Belajar dari Kupu-Kupu

27 12 2009

Seseorang menemukan kepompong kupu-kupu. Suatu hari dia melihat lubang kecil muncul pada kepompong tersebut. Dia duduk mengamati beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang itu memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu itupun keluar dengan mudahnya, namun tubuhnya kembung dan kecil dengan sayap-sayap yang mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa pada suatu saat sayap-sayap tersebut akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu tersebut, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi semuanya tak pernah terjadi.Kenyataanya kupu-kupu itu malah menghabiskan seluruh waktunya untuk merangkak dengan tubuh kembung dan sayap-sayap yang mengkerut.Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk melewati lubang kecil itu ternyata adalah jalan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah sesuatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan mungkin itu justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita inginkan. Kita mungkin tidak akan pernah “terbang”.

Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita memohon kekuatan, tetapi Tuhan memberikan kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar. Kita memohon kebijakan,tetapi Tuhan memberikan berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Kita memohon kemakmuran, tetapi Tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya untuk mencapai kemakmuran. Kita memohon keteguhan hati, tetapi Tuhan memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta, tetapi Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita memohon kemurahan dan kebaikan, tetapi Tuhan memberi kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing kita. Kadang Ia tidak memberikan yang kita minta, tapi yang pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Kebanyakan kita tidak mengerti atau mengenal, bahkan tidak mau menerima rencanaNya. Padahal justru itulah yang terbaik untuk kita. Tetaplah berjuang dan berusaha. Jika itu yang terbaik, maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita.

sumber : http://www.facebook.com/l/5f64a;daunlontar.com




Sebuah Koin

26 12 2009

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si Teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si Kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.




Ingat Peraturan No.5

21 12 2009

Suatu hari Sang Guru sedang rapat dengan seorang rekan bisnisnya. Di
tengah-tengah rapat, tiba-tiba seorang anak buah Sang Guru masuk ke
ruang rapat sambil tersengal-sengal dan dengan kalut dia melaporkan
sesuatu kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: “Ingat peraturan nomor 5.” Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sepenanak nasi kemudian, seorang anak buah lainnya dari Sang Guru
menginterupsi rapat dan dengan resah mengeluhkan suatu masalah yang
tampaknya membuatnya berbeban berat.

Sang Guru menjawab: “Ingat peraturan nomor 5.” Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sejenak berlalu, lagi-lagi seorang anak buah yang lain dari Sang Guru
menerobos ke ruang rapat dan dengan penuh kekesalan menyampaikan uneg-
unegnya kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: “Ingat peraturan nomor 5.” Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Menyaksikan peristiwa itu, rekan bisnis Sang Guru tidak tahan lagi
untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Ia bertanya: “Apa sih peraturan
nomor 5 itu?”

Sang Guru menjawab: “JANGAN SERIUS-SERIUS AMAT LAH.”

“Ooo, itu peraturan yang bagus,” ujar rekan bisnisnya seraya mengangguk-
angguk, “lalu, apa bunyi peraturan-peraturan lainnya?”

“Nggak ada sih, itu aja!” sahut Sang Guru sambil tersenyum lebar.

Cerita di atas mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai kelapangan
hati. Dalam keseharian hidup, kita senantiasa berkecimpung dengan hal-
hal yang membuat kita cemas dan kesal. Andaikata kita bisa meletakkan
setiap permasalahan kita dalam perspektif yang benar-benar esensial dan
bernilai, kita akan bisa berpikir dengan lebih jernih.

Sebuah studi menunjukkan bahwa “penyebab kecemasan” orang-orang adalah:
– hal-hal yang tak pernah terjadi: 40%
– hal-hal yang silam dan tak bisa diubah: 30%
– perasaan takut sakit: 12%
– hal-hal sepele atau kurang beralasan: 10%
– masalah yang nyata/betulan: 8%

Jadi, survei membuktikan: 92% adalah kecemasan semu nan sia-sia!
Seiring dengan tumbuhnya kedewasaan spiritual kita, kita akan semakin
menyadari kenyataan bahwa sehebat apa pun, kita dan segala atribut kita
bukanlah pusat dari alam semesta. Dengan pemahaman ini, tatkala kita
menghadapi kecemasan atau kekesalan, kita bisa mengingatkan diri bahwa
apa yang terjadi pada kita bukanlah hal yang bersifat “personal”.

Alam dan kehidupan berjalan secara tidak memihak. Semakin kita mampu
menyelaraskan diri dengan jalannya kehidupan, akan semakin damai dan
bahagialah kita. Kalau kita senantiasa ingat “peraturan nomor 5”, kita
akan lebih mudah untuk terus bangkit dan melenggang dalam segala
terpaan hidup.

Be happy!
——————————————————————-
Illuminata ini disumbangkan oleh: HANDAKA VIJJANANDA .




