Lala Nila Sari NIM A44140007.
Di bawah ini adalah jawaban saya terhadap kuis yang bapak berikan selasa 10 mei 2016
Saya tertarik mengambil case studi LUCC. Lokasi yang ingin saya analisis berada di pulau lombok, tepatnya di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Saya ingin menganalisis perubahan tata guna lahan akibat pembangunan bandara di daerah tersebut. Dulunya daerah pujut di dominasi oleh lahan pertanian. Kemudian dibangunlah bandara di salah satu area pada tahun 2006 dan pembangunannya selesai tahun 2011. Setelah adanya pembangunan bandara internasional, harga jual tanah di sekitar bandara menjadi tinggi. Harga jual tanah bahkan memiliki keuntungan lebih besar dari hasil penjualan produk pertanian. Karena memiliki keuntungan yang lebih tinggi, masyarakat yang memiliki lahan di sekitar bandara rela menjual lahan mereka kepada investor. Dalam beberapa waktu lahan pertanian di sekitar bandara menjadi lahan kosong. Di atas lahan kosong tersebut kini sudah banyak berdiri restoran, penginapan, maupun tempat wisata.
Sekian dan terima kasih.

16 05 2016
PUJI PANGESTI (A44140001) (22:35:23) :

Selamat Malam Pak, case study yang saya bahas adalah kualitas air di Sungai Lematang, Muara Enim-Sumatera Selatan.

Daerah Aliran Sungai Lematang merupakan salah satu anak sungai Musi. Sungai ini menjadi sumber kehidupan pertama warga Muara Enim, Sumatera Selatan. Sungai ini bersifat perennial yang dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi dan topografi sehingga aliran dasar yang berasal dari air tanah cukup tinggi. Aliran dasar ini mendukung aliran sungai pada saat kemarau, kestabilan debit air sungai dipengaruhi kegiatan di sepanjang daerah pengaliran sungai.

Awalnya air di sungai ini sangat jernih dan kualitasnya baik sehingga bisa digunakan oleh warga sekitarnya di kehidupan sehari-hari, namun sekarang sungai ini telah tercemar. Hal ini disebabkan oleh:
a. Peningkatan jumlah aktifitas di bantaran sungai.
Sungai Lematang yang melewati Kecamatan Tanjung Agung – Lawang Kidul melalui banyak aktifitas yang sangat mempengaruhi kondisi sungai seperti pertambangan usaha/kegiatan pertambangan, meningkatnya aktifitas pasar. Hal ini membuat kualitas air menurun, air menjadi keruh dan debit air kecil.
b. Peningkatan produksi sampah.
Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi, jumlah penduduk, dan tingkat kesadaran masyarakat. Sampah banyak bertumpuk di bantaran sungai yang akan membuat kualitas air menjadi tidak baik. Sebenarnya Sungai Lematang ini menjadi sumber kehidupan utama di masyarakat Muara Enim, namun dengan menurunnya kualitas air di daerah ini bisa menyebabkan berbagai macam penyakit yang berpotensi menyerang masyarakat sekitar.
c. Kondisi geologi dan geohidrologi yang ada.
Pemanfaatan sumber daya geologi yang relatif tinggi di Kabupaten Muara Enim ini dikarenakan kondisi alamnya yang ada, sehingga usaha-usaha pertambangan menjadi kegiatan menjadi daya tarik investor. Pembukaan lahan untuk aktifitas pertambangan tentu berdampak pada kualitas dan kuantitas air.

Dari penurunan kualitas air yang telah dirasakan oleh masyarakat sekitar ini, hendaknya Pemerintah mengambil tindakan yang bisa membuat kualitas air menjadi baik kembali dan menerapkan upaya konservasi air Sungai Lematang.

Terima kasih

16 05 2016
Nurfajriah Salsabila (23:17:30) :

Selamat Malam Pak Kaswanto. Saya Nurfajriah Salsabila Arl51 dengan NRP A44140028.

Saya ingin membahas mengenai iklim mikro dalam Kebun Raya Bogor. Semakin tahun, semakin banyak pengunjung yg mengunjungi KRB. Dengan hal itu suhu mikro dalan kebun raya semakin meningkat krn senakin tingginya aktifitas yg dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan zonasi. Zona yg bisa dibuat adalah zona lindung, zona penyangga, dan zona intensif. Zona lindung dan penyangga harus lebih banyak dibanding zona intensif. Hal ini dapat mencegah semakin tingginya suhu mikro dalam KRB, serta tetap membuat KRB lestari dengan aneka ragam tanaman dan pepohonan (tidak dipenuhi pavement dan hal hal yang merusak kealamian dari KRB itu sendiri). Sekiranya hanya itu yg dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf dan terima kasih Pak :)

16 05 2016
Desyana Putri (23:18:13) :

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat malam pak, perkenalkan nama saya Desyana Putri mahasiswi ARL 51.
Mengenai materi tentang meso scale landscape ecology, saya ingin mengangkat studi kasus tentang kualitas air sungai di Bengawan Solo.
Kualitas air sungai Bengawan Solo untuk beberapa parameter telah melebihi ambang batas, hal ini diduga disebabkan karena tingginya pencemaran akibat aktivitas industri dan pertanian. Diperlukannya studi kasus untuk mengetahui kualitas dan kuantitas air sungai Bengawan Solo apakah memenuhi syarat dalam perencanaan pengembangan penyediaan air baku air minum Kota Surakarta hingga beberapa tahun kedepan.
Terimakasih pak atas ilmu yang telah bapak berikan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

16 05 2016
Fikri Lazuardi (23:31:34) :

