Eksistensi Lanskap Agrowisata BOPUNJUR

10 12 2009

Kesesuaian tata guna lahan (land use) untuk kawasan wisata sejalan dengan peranannya untuk menata keberlanjutan sumber daya alam (SDA) yang ada di dalamnya. Dalam artian bahwa untuk mengelola suatu kawasan wisata kita harus menyesuaikannya dengan kondisi alam yang sebenarnya. Tidak memanipulasi hingga merusak alam itu sendiri. Secara teori, tingkat kesesuaian suatu lahan mengacu pada faktor-faktor pembatas (limiting factor) yang ada pada kondisi existing kawasan tersebut. Tujuan utamanya sudah tentu untuk mendapatkan kondisi yang terideal sebagai kawasan wisata dengan segala aktifitas di dalamnya.

Booming-nya salah satu aktifitas wisata, yang biasa disebut agrowisata (agrotourism) tidak terlepas dari keberadaaan SDA yang ada. Agrowisata atau wisata pertanian mulai bermunculan di daerah pinggiran kota (urban fringe) atau juga di daerah perdesaan yang didominasi dengan lanskap pertaniannya. Lonjakan yang saat ini terasa drastis adalah agrowisata di kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur). Kawasan Bopunjur yang masih dalam satu gradien garis lurus dalam DAS Ciliwung, secara signifikan menjejakkan kiprahnya dalam wisatanya orang kota itu.

Berdasarkan Surat Keputusan bersama Menteri Pariwisata, Pos dan telekomunikasi dengan Menteri Pertanian yang dituangkan dalam SK Bersama No. KM 47/PW.DVM/MPPT.88 dan No. 204/KPTS/MK.050/4/1989, agrowisata diartikan sebagai suatu bentuk aktifitas yang memanfaatkan usaha agro sebagai obyek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Jelas di sini agrowisata bukan sekedar piknik dan tamasya saja. Tetapi, dibutuhkan suatu komoditas pertanian untuk merealisasikan apa yang disebut agrowisata. Tidak juga hanya sekedar hiburan, tetapi juga pengetahuan, pengalaman dan proses produksi komoditas tersebut.

Proses produksi komoditas pertanian inilah yang sebenarnya merupakan nilai jual aktifitas agrowisata. Tanpa komoditas pertanian, agrowisata hanya menjadi wisata biasa saja. Produk yang disajikan dalam agrowisata tidak hanya pemandangan kawasan pertanian yang estetis dan nyaman saja, tetapi juga aktifitas para petani beserta teknologi khas yang digunakan sedemikian rupa sehingga wisatawan juga dapat mengikuti aktitfitas tersebut. Disajikan juga nilai histori lokasi, budaya pertanian yang khas, arsitektur, atau pun aktifitas-aktifitas yang menjadi keunikan kawasan tersebut. Aktifitas ini mencakup persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemanenan, pengolahan pasca panen dan juga pemasarannya. Dalam aktifitas agrowisata, para petani didalamnya dapat menjadi objek bagian dari produk yang ditawarkan dan juga menjadi pemilik atau pengelola kawasan tersebut.

Eksistensi lanskap agrowisata pada kawasan Bopunjur memberikan manfaat yang tidak sedikit, yakni (1) membantu mengonservasi lingkungan, (2) memberikan nilai estetika lingkungan, (3) merangsang kegiatan ilmiah dan ilmu pengetahuan, (4) sebagai tempat pemulihan (re-creation), (5) memberikan nilai ekonomi bagi rakyat di sekitarnya. Poin kelima telah menjadi statement yang sangat krusial karena aktifitas agrowisata tanpa keterlibatan masyarakat di sekitarnya, ibarat membangun kerajaan tanpa prajurit.

Namun, perlu diperhatikan pula bahwa pengembangan lanskap agrowisata tidak lagi sekedar pembangunan ekonomi saja, tetapi juga merupakan proses pembangunan kebudayaan yang mengandung arti pengembangan dan pelestarian. Secara konkret harus diimplementasi bahwa agrowisata seyogyanyalah senantiasa melestarikan dan melindungi kekayaan yang ada didalamnya, apapun itu. Tidak hanya kekayaan alam tetapi juga kekayaan budaya, masyarakat, etnis, arsitektur dan sebagainya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Bopunjur dikategorikan sebagai kawasan tertentu yang memerlukan penanganan khusus dan merupakan kawasan yang mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya harus diprioritaskan. Selain itu sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bopunjur ditetapkan fungsi utama kawasan sebagai kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Namun kenyataannya, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% yang seharusnya menjadi kawasan lindung yang ada telah digunakan sebagai kawasan budidaya. Bisa dibayangkan bagaimana hebatnya perkembangan pembukaan lahan selama satu dekade ini. Pembukaan lahan tidak hanya dilakukan oleh individu perorangan tetapi juga secara massal dan kolosal. Beberapa investor terbukti telah membangun berbagai struktur dan fasilitas di kawasan Bopunjur. Sebagian bahkan mengembangkan kawasan rekreasi yang mereka kleim sebagai lanskap agrowisata. Perlu bercermin bahwa definisi agrowisata telah tercantum dalam SK Bersama seperti yang telah disebutkan di atas.

