Ekologi Lanskap – Part 1

30 01 2011

by Regan Leonardus Kaswanto

Dunia Arsitektur Lanskap kian hari kian berkembang, ditandai dengan makin sadarnya manusia akan arti lingkungan dan alam sekitarnya. Keselarasan hidup dengan alam, baik yang biotik maupun abiotik, kerap kali telah terbukti memberikan banyak manfaat positif. Manusia memang tidak bisa lepas dari lingkungannya, bahkan kadangkala justru lingkunganlah yang membentuk manusia. Semakin baik lingkungannya, maka semakin dipercaya bahwa manusia yang ada di dalamnya juga akan semakin membaik kualitas hidupnya. Karenanya, prinsip dasar Arsitektur Lanskap kiranya perlu disosialisasikan ke masyarakat.

Prinsip dasar imu Arsitektur Lanskap adalah bagaimana mengorganisasi suatu ruang dengan elemennya agar secara fungsional berdaya guna dan secara estetika bernilai indah. Prinsip sederhana ini bermuara pada perpaduan nilai fungsional dan estetika. Sejatinya dalam merancang apapun, kedua nilai ini harus tercapai, bila tidak, itu bukanlah Arsitektur Lanskap. Pencapaian nilai estetika bisa ditempuh dengan jiwa seni seseorang, dan hal ini tidak akan dibahas terlalu detil dalam tulisan ini.

Pencapaian dalam nilai fungsional, salah satunya dapat ditempuh dengan ilmu Ekologi Lanskap. Bahkan pada akhirnya nilai estetika akan terbentuk dengan sendirinya bila aspek ekologi lanskap ini diterapkan dengan sangat baik.

Ada empat aspek yang merupakan dasar dari Ekologi Lanskap, yakni (1) struktur, (2) fungsi, (3) dinamika dan (4) budaya. Keempat aspek ini akan dibahas secara mendetil dalam tulisan ini karena semuanya sangat berkaitan dan menjadi mata rantai yang memutar roda keberlanjutan dalam satu ekosistem.

STRUKTUR

Struktur mengandung pengertian seluruh elemen yang menyusun lingkungan tersebut, apa pun itu. Struktur adalah kumpulan material yang membentuk suatu ekosistem, baik di darat maupun di lautan, baik di udara maupun di dalam air, baik bergerak ataupun tidak, baik bernapas ataupun tidak. Semua elemen yang ada didalamnya dikatakan sebagai bagian dari struktur.

Strutktur kerap dilihat dari 2 dimensi. Dimensi pertama adalah struktur vertikal, yakni bagaimana seluruh elemen tersusun dalam pengaruh gravitasi bumi atau tegak lurus dengan permukaan bumi. Sebagai contoh, ragam tinggi gedung, ragam strata tanaman, perbedaan altitude, variasi elevasi, dan sebagainya.  Keragaman vertikal atau biasa kita kenal dengan vertical diversity menjadi landmark dan mosaic yang unik dari setiap lanskap. Tidak akan ada keragaman vertikal yang identik dalam dua lanskap yang berbeda. Satu lanskap telah dipastikan mempunyai karakternya sendiri, keragamannya adalah identitasnya. Kumpulan mosaic dalam lanskap tersebut dalam matrix yang khas menjadikannya karakter yang khas.

Dimensi kedua adalah struktur horizontal, atau kondisi terestrial dalam satu lanskap. Misalkan luas area, jenis tata guna lahan, jenis tanaman, dan sebagainya. Keragaman horizontal atau horizontal diversity merupakan penampakan penampang suatu lanskap dari atas permukaan bumi, semakin tinggi keragamannya maka semakin baik. Namun keragaman ini bersifat parabolik, ada satu titik di mana keragaman ini justru akan memberikan dampak negatif. Layaknya sifat jenuh air yang enggan melarutkan gula yang sebanyak-banyaknya, begitu pula sifat ini telah berada di alam sedemikin lamanya seumur bumi ini tercipta.

Pemahaman akan makna struktur ini akan memudahkan kita dalam menganalisis permasalahan apa pun di dunia aristektur lanskap. Secara spasial, bila seorang arsitek lanskap yang bergerak bidang  RS dan GIS memahami makna struktur maka dia tidak akan berkutat dengan masalah teknis alat dan bahan, tetapi lebih ke arah tujuan dan analisis struktur tersebut. Bukanlah tugas seorang arsitek lanskap untuk mengetahui secara detil apa yang salah dengan satelit dan reflektannya, tetapi seorang arsitek lanskap perlu tahu prinsip dari perlunya satelit dan makna reflektan tersebut.

…bersambung

Bagian dari tulisan ini rencananya akan diterbitkan dalam satu publikasi



Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>