Selamat malam Bapak Kaswanto, saya Fikri Lazuardi ARL 51 (A44140063) . Saya memilih kasus Land Use And Cover Change pada kawasan rumah saya di Bandung, tepatnya di sekitar daerah Setiabudi – Ledeng (Daerah Tengah). Perubahan Landuse terjadi cepat selama dekade terakhir ini. Kawasan rumah saya dulunya didominasi oleh hutan pinus dan banyak pohon rindang, akan tetapi sekarang area tersebut malah dijadikan banyak perumahan – perumahan besar. Hal tersebut banyak memakan lahan hutan pinus menjadi kosong dan tidak ditanami lagi. Ditambah dengan pembangunan dua apartemen baru sekitar akhir tahun 2015 semakin membuat lahan hijau berkurang dan berdampak negatif seperti berkurangnya daya tangkapan air yang menyebabkan banjir di daerah Hilir atau floodplain. Dari banyaknya pembangunan di kawasan tersebut, saya dapat langsung mendapat efek negatif yaitu pemandangan dari rumah ke luar tertutup oleh gedung apartemen. Saya tertarik membahas kasus LUCC pada daerah Setiabudi-Ledeng Bandung karena ini terkait dengan masalah yang banyak terjadi saat ini di kota – kota besar. Meskipun terdapat dampak positif seperti peningkatan ekonomi, akan tetapi banyak sisi ekologis yang mengalami kerusakan dan terfragmentasi, yang tadinya merupakan sebuah patch besar dengan pinus yang mendominasi, kini hanya tinggal sederetan pepohonan pinus yang mengarahkan jalan.

16 05 2016
Rahmi Maulina (23:38:07) :

Selamat malam Pak, sebelumnya perkenalkan nama saya Rahmi Maulina (A44140017) salah satu mahasiswi ARL yang mengambil mata kuliah Pengantar Ekologi Lanskap. Terkait kuis mengenai meso scale saya tertarik untuk mengangkat kasus mengenai Land Use and Cover Change (LUCC). Lokasinya sendiri berada di daerah sekitar tempat tinggal saya Batusangkar, Sumatera Barat. Lahan yang semula digunakan untuk pertanian seperti sawah dan ladang sudah beralih guna menjadi perumahan dan juga Bank. Tata guna lahan jadi terganggu dan membuat berkurangnya lahan untuk pertanian hal ini tentu dapat membuat berkurangnya lapangan kerja bagi buruh tani. Saya tertarik mengangkat kasus ini agar tidak ada lagi perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan pengurangan ruang terbuka hijau ataupun ruang terbuka biru. Berkurangnya RTH dan RTB dapat menyebabkan berbagai macam masalah seperti banjir, longsor, kekeringan dan lain sebagainya yang akan sangat merugikan bagi manusia. Sekian jawaban yang dapat saya berikan, terima kasih atas materi yang telah Bapak sampaikan, Selamat Malam.

16 05 2016
Zakiya Rahma (A44140032) (23:38:20) :

Perkenalkan saya Zakiya Rahma ARL51 mahasiswa mata kuliah Pengantar Ekologi Lanskap. Studi kasus yang saya ambil contoh adalah penurunan kualitas air.
DAS Gajahwong merupakan salah satu dari sembilan sungai di Provinsi DIY yang telah mengalami penurunan kualitas, karena terkontaminasi oleh limbah (BLH Provinsi DIY, 2012). Pada analisis kuantitas air dengan menggunakan model Mock diperoleh ketersediaan air dalam bentuk debit andalan dengan metode grafis Flow Duration Curve. Panjang data hujan dan data klimatologi yang digunakan selama 12 tahun, mulai dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2012. Penentuan status mutu air sungai dianalisis dengan metode Indeks Pencemaran untuk mengetahui kondisi mutu air, apakah tercemar atau masih baik. Kajian hubungan kuantitas dan kualitas air dapat digambarkan melalui grafik hubungan antara debit dengan parameter kualitas air sehingga dapat diketahui kecenderungan antara perubahan kadar parameter pencemaran dengan debit air pada DAS Gajahwong. Debit andalan DAS Gajahwong hasil dari flow duration curve pada titik pantau di Wonokromo sebesar 0,797 m 3 /s. Kondisi kualitas air sungai pada DAS Gajahwong dari hulu ke hilir telah mengalami penurunan kualitas air dengan status mutu air tercemar sedang. Sepanjang tahun 2007 sampai 2012 terjadi penurunan kadar TDS, TSS, DO, COD, deterjen, minyak dan lemak, dan faecal coliform. Parameter kualitas air yang konsentrasinya meningkat adalah BOD, fosfat, dan total coliform yang menyebabkan kualitas air di DAS Gajahowong menurun. DAS Gajahwong mengalami pencemaran oleh TSS, BOD, COD, fosfat, deterjen, minyak dan lemak, faecal coliform, dan total coliform karena konsentrasinya melebihi ambang batas baku mutu kualitas air kelas II menurut Peraturan Gubernur Provinsi DIY No. 20 Tahun 2008. (referensi http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=70452 )

16 05 2016
Nadia Fatimah Azzahrah(A44140013) (23:41:45) :

Selamat malam pak kaswanto, saya Nadia Fatimah Azzahrah mahasiswa ARL 51(A44140013) ingin mengemukakan suatu studi kasus yang ingin saya teliti. Sebelumnya terima kasih kepada bapak yang sudah memberikan materi tentang Meso Scale dengan baik sehingga saya mudah memahami materinya. Studi yang ingin saya teliti sendiri adalah terkait permasalahan degradasi lahan yang berada di beberapa lokasi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto Balikpapan Kalimantan Timur. Kawasan konservasi yang sempat menjadi kebanggaan pada Pemerintahan Orde Baru ini kian sekarat keadaannya. Timbulnya rumah, warung, lahan pertanian dengan sistem pembakaran kian luas menggantikan pepohonan hijau dan reboisasi yang dulunya wajib ditanam oleh pihak pertambangan. Melihat permasalahan ini dari segi ekologinya, terdapat dinamika waktu dan ruang yang membuat lahan konservasi di beberapa lokasi Bukit Soeharto terdegradasi dengan cepat. Saya sangat ingin melakukan penelitian terkait permasalahan ini dan dapat menemukan solusi yang bisa melindungi ekosistem yang terdapat di Bukit Soeharto. Karena, akan sangat disayangkan apabila permasalahan ini dibiarkan begitu saja, Taman Hutan Raya Bukit Soeharto memiliki wadah flora dan fauna yang begitu banyak dan sudah seharusnya untuk dilindungi. Sekian dari saya dan terima kasih.