Snow Christmas Tree v1.6

17 12 2009

This tree can countdown days until Christmas or New Year. And notify you about the incoming holiday every half hour or hour by a funny ringing bell (if you wish, of course ). Besides, the program does not limit your choice of one tree – You can choose one from several skins.

Choose a Christmas Tree from several skins.
Countdown the Days until Christmas, New Year and Julian Christmas.
Listen a nice Jingle Bells sound sample every hour.
Bring Christmas to your desktop!

Please click here

http://www.respectsoft.com/download.php

Silahkan didownload software kecil ini, sangat berguna bagi mereka yang ingin merayakan natal di laptopnya. Softwarenya sangat simple namun membawa kehangatan Natal yang luar biasa…

Silahkan saja ya…. Kalo udah nyobain jgn lupa untuk share pengalamannya di sini…

Salam…

Snow Christmas Tree v1.6




Snow Christmas Tree v1.6

17 12 2009

This tree can countdown days until Christmas or New Year. And notify you about the incoming holiday every half hour or hour by a funny ringing bell (if you wish, of course ). Besides, the program does not limit your choice of one tree – You can choose one from several skins.

Choose a Christmas Tree from several skins.
Countdown the Days until Christmas, New Year and Julian Christmas.
Listen a nice Jingle Bells sound sample every hour.
Bring Christmas to your desktop!

Please click here

http://www.respectsoft.com/download.php

Silahkan didownload software kecil ini, sangat berguna bagi mereka yang ingin merayakan natal di laptopnya. Softwarenya sangat simple namun membawa kehangatan Natal yang luar biasa…

Silahkan saja ya…. Kalo udah nyobain jgn lupa untuk share pengalamannya di sini…

Salam…

Snow Christmas Tree v1.6




Menanam Kebaikan

16 12 2009

Alkisah, di suatu kerajaan, sang raja merasa masygul. Ia merasa hatinya gundah.

Semenjak ia melanjutkan tugas dan tanggung jawab ayahandanya untuk memerintah dan mengatur agar seluruh rakyat dapat hidup aman, tenteram & sentosa, ia telah berusaha sebaik-baiknya tetapi akhir-akhir ini ia merasa jenuh. Semua bebannya yang ditanggungnya dirasakan demikian berat, dan hidup menjadi rutinitas tiada akhir dan membosankan. Sehingga ia memutuskan untuk berlibur, menikmati hidup bukan sebagai raja melainkan sebagai rakyat jelata, sekaligus untuk melihat-lihat dari dekat hasil jerih payahnya selama ini.

Sepanjang masa liburnya, raja sebenarnya cukup terhibur melihat kemajuan kerajaannya. Ia dapat melihat bahwa rakyatnya hidup berkecukupan, pemerintahan berjalan dengan cukup baik, walaupun ada hal2 yang masih bisa ia sempurnakan.

Tetapi, entah mengapa, semakin ia nikmati liburannya, rasanya semakin malas ia untuk kembali ke istana.

Suatu hari, ia singgah di suatu daerah dan entah kenapa, ia tertarik kepada seorang pemuda yang sedang menanam pohon. Pemuda itu bertubuh kekar & kuat, tetapi ketika bekerja, ia tampak lemas dan tak bersemangat.

Setelah mengucap salam, sang raja bertanya kepada sang pemuda. “Hai kawan, engkau tampak lelah, apakah engkau sakit ? Siapakah yang memaksamu untuk tetap bekerja dalam kondisi sakit ?”

“Saya tidak sakit tuan, hanya saya tidak menyukai pekerjaan ini” jawab sang pemuda. “Aku membantu ayahku untuk menanam tiga ratus pohon zaitun. Jikalau bukan karena ayahku, aku tak akan melakukannya. Bayangkan, tiga ratus pohon zaitun? Belum juga seratus pohon, aku sudah tak ingin melakukannya lagi” keluh sang pemuda.

“Dimana ayahmu? Mungkin aku bisa bicara dengannya..” . “Beliau ada di belakang bukit ini” ujar sang pemuda sambil menggerakkan tangannya menunjukkan arah.

Raja segera bergegas ke belakang bukit, tetapi sesampainya ia disana, ia tertegun. Dilihatnya, pohon yang telah ditanam jauh lebih banyak dari sang pemuda padahal sang ayah ternyata sudah renta, Dan ia bekerja penuh semangat.

Kagum, raja menghampirinya. Seraya mengucap salam, raja bertanya “Wahai orang tua, engkau demikian bersemangat sekali. Apa yang engkau tanam?”

“Saya sedang menanam pohon zaitun” jawab sang kakek. “Sebanyak ini? Untuk apa?

