LANDSCAPING

We’re a conflicted culture.
We go to great lengths to live close to nature, yet typically maintain perfectly groomed lawns. We value clean, clear water, but don’t realize we send dirty rainwater directly to lakes via storm sewers. We want to see and hear songbirds, but to accommodate our lifestyles, we mow and pave their habitat away.

How do we reconcile these conflicting desires?
The landscape architects and ecologists know how to maintain ecological integrity while providing the amenities we’ve all come to expect. The key is to work with nature to accommodate people’s needs.

When Landscape Ecologist ans Architect (EA) begin a project, we first seek a deep understanding of the site and the processes at work there, how soil, light, water, and air interact with plants and animals. We also determine how people are affecting the area and what they desire from it. Successful projects occur when this understanding is incorporated with an intimate knowledge of the site’s ecological identity.

The results: Clean lakes and stable shorelines. Lush rainwater gardens instead of expensive storm sewer systems. Soothing, green urban environments with shaded parking lots and blooming workplaces. We knows that the human influence on nature is enormous. But we never forget that it influences us, too. When our landscape design projects do the right thing for the environment as well as for people, we increase the chances that nature will in turn do right by us.


2 responses to “LANDSCAPING”

17 02 2010
ms (23:38:46) :

Nto, setelah liat banyak studi kasus kondisi miskin di daerah, menarik juga tu melihat dampak kemiskinan terhadap lingkungan dan infrastukturnya. Rekan-rekan di ADB sudah banyak membahas hal ini, so mungkin ada baiknya jika seorang landscape analysis bisa melihat dari kacamata sini juga. Gituu…

19 02 2010
reganleonardus (14:43:26) :

Wah Mon, thankyou banget udah berkunjung ke blog gw n udh ngasih komentar juga. Kacamata seorang landscaper memang cenderung lebih holistik karena kerap melihat dari sudut pandang lingkungan, sosial dan teknik (desain).

Secara teori dan telah terbukti faktual, kawasan kumuh or slum area memang pasti akan senantiasa timbul dimanapun sepanjang manusia melakukan pengembangan dan pembangunan. Setiap kawasan yang melakukan pengembangan infrastruktur pasti (dan selalu) akan dihadapkan pada kondisi masyarakat dan lingkungan negatif yang timbul. Tidak hanya di negara berkembang (developing country) tetapi juga di negara maju (developed country).

Perhatian saat ini memang berfokus bagaimana agar kondisi kemiskinan yang timbul di masyarakat tidak menimbulkan efek domino ke lingkungan di sekitarnya. Beberapa pemikiran dan pendekatan telah dilakukan oleh beberapa NGO dan beberapa diantaranya telah terbukti berhasil. Sebagai contoh, ICRAF yang telah menginisiasi program RUPES bagi masyarakat miskin yang berada di kawasan hulu DAS. Ataupun juga pendekatan PRA dan RRA yang selama ini kita kenal, beberapa kasus di lapangan dengan kedua pendekatan ini ternyata terbukti berhasil mengatasi masalah kemiskinan.

Semoga kemiskinan dapat kita atasi bersama dengan memberikan edukasi yang layak demi kesejahteraan hidup di masa yang akan datang.

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>