17 05 2016
Bonita Angky Maulida (01:18:27) :

Bonita Angky Maulida (A44140004)
Studi kasus yang ingin saya bahas adalah perubahan penggunaan lahan kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu kawasan yang menerima dampak langsung dari aktivitas pembuangan lumpur Lapindo melalui Kali Porong, pemanfaatan lahan nya berubah. Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan pesatnya perkembangan kota yang terjadi merubah aktivitas masyarakat di kawasan pesisir terhadap pemanfaatan lahan. Padahal rencana penggunaan lahan di kawasan pesisir ini telah diatur dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir (RZWP) Kabupaten Sidoarjo tahun 2010-2030. Maka, evaluasi mengenai penggunaan lahan di kawasan pesisir Sidoarjo perlu dilakukan, terkait dengan kesesuaian penggunaan lahan yang terjadi saat ini.
Alasan saya tertarik dengan studi kasus di Kabupaten Sidoarjo ini adalah karena saat ini saya tinggal di Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Saya ingin perubahan penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat tidak menyimpang dari kemampuan lahan itu sendiri. Perubahan penggunaan lahan yang dilakukan bisa tepat atau sesuai dengan ketentuan zonasi, karena apabila terjadi dissinkronisasi atau ketidaksesuaian penggunaan lahan maka akan berdampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya, misalnya rusaknya vegetasi atau ekosistem mangrove, menurunnya kualitas air, munculnya daerah genangan air atau banjir, dll. Ketidaksesuaian lahan yang akan menyebabkan dampak-dampak negatif tersebut tentunya dapat menurunkan tingkat keekologisan lingkungan Kabupaten Sidoarjo, terutama kawasan pesisirnya.
Terima Kasih

17 05 2016
INSAN FAHMI (02:00:48) :

Salam sejahtera Bapak Kaswanto, Saya Insan Fahmi (A44140073) mahasiswa ARL 51. studi kasus yang saya analisis adalah kualitas ekologi di wilayah karst, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. jajaran bukit karst yang terbentang memiliki nilai estetika dan ekologi yang fungsional yang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Di wilayah karst ini pula terdapat situs sejarah Gua Pawon, tempat ditemukannya kerangka manusia purba sekitar 4000 tahun lalu. selain itu pembentukkan bukit-bukit karst ini memakan waktu 30 juta tahun yang lalu menurut para ahli geologi dan geomorfologi sehingga memiliki nilai sejarah lanskap yang tinggi, namun eksploitasi berlebih menyebabkan kerusakan ekosistem di antaranya adalah penurunan kualitas udara, pencemaran sumberdaya air, erosi, dan ancaman longsor. dalam wilayah tersebut terdapat 1000 pabrik tambang kapur yang legal dan ilegal. Penambangan dilakukan dengan berbagai macam cara di antaranya adalah dengan menggunakan alat peledak dinamit yang dapat memberikan kerusakan berat ekologi sekitarnya. Asap-asap yang keluar dari pabrik penambangan yang sangat tidak memenuhi standar menyebabkan kualitas udara sekitar sangat buruk. penambangan juga menyebabkan erosi dan menyebabkan ph tanah meburuk dan tidak dapat dijadikan lahan pertanian. jika penambangan tetap berlanjut seperti itu, menurut pengajar Geomorfologi dan Geologi Lingkungan Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo bukit-bukit karst tersebut akan habis dalam waktu beberpa tahun. Sudah seharusnya Pemerintah Daerah Bandung Barat bertindak tegas terhadap pabrik-pabrik tambang ilegal, dan melarang keras penambangan dengan menggunakan peledak dinamit agar lanskap perbukitan karst tetap memiliki nilai ekologis dan estetik.
sekian dan terima kasih

17 05 2016
Fadli Nur Majid (02:54:10) :

Selamat malam Bapak Kaswanto. Perkenalkan nama saya Fadli Nur Majid (A44140027) ARL51. Terkai dengan studi kasus dengan skala meso, saya mencoba meniliti mengenai pemanfaatan lahan (Land Use) pesisir pantai dengan penanaman cemara laut, beralokasi di pantai klayar, gunung kidul. Alasan saya meneliti hal tersebut karena banyak sekali lanskap alami yang kurang dikembangkan dalam aspek estetik, ekonomi, sosial, berdasarkan ekologi lanskap. Dengan penanaman cemara laut pada pesisir pantai bermanfaat untuk mengantisipasi pasang surut air laut yang tinggi di daerah tersrbut. Selain itu, dapat juga sebagai tempat naungan alami tanpa merusak tatanan lanskap yang ada. Yang lebih utama dari tujuan penanaman adalah untuk mengantisipasi adanya bahaya tsunami, karena dapat dijadikan sebagai barrier ketika pasang . Sehingga aktivitas yang ada di daerah pesisir pantai dapat intensif .
Sekian. Terimakasih

17 05 2016
Lani Kusumawati (03:32:17) :

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya Lani Kusumawati mahasiswa Arsitektur Lanskap 51 (A44140037). Studi kasus yang saya pilih mengenai pencemaran udara di Kota Bandung. Bandung yang semula dirancang dan dibangun oleh untuk dijadikan tempat peristirahatan telah berubah menjadi kota berpolusi. Kondisi topografi yang menyebabkan Bandung menjadi sangat potensial terhadap pencemaran udara karena kondisi alam yang berupa cekungan akan mengurangi daya pengenceran udara atau dengan kata lain menghambat pertukaran udara atau sirkuasi udara. Dengan perkembangannya menjadi kota yang multifungsi, Kota Bandung kian lama kian padat. Selain karena laju pertumbuhan penduduk di Bandung yang meningkat, kepadatan ini juga dipengaruhi oleh tingkat mobilitas penduduk ke Bandung yang cukup tinggi. Sebagai kota besar yang memiliki fasilitas yang lengkap dalam berbagai bidang (pariwisata, pendidikan, kuliner, budaya, ekonomi), kota Bandung menjadi tujuan banyak orang. Semakin banyak pergerakan penduduk, semakin banyak media transportasi yang dibutuhkan dan akhirnya tingkat polusi pun semakin tinggi.
Polusi udara di kota Bandung dipengaruhi juga oleh penataan ruang dan manajemen transportasi yang kurang tepat. Pemukiman di Bandung dipusatkan di pinggiran kota Bandung sehingga menimbulkan mobilitas yang cukup tinggi dari para pemukim ini ke pusat kota, misalnya untuk bekerja. Sistem penataan ruang yang seperti ini tidak diiringi oleh sistem transportasi yang memadai ke wilayah pinggiran. Hal ini mengakibatkan para pemukim lebih senang menggunakan kendaraan pribadi.
Sekian yang dapat saya paparkan, wassalamualaikum wr. wb.