Lagipula, bukankah pohon zaitun baru berbuah 6-7 tahun kemudian ? Melihat usia kakek, mungkin kakek tidak bisa lagi mengunyah dan menikmati buahnya, lantas apa untungnya?” Raja semakin heran.

“Tuan mengajukan pertanyaan yang sama seperti anak saya” ujar sang kakek sambil menghela napas. “Tuan mungkin telah berjumpa dengan anak saya, ia anak yang baik, walau ia tak mengerti sepenuhnya alasan saya, tapi ia tetap membantu karena tak ingin saya mengerjakan semuanya sendirian”.

“Tuan, saya memang tidak berniat untuk merasakan manfaat dari pohon yang saya tanam ini. Saat pohon ini berbuah, belum tentu saya masih hidup. Saya menanam pohon-pohon ini, karena buah zaitun yang selama ini saya nikmati juga berasal dari pohon yang ditanam oleh orang sebelum saya. Saya ingin membalas kebaikan mereka dengan menanam kebaikan yang sama. Membayangkan buah zaitun yang berlimpah yang bisa dinikmati banyak keluarga, pohon yang hijau & rindang yang memberikan naungan dari terik dan hujan, minyak zaitun yang memberi manfaat, semua itu membuat saya bersemangat untuk menanam pohon sebanyak yang saya bisa”.

Raja tercenung mendengar jawaban sang kakek. Ia tak hanya melihat ketulusan dan kebaikan hati sang kakek, ia juga melihat perbedaan motivasi yang menggerakkan sang pemuda dan ayahnya itu. Sementara sang pemuda melihat pekerjaan tsb sebagai beban yang harus ditanggungnya, ayahnya terdorong oleh gambaran indah dari hasil yang akan dicapainya.

Diakuinya, ia juga melakukan hal yang serupa dengan sang pemuda. Walau ia berusaha memerintah dengan sebaik-baiknya, itu semua dilakukan untuk menghormati kebesaran ayahnya, raja terdahulu dan agar warisan ayahnya tetap terjaga dengan baik. Itu semua adalah beban yang harus ditanggungnya sebagai penerus tahta.

Tapi, kini ia bisa melihat bahwa semuanya terserah dirinya, apakah ia memilih melihatnya sebagai beban, atau fokus pada gambaran indah yang bisa dicapainya.

Raja tersenyum dan berkata “Wahai orang tua, ketahuilah bahwa aku sebenarnya adalah Rajamu. Kebaikanmu telah mengajarkan aku. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, terimalah hadiah dariku” lantas ia memberikan sekantung uang dirham kepada sang kakek.

Dengan hormat, kakek itu menerima hadiah tersebut, tersenyum dan berkata “Wahai Tuan Raja, tadi engkau bertanya “apa untungnya”. Lihatlah, belum juga selesai hamba menanam, walau bukan buah dari pohon yg saya tanam, Tuhan telah memberi rizki satu kantung uang melalui tangan Paduka”.

Raja kembali tertegun, ia memang tidak percaya apa yang disebut “kebetulan”, karena kebetulan hanya mungkin timbul dari ketidakteraturan murni (pure chaos), sementara pengalamannya mengajarkan bahwa problem paling kusut pun memiliki pola-pola keteraturan yang memungkinkannya untuk diuraikan.

Bukanlah kebetulan kalau hari ini ia bertemu orang tua istimewa itu, dan bukanlah kebetulan pula jika kebaikannya diganjar sepundi uang melalui perantaraan dirinya.

Ia lantas memeluk kakek itu. “Terima kasih atas pengajaran tuan” ujarnya.

Hari itu juga raja kembali ke istana, langkahnya ringan dan hatinya senang. Tekadnya makin mantap, untuk segera menanam kebaikan-demi kebaikan.

Moral of the Story :

  • Adalah keputusanmu, pilihanmu sendiri, apakah hidup untuk menanggung beban, atau mengejar tujuan.
  • Kebaikan yang engkau terima saat ini, bisa jadi adalah buah dari kebaikan orang-orang sebelum kamu.
  • Jika engkau berbuat baik, Tuhan akan membalasnya – walau bukan dalam bentuk kebaikan yang sama – bahkan ketika engkau belum menyelesaikan perbuatan baikmu.



Fw:3×8=24?

14 12 2009

Taken from: sejenakbijak@yahoogroups.com

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusus. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”

Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong
untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah.
Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat.

Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.
Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.
Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon.
Dan jangan membunuh.”

Yan Hui menjawab, “Baiklah,”lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya.
Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.
Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:”Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”

Confucius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya aku mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka aku mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”

Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin aku bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau aku bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”

Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Adopted from “David Lau”




Don't Judge Life by One Season

13 12 2009

There was a man who had four sons. He wanted his sons to learn not to judge things too quickly. So he sent them each on a quest, in turn, to go and look at a pear tree that was a great distance away.

The first son went in the winter, the second in the spring, the third in summer, and the youngest son in the fall.