Introduksi dan penetrasi para investor yang hanya berbasis ekonomi (economic based) dan money oriented sangat merugikan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Pemerintah perlu melakukan monitoring dan actuating demi menjaga keberlangsungan kawasan Bopunjur. Karena banjir yang menjadi tradisi (see Iklan banjir kok jadi tradisi? Tanya kenapa?) benar-benar akan jadi heritage bagi generasi di masa mendatang. Kerusakan lingkungan bisa terjadi karena daya dukung lingkungan yang semakin merentan.

Daya dukung yang sudah mulai rentan secara sekilas juga bisa dilihat dari kondisi lalu lintas di kawasan Bopunjur. Pertambahan jumlah kendaraan bermotor tidak diimbangi dengan pertambahan ruas jalan, akibatnya sudah tentu adalah kemacetan. Saat weekend adalah puncak kemacetan di seluruh kawasan Bopunjur. Hampir di setiap persimpangan akan ditemui kemacetan. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa demand kebutuhan masyarakat terhadap rekreasi sangat tinggi, namun disisi lain supply yang tersedia tidak mencukupi.

Titik temu yang bisa diberikan untuk melindungi lingkungan tanpa melupakan sisi supply and demand itu adalah dengan lanskap agrowisata. Karena pengembangan agrowisata tidak boleh tidak harus memperhatikan, (1) daya dukung lingkungan, (2) diversitas, (3) estetika alam, (4) vandalisme, (5) polusi, (6) dampak sosial budaya, dan (7) pengelolaannya. Pengelolaan lanskap agrowisata yang baik selalu merupakan pengelolaan yang berbasiskan masyarakat (community based). Pengelolaan lanskap agrowisata selalu menunjukkan suatu usaha perbaikan kehidupan masyarakat di sekitarnya (terutama para petani) dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada secara fungsional berdaya guna dan secara estetika bernilai indah.

Berhasilnya pengelolaan lanskap agrowisata diawali dengan pemilihan lokasi pengembangan lanskap agrowisata. Lokasi yang ideal adalah daerah yang masyarakatnya memperlihatkan tata hidup tradisional dan memiliki pola kehidupan sistem pertanian secara luas termasuk berdagang dan sebagainya serta berada tidak jauh dari lalu litas wisata yang cukup padat. Pemilihan lokasi ini memenangkan aspek supply-demand yang telah disebutkan di atas. Langkah berikutnya adalah penzonasian (zoning). Penzonasian lanskap agrowisata terdiri dari (1) zona penyangga (buffer zone), (2) zona pemanfaatan (activities zone), (3) zona rimba (wilderness zone) dan (4) zona inti (sanctuary zone). Semakin ke inti maka pengelolaan semakin ekstensif, sebaliknya semakin ke luar maka pemanfaatannya semakin intensif. Pola pengolaan yang seperti ini sangat sesuai untuk kawasan Bopunjur.

Sementara itu, prospek pengembangan lanskap agrowisata di kawasan Bopunjur dapat dilihat melalui tiga aspek, yaitu (1) potensi objek agrowisata, dimana kawasan Bopunjur telah mempunyai supply SDA pertanian yang melimpah, (2) potensi pasar, actual-demand dan potential-demand masyarakat terhadap agrowisata saat ini yang semakin meningkat, dan (3) kondisi dan perkembangan infrastruktur, yakni transportasi, telekomunikasi, akomodasi, dan jaminan keamanan. Bila ketiganya sudah terbenahi dengan baik dan benar, maka pengembangan lanskap agrowisata bukanlah masalah.

Secara praktis, pengembangan lanskap agrowisata di kawasan Bopunjur bisa langsung diterapkan, karena didominasi oleh lanskap perdesaan. Artinya lanskap agrowisata akan berangkat dari lanskap perdesaan yang merupakan given area yang sesuai. Strategi pengembangan lanskap agrowisata perdesaan dipandang sebagai unsur pengembangan masyarakat yang lebih fundamental karena berbasiskan pada masyarakat, dan orientasinya menyangkut kemampuan mandiri manusia pada lanskap perdesaan. Semua program pengembangan sepatutnya bertindak sebagai motivator, inovator dan dinamisator terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakat menurut proses evolusi perdesaan yang wajar.

Dengan demikian idealisasi lanskap perdesaan sebagai lanskap agrowisata di kawasan Bopunjur hendaknya akan segera terealisasi. Saat ini beberapa arah pengembangan lanskap agrowisata telah diimplementasikan di kawasan lanskap perdesaan. Dalam tiga tahun ke depan kita akan bersaksi melihat realita agrowisata yang mampu mengakomodir supply-demand dengan tidak melupakan keberlanjutan lingkungan.



Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>