17 05 2016
Anggia Sekar Nurulita (A44140077) (03:32:55) :

Assalamualaikum wr.wb

Nama saya Anggia Sekar (A44140077) dari ARL 51. Salah satu kasus dalam ARL yang ingin saya teliti pada skala meso adalah Kasus reklamasi teluk Jakarta. Alasan saya mengapa ingin menganalisis kasus tersebut adalah karena kasus tersebut sedang menjadi topik yang panas dan banyak menuai pendapat pro-kontra dari berbagai bidang. Muara Angke merupakan daerah yang sangat strategis dimana didalamnya terdapat Hutan Wisata Alam Angke Kapuk (HWAAK), Hutan Lindung (HLAK), dan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) yang seharusnya dapat menjadi kawasan yang dapat dioptimalkan terutama menjadi kawasan wisata. Tetapi saat ini wilayah tersebut membendung arus pasang pantai Jakarta Utara selain itu fungsi hutan lindung juga tidak berdaya. Saat ini antara HWAAK, HLAK, dan SMMA mengalami fragmentasi hingga rawan kepunahan walaupun HLAK sebenarnya akan terfragmentasi secara alami karena kikisan gelombang laut. Tetapi disatu sisi lahan pemukiman juga dibutuhkan bersamaan dengan misi penyelamatan hutan mangrove. Saya berminat meneliti mengenai hal ini karena saya yakin terdapat suatu cara yang dapat memberi solusi kepada kedua belah pihak (manusia dan alam). Walaupun dengan pandangan secara kasat saya memandang reklamasi adalah jalan yang tepat bila reklamasi dapat menambah konektivitas antar wilayah di Muara Angke sehinggu mencegah kepunahan, tetapi saya berminat untuk meneliti lebih dalam lagi. Dengan pendakatan ekologi lanskap maka dapat dianalisis dengan cermat bagaimana sirkulasi antar wilayah di Muara Angke dan apakah benar reklamasi adalah jalan yang tepat? Bagaimana dampak reklamasi terhadap kualitas air dan biodiversitas laut? Apakah sebanding dengan rencana awal pencanangan? Sekian dari saya,

Wassalamualaikum wr.wb

17 05 2016
Ahmad Fauzan (03:45:30) :

Assalamu’alaikkum Wr.Wb. Saya Ahmad Fauzan (A44140082) mahasiswa ARL semester 4.
Studi Kasus yang saya bahas yaitu mengenai Land Use Cover Change (LUCC) yang terjadi pada Daerah Tangerang Selatan, Banten. Seperti yang kita ketahui, Tangerang Selatan merupakan kota baru yang terbentuk akibat pemecahan wilayah administratif daerah tangerang bagian utara dan bagian selatan. Tangerang Selatan yang pada awalnya merupakan sebuah kabupaten, kini berubah menjadi kota. Untuk menjadi sebuah kota tentunya tidak dapat dengan mudah begitu saja. Setiap tahun hampir tiada hentinya proyek-proyek pembangunan besar terjadi di daerah ini. Mulai dari pelebaran jalan, pembangunan perumahan-perumahan elit, ruko-ruko, Shopping Centre, hingga taman yang menjadikan daerah Tangerang Selatan ini beralih fungsi. Yang pada awalnya didominasi oleh komoditi pertanian, kini berubah menjadi pusat bisnis dan industri. Lahan kosong yang dulunya dibiarkan kini dibangun untuk pembangunan industri, perumahan, ruko, dll. Namun seiring perkembangan dalam pembangunan industri, pemerintah kota Tangerang Selatan juga tidak melupakan konsep ekologis yang menjadi dasar konsep Smart City yang dipegang oleh kota Tangerang Selatan ini. Ruang Terbuka hijau (RTH) tetap dipertahankan dan direnovasi sehingga menjadi ruang yang fungsional. Jalur kendaraan yang dibatasi dengan vegetasi, jalur pejalan kaki yang nyaman, serta drainase yang cukup baik menjadikan kota ini termasuk kota pembangunan yang tetap menerapkan konsep ekologis. Pembangunan terjadi di setiap sudut kota tetapi tetap diimbangi dengan penghijauan.

17 05 2016
Syarifah Rizqi Ramadhani (A44140057) (03:49:45) :

Assalamualaikum wr. wb.
Nama saya Syarifah dari angkatan 51. Sebelumnya, terimakasih atas kuliah yang telah bapak sampaikan. Studi kasus yang ingin saya bahas yaitu mengenai Land Use Cover Change di sekitar bantaran sungai di kota Jakarta Selatan.
Saya memilih lokasi ini karena saya tinggal di daerah pondok labu, jakarta selatan. Dulu, ketika akan bepergian, saha dab keluarga biasanya berkendara melewati jalan haji ipin yang di salah satu bagiannya bersimpangan dengan sebuah kali. Setiap kali setelah hujan deras, jalanan ini akan tergenang sekitar 50cm oleh air luapan kali tersebut.
Dari sumber yang saya baca, kali ini berasal dari kali Grogol yang merupakan salah satu aliran dari sungai Ciliwung-Cisadane. Pada beberapa artikel yabg saya baca, tertulis bahwa dari tahun 1928 sudah terjadi banjir di sekitar kali Grogol.
Maka dari itu, saya ingin meneliti bagaimana perubahan dan perkembangan penggunaan lahan di sekitar bantaran sungai di Jakarta Selatan dari tahun ke tahun. Mengapa kapasitas sungai tidak dapat mewadahi air dari hulu dab apa penyebabnya. Selain itu juga apa penggunaan lahan yang dapat diterapkan di sekitar bantaran sungai yang dapat mencegah banjir, maupun yang dapat memanfaatkan air sungai tanpa memberikan dampak negatif.
Terimakasih.