When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.

The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted. The second son said no it was covered with green buds and full of promise.

The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so sweet and looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.

The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfillment.

The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.

He told them that you cannot judge a tree, or a person, by only one season, and that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.

If you give up when it’s winter, you will miss the promise of your spring, the beauty of your summer, fulfillment of your fall.

Moral:
Don’t let the pain of one season destroy the joy of all the rest. Don’t judge life by one difficult season. Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time or later

– May the Almighty God Bless Us –




Don’t Judge Life by One Season

13 12 2009

There was a man who had four sons. He wanted his sons to learn not to judge things too quickly. So he sent them each on a quest, in turn, to go and look at a pear tree that was a great distance away.

The first son went in the winter, the second in the spring, the third in summer, and the youngest son in the fall.

When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.

The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted. The second son said no it was covered with green buds and full of promise.

The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so sweet and looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.

The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfillment.

The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.

He told them that you cannot judge a tree, or a person, by only one season, and that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.

If you give up when it’s winter, you will miss the promise of your spring, the beauty of your summer, fulfillment of your fall.

Moral:
Don’t let the pain of one season destroy the joy of all the rest. Don’t judge life by one difficult season. Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time or later

– May the Almighty God Bless Us –




Kekuatan atau Kelemahan

11 12 2009

Alkisah, di sebuah kota kecil di Jepang, terdapat seorang anak yg lengan kirinya buntung, tetapi ia sangat menyukai beladiri judo, dan sudah mengikuti latihan di sebuah dojo.

Selama berlatih, sang guru hanya mengajarkan satu jurus saja. Walaupun jurus itu termasuk sukar untuk dikuasai, anak ini merasa tak puas, karena ia melihat murid-murid lainnya mempelajari bermacam-macam teknik. Akhirnya setelah 6 bulan, ia tak kuasa lagi menahan kesabarannya. Lantas ia menemui sang guru; “Sensei, bolehkah aku bertanya? Mengapa selama 6 bulan ini aku hanya berlatih jurus ini saja”.

Gurunya hanya menjawab singkat “Karena engkau murid yang istimewa dan hanya jurus ini yang engkau perlukan” Ia tak berani lagi bertanya dan memilih untuk berlatih dengan tekun. Semakin lama jurus itu semakin dikuasainya dan mendarah daging dalam dirinya. Tak ada seorangpun yang semahir dia dalam menggunakan jurus tsb.

Setahun kemudian, sang guru menyertakan dirinya dalam kejuaran nasional di ibukota. Walaupun merasa pesimis & minder, ia menuruti permintaan sang guru & mereka berangkat ke ibukota.

Kejuaraan dimulai. Di luar dugaannya, dengan mudah ia bisa menjatuhkan & mengunci lawan-lawannya. Babak demi babak ia lalui, sampai akhirnya ia harus menghadapi juara tahun lalu di babak Final. Walau memakan waktu cukup lama dan menguras tenaganya, lagi-lagi ia berhasil memenangkan pertandingan.

Dalam perjalanan pulang, sembari membahas & mengevaluasi pertarungannya, sang anak bertanya kembali “Sensei, saya heran, mengapa hanya bermodal satu jurus ini saja saya bisa memenangi pertandingan. Saya masih belum mengerti ucapan Sensei dulu, apa istimewanya saya dan mengapa hanya satu jurus ini?”

Sang Sensei tersenyum & berkata; “Muridku, Cara bertarung setiap orang adalah unik, tergantung dari kekuatan & kelemahannya. Praktisi beladiri perlu mempelajari berbagai teknik & jurus sampai akhirnya ia menemukan kekuatan & kelemahannya dan akhirnya memilih teknik & jurus yang sesuai, yaitu teknik2 yg memanfaatkan kekuatanya dan menutupi kekurangan atau bahkan mengubahnya sebagai kekuatan”.

“Engkau istimewa, karena kekuranganmu sudah jelas. Sehingga tak perlu engkau menghabiskan waktu mempelajari berbagai jurus & teknik yang sudah pasti tidak engkau perlukan. Dan jurus itu paling cocok bagimu, karena selain jurus tersebut salah satu jurus tersulit dalam Judo, satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan mengunci lengan kirimu”.

Kadang orang mengira bahwa kekurangannya merupakan hukuman, kutukan dan menyesalinya. Padahal, di dunia ini banyak sekali terdapat kemungkinan dan tak mungkin semuanya diraih. Orang-orang yg memahami kekurangannya seharusnya bisa menyadari hal2 yang mustahil ia lakukan dan tak membuang waktu percuma untuk mengejarnya. Dan orang-orang yang juara adalah orang2 yang menggunakan semaksimal kekuatannya dan juga berhasil menggunakan kelemahannya juga sebagai kekuatan.

Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi kita semua…