Lanskap Perdesaan

16 12 2009

Sedikit berbagi untuk artikel saya yang yang pernah di muat di Harian Radar Bogor sekitar pertengahan 2005… Hmmmmm sudah hampir empat tahun lebih yah… mudah2an masih relevan dengan kondisi saat ini…

(Just a little share for my article that had published in Radar Bogor Newspaper around mid 2005…. Hmmm it already more than four years ago.. I hope it still relevant with current situation)

————————————————-

Pemulihan Ekonomi Bangsa
Melalui Pengelolaan Lanskap Perdesaan Secara Ideal

Krisis pangan yang melanda negara Indonesia akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak meningkatnya tingkat kerawanan pangan (food security). Dampak tersebut bila ditelusuri pada akhirnya akan mengakibatkan degradasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Salah satu upaya untuk mengatasi kerawanan pangan tersebut adalah dengan mengembangkan dan mengelola lanskap perdesaan secara ideal. Lanskap perdesaan yang ideal adalah lanskap yang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari pemiliknya (subsisten) dan memiliki peranan dalam menunjang perkembangan ketahanan pangan (food security).

Mengingat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih menetap di daerah perdesaan di mana hubungan manusia dengan alam masih sangat erat, maka sangat diperlukan pelestarian lanskap perdesaan untuk menunjang produktivitas dan aktivitas masyarakat perdesaan itu sendiri. Struktur Lanskap perdesaan dan sifat kesinambungan lingkungan yang tercermin dalam pemenuhan aspek estetika, fungsional dan pelestarian lingkungan perdesaan adalah potensi yang layak untuk dikembangkan. Dengan keanekaragaman sumber daya hayati (biodiversity) yang cukup tinggi, lanskap perdesaan juga menyediakan sumber karbohidrat, mineral, vitamin dan protein, baik protein nabati maupun protein hewani. Selain itu lanskap perdesaan juga menyediakan sumber plasma nutfah yang berkelanjutan (sustainable), yang diindikasikan dengan tanaman underexploited potensial dalam jumlah besar.

Keanekaragaman sumber daya hayati lanskap perdesaan yang dicirikan dengan adanya lanskap pekarangan dapat pula dilestarikan secara berkelanjutan dalam sistem ekologis yang terintegrasi antar elemen lankap pekarangan itu sendiri. Keanekaragaman yang tinggi memungkinkan penghuninya untuk dapat memperoleh berbagai jenis obat-obatan, sayur mayur, buah-buahan, tanaman hias serta tanaman lainnya.  Penghuninya juga dapat melakukan berbagai aktifitas, seperti aktivitas mencuci, mandi, memelihara ikan, kakus dan aktivitas lainnnya.

Peranan lainnya dapat dilihat pada keterkaitan manusia dengan lingkungan (ekologis) dalam suatu sistem daur ulang yang berkelanjutan dalam suatu ekosistem dapat diamati melalui sistem daur ulang. Sistem daur ulang ini mengandung arti bahwa dengan jumlah input sumber daya yang sangat kecil ke dalam lanskap perdesaan, dapat dihasilkan jumlah output yang optimal, tanpa menimbulkan pencemaran dan degradasi kualitas lingkungan.

Lanskap perdesaan dengan keseimbangan sumber daya (material balance) dapat menjadi indikator berkelanjutannya lanskap tersebut, yang mengandung arti bahwa pelestarian energi yang terbentuk akibat aktifitas dalam lanskap perdesaan, seperti aktifitas pertanian, peternakan, perikanan dan sebagainya membentuk sirklus yang berkesinambungan (sustainability). Keterkaitan sistem material balance dan sustainability dalam ekosistem lanskap perdesaaan ini dapat diarahkan ke proses pemulihan ekonomi bangsa dari sisi masyarakat kecil. Berbagai contoh pemanfaatan energi telah mulai diterapkan oleh masyarakat perdesaan, seperti pembuatan kompos, pembibitan, peternakan dan pemeliharaan ikan. Semua aktivitas tersebut memiliki sumber energi yang berasal dari dalam rumah, yakni sampah-sampah rumah tangga dan buangan biologis penghuninya.

Degradasi kualitas dan kuantitas lanskap perdesaan dapat dipengaruhi pula oleh lanskap perkotaan. Pengaruh kota dalam proses urbanisasi memberikan andil dalam penurunan lanskap perdesaan, sehingga masyarakat perdesaan yang mengalami penggusuran dari masyarakat perkotaan mulai melakukan perambahan hutan. Perambahan hutan ini mendekati ke batas-batas daerah yang bisa dikatakan sebagai daerah konservasi (forest margin). Perubahan tata guna lahan (land use changed) ini sedikit banyak mempengaruhi sistem ekologi hulu dan hilir dari suatu ekosistem lanskap perdesaan. Proses perubahan tata guna lahan yang sedemikian cepat mengakibatkan terjadinya proses erosi dan akumulasi lumpur serta zat-zat kimia sehingga mengganggu aktivitas perikanan dalam lanskap perdesaan di daerah hilir. Sistem ekologi hulu dan hilir ini pada akhirnya akan bermuara ke lautan dengan kandungan akumulasi bahan-bahan pencemar yang dapat menganggu ekosistem kelautan.