17 05 2016
Hendri Septian (04:34:04) :

Assalamu’allaikum wr wb, selamat malam. Saya Hendri Septian NIM A44140038 ARL 51. Sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak yang telah mengajar materi skala meso di minggu. Studi kasus yang saya ingin bahas tentang kuaitas air sungai Citarum yang ada di kota Bandung di mulai dari daerah hulu, tengah dan hilir. Pada daerah hulu sungai terdapat beberapa sumber DAS yang berakir pada sungai utama. Terdapat beberapa DAS yang ada di Kota Bandung yang berasal dari Pegunungan diantaranya yaitu Pegunungan Manglayang, Gunung Wayang yang merupakan sumber mata air sungai Citarum. Aliran Sungai Citarum di daerah hulu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air untuk kehidupan sehari-hari, ternak dan bahkan perikanan dengan membentuk tambak- tambak di sekitar pekarangan rumah dan dijadikan pula sebagai PLTA pada kawasan dataran tinggi. Pada wilayah tengah air sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air bagi PDAM, digunakan keperluan masyarakat. Pada daerah hilir air mengalir pada kawasan bendungan yang dijadikan sebagai PLTA seperti bendungan Saguling. Namun masyarakat kota Bandung kurang mempedulikan daerah aliran sungai Citarum sehingga sungai menjadi tercemar dan kotor bahkan dapat menimbulkan banjir. Aliran sungai Citarum mengalir ke beberapa kota di Jawa Barat melewati 2 Bendungan

17 05 2016
Adi Rangga Rusmana (05:17:20) :

Selamat siang Bapak Kaswanto, saya Adi Rangga Rusmana ARL 51 (A44140067).
Case study yang saya pilih adalah water quality di daerah Tangerang yaitu sungai cisadane. Tangerang menghadapi persoalan yang paling serius dari dampak pencemaran dari berbagai industri di wilayah ini. Banyak industri yang belum memiliki instalasi pengolah limbah (Ipal). Hanya sekitar 29 persen dari ratusan perusahaan manufaktur yang memiliki Ipal. Perusahaan yang tidak punya Ipal diduga membuang limbahnya ke-55 sungai dan anak sungai di Kabupaten Tangerang sehingga menimbulkan pencemaran perairan umum serta laut.

Salah satunya Sungai Cisadane, padahal sungai tersebut merupakan sumber air baku. Menurut sumber pembuangan limbah pabrik ke sungai sudah terjadi dalam kurun waktu sangat lama. Tak hanya itu, pengawasan dari pemerintah pun tidak begitu ketat. Sedangkan masyarakat sekitar, mengambil air dari sungai tersebut.
Menurut hasil investigasi YAPELH, di sepanjang aliran sungai Cisadane ditemukan warga yang mengeluh gatal-gatal saat menggunakan air sungai ini. Kondisi air di sungai Cisadane, cenderung berwarna hitam pekat, yang terkadang berubah warna menjadi merah dan menebar bau yang tidak sedap,”
Pencemaran lingkungan di sungai ini juga menyebabkan hilangnya biota air, seperti ikan sepat dan gabus. Selain itu, air sumur warga di sepanjang sungai terkontaminasi air limbah, berbusa, dan menimbulkan bau.
Sekian dan terimakasih

17 05 2016
Nuraini Intan Soraya (05:43:42) :

Assalamualaikum wr. wb.
Saya Nuraini Intan Soraya (A44140012). Terima kasih Pak sebelumnya karena telah memberikan materi Meso Scale di mata kuliah Pengantar Ekologi Lanskap secara perlahan dan detail sehingga kami mudah memahaminya.
Saya tertarik untuk mengangkat studi kasus mengenai Water quality di sungai Musi. Lokasinya berada di Sumatra Selatan. Saya ingin melakukan penelitian mengenai ini karena pengelolaan sungai Musi masih kurang baik. Penerapan Water front terkesan tidak terlalu efektif karena masyarakat masih memiliki kebiasan membuang sampah ke sungai. Dengan menganalisis Water quality saya dapat mengetahui seberapa parah pencemaran yang ada pada sungai Musi, apakah masih layak untuk dipakai keperluan sehari-hari karena masih banyak masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Musi dan menggunakan air dari sungai Musi.
Terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

17 05 2016
Hapsah Faridah (06:18:50) :

Selamat Pagi Pak Kaswanto, nama saya Hapsah Faridah (A44140020) berikut jawaban quiz tentang meso scale menurut saya.

Salah satu studi kasus kegiatan penelitian Arsitektur Lanskap skala meso yaitu studi kasus mengenai ‘Pengaruh Kualitas dan Pola Aliran Air Terhadap Penyebaran Ruang di Suatu Wilayah’. Studi kasus ini dapat dilakukan di daerah yang terdapat DASnya. Contohnya di Kota Bandung, yang terdapat beberapa aliran sungai, seperti sungai Citarum. Sungai Citarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang selatan Kota Bandung ke utara dan bermuara di laut Jawa. Secara ekologi, sungai Citarum merupakan daerah sumber kehidupan bagi berbagai tumbuhan, hewan, dan manusia sehingga DAS Citarum memiliki ekosistem yang kompleks. Oleh karena itu, DAS harus dijaga dan diperhatikan agar ekosistem tidak rusak. Dengan meneliti pengaruh kualitas dan pola aliran sungai Citarum terhadap ruang di Kota Bandung, maka akan diketahui pola-pola tata runag sehingga dapat menentukan kebijakan yang tepat untuk merencanakan pembangunan ruang. Pembangunan ruang yang baik akan memperhatikan ekologi yang ada sehingga tidak ada patch yang rusak, sirkulasi antar ruang yang kurang berfungsi, dan pada akhirnya akan tercipta pembangunan yang berkelanjutan.

