Keberadaan Sungai dalam Perkebunan Sawit

25 02 2010

Sungai dalam perkebunan sawit mempunyai nilai penting bagi keberadaan suatu perkebunan sawit, karena merupakan salah satu sumber daya alam yang mendukung proses budidaya dan produksi kebun. Seperti diketahui bersama, sawit merupakan tanaman yang sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanpa ketersedian air yang cukup sepanjang tahun, maka dapat dipastikan produksi buah akan menjadi rendah, karena tanaman sawit memerlukan kestabilan ketersedian air pada periode pembuahannya. Jika air kurang dan sampai pada batas cekaman kekeringan maka yang terjadi adalah bunga jantan lebih dominan dibanding bunga betina, sehingga produksi buah akan turun dan sebaliknya jika cukup tersedia air maka bunga betina yang dominan.

Namun demikian, meskipun keberadaan sungai di dalam perkebunan sawit mempunyai nilai penting bagi kestabilan ketersedian air tanah untuk perkembangan dan pertumbuhan sawit, terkadang juga menjadi masalah jika kemudian sungai dianggap sebagai penyebab banjir di dalam kebun dan terjadinya konflik kepentingan penggunaan lahan untuk perlindungan sungai dan tanaman sawit. Sehingga sering terjadi suatu penihilan keberadaan sungai di dalam kebun dengan cara merubah bentuk sungai dengan cara-cara pelurusan, merubah bentuk bahkan penimbunan sungai yang pada akhirnya adalah pengabaian sungai sehingga yang ada hanya dianggap sebagai suatu alur-alur aliran permukaan yang tidak mempunyai nilai bagi perkebunan.

Selain hal tersebut diatas, sering juga di dalam perkebunan sawit didapatkan sungai atau aliran permukaan dengan debit yang sangat kecil bahkan kering di musim kemarau. Hal ini disebabkan selain jenis sungai seperti penjelasan pada bagian terdahulu, juga dapat disebabkan oleh perkebunan itu sendiri. Pada umumnya hampir tidak ada pembukaan perkebunan sawit yang melakukan identifikasi sungai sampai dengan detil sampai dengan perhintungan indeks kelembaban sungai dan ordo sungai. Indeks kelembaban sungai (IKS) adalah nisbah ratio antara curah hujan dan evapotranspirasi. Jika diketahui IKS sebuah sungai maka dapat diketahui perubahan debit sungai sebelum dan sesudah ada perkebunana sawit, mengingat bahwa nilai evapotranspirasi pada lahan perkebunan sawit yang tinggi yang akan mengakibatkan penurunan debit sungai dan bahkan pada beberapa kasus menyebabkan sungai tersebut menjadi kering pada musim kemarau. Sedangkan ordo sungai adalah suatu indeks yang digunakan untuk menentukan apakah suatu alur adalah sungai atau hanya sekedar tempat air mengalir pada saat hujan. Ordo sungai ini dapat ditentukan dengan melakukan identifikasi sifat hidrologi permukaan dari lahan. Jika kedua aspek tersebut dapat dipenuhi, maka dapat dipastikan keberadaan sungai dalam kebun.

Guna memberikan pemahaman yang baik terhadap sungai dan fungsinya yang berada dalam perkebunan sawit maka dapat dilakukan hal-hal berikut ini:a) Melakukan survey detail terhadap kondisi hidrologis dan tanah di semua estate sehingga dapat diketahui tingkat respon hidrologi (HRU-Hydrology respon unit)

  1. untuk setiap unit lahan yang ada dalam kawasan. Dengan melakukan survey detail tersebut, maka setiap perubahan penggunaan lahan atau pembukaan kebun akan dapat diketahui dan diprediksi kondisi hidrologisnya dan pengaruhnya terhadap wilayah tersebut dan wilayah di sekitarnya. Selain itu juga akan dapat ditentukan wilayah-wilayah yang dominan memberikan pengaruh terhadap kondisi sumberdaya air di wilayah ini.
  2. Melakukan survey dan identifikasi sungai. Dalam proses tersebut perlu dilakukan
    kajian terhadap sifat hidrologi permukaan dan pengukuran morfometri sungai yang ada di dalam kebun. Survey ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik sungai dan alirannya sehingga dapat digunakan untuk arahan pengelolaan kebun termasuk juga rencana pembukaan kebun
  3. Membuat dam penahan di badan sungai dan tanggul-tanggul kanan kiri sungai dam penahan tanpa merubah bentuk sungai (tidak membuat pelurusan sungai) sehingga tidak menimbulkan area banjir di dalam kawasan. Dam penahan berfungsi untuk mengendalikan sedimentasi dan harus ditempatkan di lokasi yang sesuai denga jenis bentang lahan dan jenis dan pola aliran sungainya. Selain tanggul, juga perlu dilakukan pengkayaan vegetasi untuk memperkuat dinding sungai.
  4. Di setiap saluran outlet drainase yang keluar kebun perlu dibuat dam penahan/sedimen trap yang berfungsi untuk mengurangi jumlah sedimen yang
    akan masuk sungai induk.
  5. Melakukan perlindungan dan pengelolaan sempadan sungai serta rawa-rawa di
    sekitar sungai dengan cara-cara sebagai berikut:
  • Membuat zona penyangga di area sempadan sungai, dengan melakukan penanaman bambu ataupun tanaman lain yang sesuai (misal : Ficus sp ) dan berfungsi untuk melindungi bantaran sungai dan lahan sekitar sungai dari gerusan aliran sungai.
  • Segera melakukan tindakan pengamanan dan pengelolaan sempadan sungai
    yang belum dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan budidaya.
  • Memberikan dan melakukan pembinaan kepada masyarakat yang telah melakukan pengelolaan lahan atau usaha budidaya pertanian dan perikanan di sempadan sungai sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air

Dengan pengelolaan yang baik terhadap sungai dan aliran permukaan yang ada di dalam kebun, maka akan menjaga kestabilan dan keberlanjutan suatu perkebuan sawit.

Source: Apa itu sungai? Apa perkebunan sawit? by: Idung Risdiyanto



Actions

Informations

One response to “Keberadaan Sungai dalam Perkebunan Sawit”

10 06 2010
Endy Ardhie (17:25:58) :

Great post… Thanks for share 😀

28 12 2010
neni (15:28:59) :

gunakan pupuk kami yg bisa mengatur resapan air…yaitu pupuk organic(kkp)
tanpa bahan kimia.

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>