Deskripsi di atas katakanlah telah memberikan gambaran secara global pentingnya lanskap perdesaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan dalam memulihkan perekonomian bangsa. Dengan deskripsi demikian, apa yang dapat kita lakukan untuk memulihkan lanskap perdesaan sebagai awal dari proses pemulihan ekonomi bangsa akibat dari reaksi pencemaran yang berantai ini. Tentunya kita berangkat dari akar permasalahan utama, yakni pengelolaan lanskap perdesaan (rural landscape management) itu sendiri. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa lanskap perkotaan juga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam hal pemulihan lanskap perdesaan serta penurunan ketahan pangan.

Pengelolaan lanskap perdesaan sebagai pusat dari sektor pertanian murni, dapat diawali dengan mengelola sumber daya alam (SDA) yang ada di dalamnya. Akan tetapi adalah usaha yang sia-sia bila kita berangkat dari pengelolaan SDA perdesaan tanpa disertai dengan pengelolaan SDM masyarakat, karena pola hidup, tingkah laku dan kebiasaan (habits) masyarakat perdesaan adalah unik dan justru patut untuk dilestarikan. Sumber daya alam lanskap perdesaan yang demikian beragam dapat dikelola melalui suatu sistem win-win solution. Artinya jangan biarkan satupun SDA terabaikan dan tak terkelola dengan optimal. Di sisi lain jangan pula terlalu mengeksploitasi satu SDA secara besar-besaran.

Pengelolaan SDA utama yakni tanah, air dan tanaman pada lanskap perdesaan dapat menjadi awal proses pemulihan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pengelolaan penggunaan pupuk, pemberian pestisisda, sistem terasering, sistem irigasi dan sebagainya, bila dikelola dengan baik akan menghasilkan output yang baik pula. Demikian pula dengan tanaman, bila dapat dilakukan efisiensi penggunaan energi maka setidak-tidaknya energi-energi lingkungan akan terkompilasi dalam tanaman secara baik dan menghasilkan panen yang berlimpah.

Pengelolaan lanskap perdesaan juga mengarah ke pengelolaan lanskap kehutanan, perikanan dan kelautan serta sektor lainnya. Bagaimana suatu sistem pengelolaan lanskap kehutanan? Hal ini dapat dilihat dengan sistem penzonaan (zoning) pada kawasan hutan, mulai dari zona inti (sanctuary zone), zona rimba (wilderness zone), zona penyangga (buffer zone) dan zona pemanfaatan (intensive zone) yang secara berurutan mengindikasikan pengelolaan yang semakin intensif. Sistem penzonaan ini akan mempermudah pengelolaan lanskap kehutanan, sehingga dapat dihindari perambahan hutan oleh masyarakat perdesaan yang terletak di kawasan tepian hutan. Demikian pula dengan sektor perikanan yang dicirikan dengan pemanfaatan aliran sungai oleh masyarakat perdesaan sebagai sumber air untuk kolam, MCK (Mandi Cuci Kakus) dan beberapa kegiatan lainnya.

Perlu diakui bahwa lanskap perdesaan sedikir banyak telah memberikan andil dalam pemulihan ekonomi bangsa, antara lain dengan proses subsistennya, persediaan bahan pangan, produksi kerajinan rumah tangga, industri rumah tangga kecil, dan sebagainya. Kesemuanya ini hanya sedikit terimbas oleh krisis ekonomi, karena proses produksinya tidak melibatkan bahan dari luar perdesaan. Seluruh input produksi berasal dari dalam sehingga output yang dihasilkan adalah murni sebagai profit.

Solusi pemulihan ekonomi bangsa pada akhirnya dapat ditempuh (salah satunya) dengan pengelolaan lanskap perdesaan secara ideal, seperti telah disebutkan di awal. Kesemuanya akan terwujud dengan perpaduan pada konsep perencanaan (plan concept) dengan adanya kerjasama dengan unsur-unsur keilmuan lainnya (interdisciplinary). Memang tidaklah ideal jika hanya dengan lanskap perdesaan, mungkin timbul pertanyaan mengapa tidak lanskap industri, mengapa tidak lanskap perumahan dan lanskap lainnya. Tapi setidak-tidaknya dapat diawali dalam lanskap perdesaan dengan sektor pertanian yang murni. Bukankah sebuah garis merupakan kerjasama dari berbutir-butir titik? Bagaimana jika sebutir beras? Sebutir jagung? Sebutir kacang? Akankah mengggeliatkan perekonomian bangsa? Atau justru memporakporandakannya? Bukan tidak mungkin era swasembada beras dapat terulang lagi, tentunya secara nyata dan konsisten. Langkah-langkah yang nyata dan konsistenlah yang sangat diharapkan saat ini, tidak hanya di awal menggebu-gebu namun patah arang di akhir.



Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>