17 05 2016
Muhammad Ravi Novyandy A44140046 (06:39:38) :

Assalamualaikum.Wr.Wb.
Nama saya Muhammad Ravi Novyandy (A44140046) dari ARL 51. Studi kasus yang saya pilih yaitu Water Quality di daerah Depok. Saya memilih lokasi tersebut karena kualitas air di daerah tersebut telah mengalami penurunan. Penurunan itu disebabkan oleh laju pertumbuhan kota yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah permukiman, pertokoan dan tempat usaha, serta padatnya industri di kawasan tersebut. Melalui analisis Water Quality, saya ingin mengukur kualitas air di wilayah Depok berdasarkan 11 parameter, yaitu Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Ammonium, Nitrate, Nitrite, Phosphate, Acidicity, Alkalinity, Bacteria Escherichia coli, dan General Bacteria. Hasil pengukuran yang di dapat akan menjadi acuan guna meningkatkan kembali kualitas air di Depok.
Sekian jawaban dari saya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

17 05 2016
MUHAMAD SAYUTI / A44140030 (06:43:10) :

Assalamualaikum..

Saya Muhamad Sayuti, NIM A44140030, ingin menanggapi tugas mengenai meso scale.

Saya memilih studi kasus LUCC (Land Use and Land Cover Changes) di Jakarta. Saya memilih lokasi ini karena pada awalnya Jakarta merupakan daerah rawa, sebagai daerah resapan air. Namun sekarang berubah menjadi perumahan yang secara ekologi tidak baik. ketika air datang dari hulu, tidak ditemukan tempat untuk menampung air. Akibatnya terjadilah banjir. Akhirnya ekosistem alami menjadi rusak. Studi kasus ini dapat berupa kuantitas perubahan penggunaan dan penutupan lahan. Bagaimana kecepatan dan percepatan penurunan daerah resapan dan bagaimana peninggkatan area terbangunnya, dsb.

Demikian pemaparan saya, mohon maaf atas kekuranggannya. Terima kasih.

17 05 2016
Intan Dwi Lestari (A44140061) (06:49:47) :

Nama saya Intan Dwi Lestari (A44140061). Salah satu contoh studi kasus yang saya ambil adalah mengenai Land Use Change Cover (LUCC) yang berada di daerah tempat tinggal saya, yaitu Jakarta. Terlihat jelas bahwa terjadi perubahan besar terhadap tata kota Jakarta selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Hal ini salah satunya disebabkan oleh beralihnya beberapa daerah tata guna lahan dari satu fungsi ke fungsi yang lain. Sebagian besar yang terjadi adalah perubahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta menjadi fungsi yang lain. Berdasarkan Undang-Undang no. 26 Tahun 2007, dijelaskan bahwa RTH dalam suatu kawasan kota harus memiliki luas setidaknya 30% dari total luas kawasan kota tersebut. Namun, berdasarkan data rekalkulasi penutupan lahan tahun 2005, area RTH bahkan jauh dibawah 10% di DKI Jakarta. Taman dan hutan kota mulai terkikis areanya oleh berbagai bangunan. Terlebih lagi area pertanian yang sudah sangat jarang sekali ditemukan di Jakarta, bahkan hampir tidak pernah ditemukan terutama di pusat kota. Perubahan fungsi lahan ini sebagian besar menjadi pemukiman dan kawasan bisnis. Hal ini bisa dilihat dari perubahan jumlah penduduk yang ada di Jakarta dari tahun ke tahun yang selalu meningkat. Peningkatan kepadatan penduduk tentu akan berdampak pada penggunaan lahan yang akan digunakan untuk tempat tinggal mereka. Semakin tinggi jumlah penduduk, maka akan berdampak pula pada peningkatan kawasan bisnisnya. Perubahan fungsi lahan ini perlu diperhatikan oleh pemerintah, sebab kepadatan penggunaan lahan yang tidak merata akan menghasilkan bentuk tata kota yang kurang baik. Selain itu, penting untuk memerhatikan RTH sebab RTH memiliki peran sangat penting salah satunya sebagai paru-paru kota.

Terima kasih.

17 05 2016
Fahreza Ari Rizkyawan (06:50:15) :

Assalamualaikum Wr. Wb
Say Fahreza Ari Rixkyawa NIM A44140031, akan menganalisis mengenai Bendungan Kedungdowo di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Menurut Saya bendungan ini telah sesuai dengan case studies yang saya dapatkan dari materi pada minggu lalu, bednungan ini sesuai dengan sub case studies tersebut yaitu Water Resource Management dimana bendungan ini menyimpan atau menampung air yang berasal dari aliran air di kaki gunung dan daerah aliran sungai yang berada di sekitar kecamatan Bandar, dimana ketika turun hujan air akan mengalir ke aliran sungai utama kemudian tertampung di Bendungan Kedungdowo, air yang tersimpan pada saat musim hujan akan digunakan secara bijak untuk imengaliri sawah irigasi serta untuk kebutuhan pertanian lainnya seperti perkebunan dan perikanan.

17 05 2016
Bagus muttaqin (06:54:05) :

Assalamualaikum Wr. Wb
Saya Bagus Muttaqin NIM A44140050, disini saya akan menganalisis mengenai danau bedadung Kabupaten Jember, Jawa Timur. Menurut Saya danau bedadung sesuai dengan case studies yang ad pada materi minggu lalu, danau bedadung sesuai dengan sub case studies tersebut yaitu Water Resource Management. Danau ini menampung air yang berasal dari aliran sungai yang berada pada daera sekitarnya yang mengarah menjadi satu di danau bedadung. ketika turun hujan air akan mengalir ke aliran sungai utama dan mengalir anak sungai yang tertampung pada danau bedadung air yang tersimpan pada saat musim hujan akan digunakan secara bijak untuk imengaliri sawah irigasi serta untuk kebutuhan pertanian lainnya seperti perkebunan, perikanan dan digunakan juga sebagai daerah wisata yang terdapat pemandangan hijau disekitarnya.

