Masyarakat Rendah Karbon [MRK]

1 12 2014
Masyarakat Rendah Karbon

http://www.triplepundit.com/

Apa itu Masyarakat Rendah Karbon?

Masyarakat Rendah Karbon [MRK] atau istilah kerennya Low Carbon Societies (LCS) merupakan salah satu solusi yang sebaiknya ditempuh dalam menjawab permasalahan manajemen lanskap dari berbagai disiplin ilmu. Permasalahan lingkungan, sosial dan ekonomi yang bermunculan saat ini di negara Indonesia, sejatinya dapat diantisipasi dengan membentuk karakter masyarakat yang rendah emisi – rendah karbon. Definisi masyarakat rendah karbon (MRK) didesain untuk mengilustrasikan perspektif dan kebutuhan teori keberlanjutan. Definisi MRK dapat dipaparkan sebagai berikut (National Institute for Environmental Studies, 2006):

  1. Melakukan tindakan yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development – SD), menyakinkan bahwa kebutuhan pembangunan dari seluruh lapisan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
  2. Melakukan kontribusi nyata secara global untuk mempertahankan kestabilan udara dalam atmosfir terkait konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya, pada level yang tidak membahayakan bagi lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya.
  3. Mendemostrasikan efektifitas penggunaan energi secara baik dan menggunkan sumber energi yang rendah-karbon dan berteknologi ramah lingkungan.

Lanskap Agroforestri dan MRK

Desain lanskap agroforestri menuju MRK – LCS  juga bisa menjadi sebuah jawaban dalam mengatasi permasalahan manajemen lanskap yang terjadi akhir-akhir ini. Penataan jaringan agroforestri (agroforestry network) sebagai proses lanskap sosial-budaya atau sosial-ekonomi harus dipertimbangkan sebagai fungsi ekologis yang berkelanjutan. Pendekatan ekologi lanskap sebaiknya digunakan untuk menganalisis seluruh proses lanskap agroforestri yang berkaitan dengan 1) dinamika penggunaan lahan, 2) jumlah karbon tersimpan, 3) manajemen sumber daya air dan 4) manajemen lanskap agroforestri pada skala kecil (misal: pekarangan atau kebun  campuran). Permasalahan dalam majamen lanskap melalui desain lanskap agroforestri dapat diinvestigasi pada skala makro (macro-scale), skala meso (meso-scale) dan skala mikro (micro-scale). Skala makro biasanya difokuskan pada daerah aliran sungai (DAS), skala meso pada zona hulu-tengah-hilir dari DAS, sementara skala mikro pada pekarangan, sawah, kebun ataupun tegalan.

Permasalahan lain dalam proses desain lanskap agroforestri adalah perlunya disiplin ilmu dari bidang ilmu kehutanan (agro-forestry), peternakan (agro-pastura), teknologi pertanian (agro-technology) dan perikanan (agro-fishery). Selama ini lanskap agroforestri tidak hanya berkaitan dengan elemen lanskap berupa tanaman saja, namun juga berkaitan dengan elemen lanskap lainnya yakni tanaman tahunan (berkayu – sumberdaya hutan),  hewan ternak yang merupakan kompetensi ilmu peternakan, mekanisasi pertanian dan juga kolam-kolam ikan yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu desain lanskap agroforestri merupakan kerjasama antara fakultas pertanian, kehutanan, peternakan, teknologi pertanian dan perikanan. Bahkan disiplin ilmu yang lain juga bisa ikut terlibat untuk mengembangkan lanskap agroforestri, misalanya mengenai gizi masyarakat, ekonomi, sosial dan legalitas kawasan. Istilah agroforestri sendiri sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak lama.   Istilah ‘wanatani” lebih dahulu dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia.

Istilah “wana” yang berarti hutan dan “tani” yang berarti pertanian, kerap menghiasi khasanah ilmiah Indonesia, namun tenggelam tak terdengar sepak terjangnya lagi. Menurut Wikipedia, Wanatani atau agroforestry adalah suatu bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaanhutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanamanpertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan (http://id.wikipedia.org/wiki/Wanatani).

Sejatinya konsep Masyarakat Rendah Karbon dapat didekati dengan manajemen lanskap agroforestri. Manajemen lanskap agroforestri yang baik akan mengurangi percepatan alih fungsi lahan, akan membentuk rasa mencintai lingkungan, akan mengecambahkan benih-benih perilaku yang rendah emisi, bahkan jangkauan yang lebih jauh adalah akan membuat BUMI ini menjadi lebih baik. Alih fungsi lahan telah terbukti sebagai penyumbang terbanyak dalan kontribusi emisi karbon di dunia, bahkan ditengarai bahwa dunia kehilangan hutan seluas 33 kali lapangan sepakbola setiap menitnya, dan  Indonesia kehilangan hutan seluas 6 lapangan sepak bola setiap menitnya. Bayangkan berapa jumlah emisi karbon yang hilang saat Anda sedang membaca artikel ini. 

Rasa cinta lingkungan bisa dimulai dengan pemahaman bahwa “everything comes from carbon”. Setiap kertas yang kita gunakan, setiap baju yang kita kenakan, dan setiap peralatan yang kita hidupkan berasal dari karbon. Pemahaman ini akan mengubah “mental” seorang manusia sehingga memanfaatkan sumber daya lebih baik, tidak boros dan tidak buang sampah sembarangan.

Semoga gerakan Masyarakat Rendah Karbon di Indonesia semakin gencar dan membahana ke pelosok-pelosok daerah.

Salam MRK – LCS   Regards,

Dr. Kaswanto



Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>