17 05 2016
Urfa Adzkia (A44140070) (06:54:42) :

Selamat pagi pak, studi kasus saya mengenai pertumbuhan ruang terbangun dan ruang tebuka hijau (RTH) di Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Mengapa saya pilih demikian, karena saya melihat lima tahun terakhir Kecamatan Cimanggis memiliki pertumbuhan ruang terbangun yang pesat hal ini didorong oleh faktor ekonomi dan menyangkut pertumbuhan jumlah penduduk, seperti pembangunan ruko-ruko dan perumahan cluster yang penempatannya tidak sesuai dengan lingkungan sekitar, akibatnya banyak kebun milik warga yang menjadi sasaran. Pembangunan ini berpengaruh pada keberadaan ruang terbuka hijau yang juga mempengaruhi perubahan iklim mikro. Ruang terbuka hijau disuatu daerah dengan minimal 30% keberadaannya seharusnya kembali diterapkan namun pemerintah tidak cukup tegas dalam mengaplikasikannya kepada masyarakat. Saya merasa perlu menganalisis studi kasus ini agar kedepannya penataan ruang terbangun dapat berjalan dengan baik tanpa mengganggu ruang terbuka hijau dan ekologi lanskap kota yang ada, dengan begitu habitat yang adapun tidak terganggu atau punah.
Terimakasih

17 05 2016
Resiana Chartika (06:57:56) :

Selamat pagi Pak Kaswanto, perkenalkan saya Resiana Chartika ( A44140076) ingin menjawab quiz dari mata kuliah Pengantar Ekologi Lanskap pada Selasa minggu lalu. Studi kasus yang akan saya bahas yaitu tentang penurunan kualitas air di DAS Cisadane di Serpong, Tanggerang Selatan. Alasan saya memilih lokasi ini karena seperti sudah diketahui bahwa air Sungai Cisadane di wilayah Kota Tangerang Selatan merupakan sumber air baku beberapa perusahaan pengolah air bersih di wilayah Kota Tangerang Selatan. Namun sebagai air baku sesungguhnya sungai Cisadane termasuk dalam kategori sungai yang sudah tercemar, sehingga untuk pengolahan menjadi air bersih dibutuhkan biaya yang besar yang salah satunya dibebankan pada konsumen, setelah melalui treatment tertentu air baku yang tercemar ini menjadi air bersih yang layak untuk dipergunakan. Diharapkan dengan studi kasus di lokasi ini dapat memperbaiki kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara bijak.
Sekian dan terima kasih.

17 05 2016
Khairul umam (A44140008) (07:12:22) :

Assalammualaikum pak, saya khairul umam ARL 51 (A44140008). berkaitan dengan materi minggu lalu case study yang saya ambil adalah kawasan kampung melayu jakarta selatan. saya mengambil kasus studi water quality karena kawasan kampung melayu di lalui oleh sungai ciliwung dimana pada saat musim penghujan kawasan tersebut sering di landa banjir dan pada musim panas kondisi air sungai tampak berwarna gelap dan bau. banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut diantaranya seringnya masyarakat membuang sampah di sungai, terjadi pendangkalan sungai karna banyak permukiman yang dibangun di pinggir sungai, drainase yang buruk dari Rumahtangga yang lansung dibuang ke sungai. dan banyak lagi hal tersebut menggambarkan bahwa kawasan tersebut belum sepenuhnya bersifat ekologis. sekian pendapat dari saya kurang lebihnya mohon maaf wassalammualaikum wr, wb.

17 05 2016
Aqlima Boupasslina S (07:19:21) :

Aqlima Boupasslina Shahra (A44140065)
Studi kasus yang ingin saya bahas adalah studi kasus UHI di kawasan Bogor. Suhu di kawasan Bogor selalu dinilai naik setiap saat dan dalam kurun waktu yang singkat. Selain faktor global warming, faktor internal dari kawasan Bogor sendiri tentu dapat menjadi alasan kenaikan suhu tersebut. Contoh faktor yang dapat mempengaruhi kenaikan suhu tersebut adalah perubahan tata guna lahan, dan menjamurnya pabrik-pabrik industri. Kedua hal tersebut sedang terjadi di Bogor dan berakibat pada berkurangnya ruang terbuka hijau, dan menurunnya kualitas ruang terbuka biru di kawasan Bogor. Berkurangnya RTH serta RTB tentu secara ekologis dapat mempengaruhi keberadaan satwa dan tanaman di bogor. Selain itu, bila suhu di kawasan Bogor tidak lagi optimum, sejumlah spesies makhluk hidup dapat mengalami penurunan populasi akibat tidak sesuainya lingkungan bagi hidupnya. Mengetahui suhu aktual Bogor dengan studi kasus UHI dapat membantu pengkajian status satwa dan fauna kawasan Bogor yang terancam, hampir atau bahkan sudah punah di kawasan Bogor.

17 05 2016
Robi Rijalul Fikri (07:22:36) :

Kasus mengenai buruknya kualitas air diperkotaan sangatlah seringkali terjadi. Lokasi ini terletak dikota-kota besar atau megapolitan seperti Jakarta. Hal ini disebabkan karena adanya aktivitas-aktivitas masyarakat yang membuat air menjadi sangat kotor. Jika terjadi pencemaran air yang sehingga menyebabkan air kotor maka hanya bakterisajalah yang terdapat pada tempat tersebut. adanya hewan tertentu seperti capung, ikan dan lainnya dapat menjadi bioindicater suatu perairan atau ekosistem tersebut. hal seperti ini sangatlah harus diperhatikan menimbang baha air merupakan sumber kehidupan sekaligus dapat menjadi sumber penyakit.

17 05 2016
Robi Rijalul Fikri (07:24:13) :

Robi Rijalul Fikri
A44140041

Kasus mengenai buruknya kualitas air diperkotaan sangatlah seringkali terjadi. Lokasi ini terletak dikota-kota besar atau megapolitan seperti Jakarta. Hal ini disebabkan karena adanya aktivitas-aktivitas masyarakat yang membuat air menjadi sangat kotor. Jika terjadi pencemaran air yang sehingga menyebabkan air kotor maka hanya bakterisajalah yang terdapat pada tempat tersebut. adanya hewan tertentu seperti capung, ikan dan lainnya dapat menjadi bioindicater suatu perairan atau ekosistem tersebut. hal seperti ini sangatlah harus diperhatikan menimbang baha air merupakan sumber kehidupan sekaligus dapat menjadi sumber penyakit.

17 05 2016
Elma Syifa Zachrani (A44140018) (07:26:23) :

Elma Syifa Zachrani
A44140018
Kuliah kali ini menjelaskan mengenai kegiatan penelitian bidang Arsitektur Lanskap. Case studies yang ada yaitu AEZ, UHI, LUCC, Carbon stock, dan Water Quality. Yang akan dibahasa yaitu case studies mengenai Water Quality. Saya memilih lokasi Sungai Ciliwung bagian Hulu (hulu-Kota Bogor). Alasan saya memilih lokasi tersebut karena sungai ciliwung merupakan sungai besar di Provinsi Jawa Barat yang melewati beberapa kota besar. Sungai Ciliwung sering terdengar dalam pemberitaan terkait banjir yang terjadi di Jabodetabek. Sungai Ciliwung merupakan suatu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang kompleks. Berhulu di kawasan puncak di daerah Cianjur dan Sukabumi serta mengalir menuju Ibu Kota Jakarta yang melewati beberapa kota satelit dan kota besar seperti Bogor dan Depok membuat sungai Ciliwung memiliki peran ekologi yang besar terhadap kelestarian kawasan riparian (tepian sungai). Sungai Ciliwung yang sering dijadikan sebagai kambing hitam sebagai sungai yang mengirimkan banjir tentunya akan menjadi sorotan banyak pihak terkait kondisi dan kualitas sungai Ciliwung. Analisis mengenai peran ekologi sungai terhadap ekosistem riparian serta analisis mengenai dampak aktivitas manusia terhadap kondisi DAS Ciliwung dinilai perlu dilakukan yaitu untuk mengetahui sejauh mana dampak yang timbul saat ini serta sebagai acuan guna menyusun suatu karya lanskap yang dijadikan sebagai solusi permasalahan tersebut. Analisis dengan menggunakan GIS dan Remote sering dapat dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi landcover disepanjang DAS Ciliwung serta melihat perubahan landuse disekitar sungai dalam 10 tahun terakhir serta melihat korelasi antara perubahan kondisi landuse dan tutupan lahan terhadap perubahan kualitas DAS. Kualitas air dapat dilihat dengan mengambil sampel air dari bagian hulu-Kota Bogor sehingga dapat terlihat perubahan kualitas air yang terjadi pada selang antara hulu dengan Kota Bogor. Analisis tersebut menggunakan sebelas parameter kualitas air yaitu: DO, BOD, COD, nirit, nitrat, ammonia, acid, alkali, fosfat, bakteri, dan Escherichia coli.

17 05 2016
wisnu bekti istianto (07:42:50) :

Nama saya Wisnu Bekti Istianto NIM A44140040. Saya ingin membahas tentang evaluasi aspek fungsi dan kualitas estetika arsitektural pohon lanskap pada kota Madiun. Keragaman jenis pohon lanskap jalan menghasilkann perbedaan karakter, bentuk arsitektural tajuk, tinggi, warna, tekstur, dan komposisi penataan memperkuat fungsi dan estetika jalan-jalan utama di kota Madiun. Evaluasi kondisi pohon dewasa yang cukup tua perlu dilakukan untuk mengoptimalisasi efektivitas aspek fungsi dan estetika dalam usaha mempertahankan keberadaan pohon lanskap jalan, karena di Kota Madiun banyak terdapat pohon-pohon tua yang mudah rubuh ketika terjadi hujan dan angin lebat.

17 05 2016
Salamah Farida (07:47:06) :

Selamat pagi Pak, saya Salamah Farida (A44140074) dari ARL 51. Case studies yang saya pilih untuk dianalisis adalah menghitung Carbon stock di kota Jakarta dan pengaruhnya terhadap tumbuhan dan kesehatan manusia. Seperti yang kita tahu bahwa udara di Jakarta saat ini sangat tidak baik bagi kesehatan manusia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yaitu, 1.Pengguna kendaraan bermotor atau mobil sangat banyak di Jakarta, bahkan terjadi peningakatan setiap tahunnya 2. Kurangnya RTH (Ruang terbuka hijau) 3. Kepadatan penduduk 4. Polusi udara dari pabrik di pinggiram kota yang terbawa oleh angin 5. Dll. Tidak jarang Jakarta terkena kabut polusi yang bisa mengganggu pandangan dan pernapasan karena mengandung karbon monoksida. Senyawa ini juga dapat mengganggu fotosintesis dan respirasi tumbuhan yang dapat mensuplai oksigen manusia. Dengan semakin meningkatnya polusi ini, berapakah carbon stock yang tersisa? Jika kita dapat menghitung prediksinya, berapa tahun lagi Jakarta dapat bertahan dengan kondisi udara seperti ini?

17 05 2016
Wandi Muhamad Jaeni A44140035 (08:02:49) :

Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi pak. Perkenalkan saya Wandi Muhamad Jaeni mahasiswa ARL angkatan 51.
Mengenai quiz yang bapak berikan, saya tertarik untuk mengambil case study water quality di daerah Cibinong,Kab. Bogor. Saya mengambil daerah tersebut karena Cibinong merupakan daerah yang sedang berkembang, pertumbuhan penduduknya pun cepat, selain itu banyaknya pabrik pabrik baik tekstil maupun makanan yang terbangun. Hal hal tersebut menyebabkan semakin banyaknya limbah yang dihasilkan, dari rumah tangga hingga industri. Kemudian kebanyakan dari limbah tersebut dibuang ke air, karena terdapat banyak situ/danau disana, seperti Situ Cibinong dan Situ Cikaret. Oleh karena itu, menurut saya menganalisis kualitas air di daerah Cibinong merupakan suatu hal yang diharuskan. Karena air merupakan sumber kehidupan, sehingga harus dijaga kualitasnya.
Sekian dan terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb.

15 08 2016
katalog sepatu safety (11:29:05) :

terima kasih telah berbagi informasi Mas, betah sekali membaca tulisan-tulisan disini, saya merasa bertambah wawasan semoga yang mengeleloa blog ini selalu di berikan kesehatan..

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>