Resolusi Tahun 2013 – RESOLUSI DAHSYAT!!

1 01 2013

Resolusi Tahun 2013 harus segera dituliskan. Resolusi memiliki dua arti yang sangat penting. Pertama sebagai pengingat apa yang harus kita kerjakan, dan kedua adalah untuk membantu agar kita lebih FOKUS. Seperti hukum LAW OF ATTRACTION, kekuatan pikiran sungguh maha besar, alam semesta akan bekerja keras mendukung pikiran yang terfokus. Bahkan hasilnya akan lebih dahsyat bila diiringi dengan DOA. Sebab, tidak ada perkara yang terlalu KECIL sehingga TUHAN tidak mau membantu dan tidak ada perkara yang terlalu BESAR sehingga TUHAN tidak bisa membantu.

Bayangkan bila alam semesta dengan ijin TUHAN menggenapi resolusi tahun 2013. Sungguh tidak ada hal yang mustahil. Satu resolusi yang dahsyat sangat diperlukan dalam menyongsong tahun 2013. Satu resolusi DAHSYAT bisa diketahui saat Anda menuliskannnya, Anda akan terasa BERGETAR penuh semangat dan motivasi dan terselit sekerat keraguan. Jika ketika Anda menuliskannya, Anda merasa biasa saja, berarti itu resolusi BIASA-BIASA saja. Pikirkan satu resolusi DAHSYAT yang menggetarkan hati ketika Anda menuliskannnya, yang membuat Anda takjub terdiam ketika menuliskannya.

So, pikirkan satu resolusi. Selamat Tahun baru 2013, mari songsong tahun ini dengan hati yang penuh semangat dan satu resolusi yang DAHSYAT.

 




Cara Berdoa Novena 3 Salam Maria

11 02 2012

Nemuin link bagus untuk Doa Novena 3 Salam Maria.

Silahkan share http://www.bundasuci.net/

====================================

Di bawah ini cara berdoa Novena 3 Salam Maria

Semoga dengan doa ini banyak yang terkabulkan doa-doanya. Tuhan memberkati

 

Buatlah tanda salib
Demi Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus . Amin

Tanda Salib

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Syahadat Para Rasul

Aku percaya akan Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi;
dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita;
yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus;
disalibkan, wafat dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;
yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa;
dari situ Ia akan datang, mengadili orang yang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal,
Amin.

Bapa Kami

Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu,
datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat,
Amin.

Salam Maria

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan serta-Mu,
terpujilah Engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini,
sekarang dan waktu kami mati,
Amin.

Kemuliaan

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad,
Amin.

Terpujilah …

Terpujilah nama Yesus, Maria dan Yosef,
sekarang dan selama-lamanya.

Kemudian di lanjutkan doa Novena 3 Salam Maria

NOVENA TIGA SALAM MARIA

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalma kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.

Baik keluhuran Tuhan, penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar sesuai dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku moho, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.

Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau bertahukan tentang kebaikan doa “Tiga Salam Maria”, yang sangat besar manfaatnya itu.

(Salam Maria……..3x) di lanjutkan ujub doa kita (……ujub doa……………)

Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.

Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diri seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.

O Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.

Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi “Tiga Salam Maria” aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu

(Salam Maria……..3x)di lanjutkan ujub doa kita (…..ujub doa sama dengan yg 1…………….)

O Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai “Bunda yang penuh belas kasih”, aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku.

Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu.

Engkau memperkenalkan diri sebagai “Bunda para pendosa yang bertobat” kepada St. Brigita, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.

O Bunda, Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi “Tiga Salam Maria”, aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.

(Salam Maria……..3x)di lanjutkan ujub doa kita (……..ujub doa sama dengan yg 1………….)

Catatan Tambahan

* Sebaiknya ditambahkan doa: “Bunda Maria, Bunda yang baik dan murah hati, jauhkanlah (diriku, dia, kami) dari dosa berat”
* Jika permohonan anda mengenai perkara besar dan penting, hendaklah melakukan novena ini tiga kali berturut-turut
* Berjanjilah pada Bunda Maria:
o Setiap pagi dan sore setia berdoa “Salam Maria”
o Mengumumkannya kalau permohonan anda itu telah dikabulkan , sebagai tanda terima kasih dan penghormatan kepada Bunda Maria yang tersuci.

 

Sumber: http://www.bundasuci.net/article/view/67/news/cara_berdoa_novena_3_salam_maria.html




Perjalanan Menembus Waktu

20 12 2011

Gw percaya, seluruh manusia di dunia ini pasti semuanya ingin kembali ke suatu masa di masa lalunya yang ingin dia rubah. Ada satu masa di masa silam yang ingin dia perbaiki. Entah mau dibatalkan, entah mau dilakukan, entah mau diulang ataupun entah mau dibuat lebih baik. Gw percaya ada satu titik di mana setiap manusia di bumi ini ingin memperbaiki satu kejadian di masa lalunya. Kalau ngga yakin dengan teori ini. Coba ambil waktu 30 detik dan bayangkan satu kejadian di masa lalu lu yang mau elu ubah. Apapun itu. Misalkan mau membatalkan pernah mencuri ayam tetangga, atau mau membatalkan kejadian yang memalukan. Ataupun juga ingin melakukan sesuatu yang dulu ragu-ragu untuk dilakukan. Atau ingin merayakan kesuksesan yang dulu pernah diraih dengan cara yang lebih baik. Atau ingin mengambil satu kesempatan yang dulu pernah hadir di hadapan elu, namun dulu elu abaikan. Ekstremmnya lagi, pernah melakukan kejahatan yang maunya dibatalkan sehingga tidak ada perasaan bersalah hingga saat ini. Nah, titik tersebutlah yang mau gw bahas di sini.

Teringat dengan film “Back to the Future”? Suka ngga ama film ini? Gw juga suka banget ama film ini. Film ini menceritakan impian besar manusia untuk menembus waktu. Cerita bagaimana si jagoannya bisa melakukan perjalanan menembus waktu. Film ini sangat disukai banyak orang, terbukti dengan dibuatnya sequel film ini ampe 3 biji. Luar biasa… Ini bukti juga kalo teori gw mendekati kenyataan dan bisa dibilang BETUL!!!

Teringat pula dengan teori “Butterfly Effect”? Dimana gara-gara menginjak kupu-kupu di masa lalu, situasi di masa kini menjadi berubah sama sekali. Perjalanan ke masa lalu berakibat fatal di masa depan hanya gara-gara hal sepele. Secara teori, gara-gara menginjak kupu-kupu itu semua proses dan mata rantai makanan menjadi berubah. Semua kejadian dalam rentetannya yang seharusnya terjadi menjadi tidak terjadi, sehingga terjadi chaos, kacau balau!

Teringat juga dengan film anime “Doraemon” yang dikirim untuk membantu Nobita agar di masa depannya menjadi orang yang lebih baik? Atau ingat film Terminator, tentang si Arnold yang dikirim ke masa lalu untuk mengubah masa depan? Singkatnya, jika suatu saat manusia bisa menciptakan mesin waktu maka mereka pasti akan ke masa lalu untuk mengubah sesuatu, atau pergi ke masa depan untuk melihat apa yang bisa diubah di masa sekarang.

Nah, perjalanan menembus waktu ini lah yang mau gw ulas secara lugas dalam blog gw ini. Jikalau elu bisa melakukan perjalanan menembus waktu, apa hal pertama yang mau elu lakukan? Silahkan dilist minimal 5 hal yang mau elu lakuin.

Silahkan…!!!




Where Love Is, God Is

15 12 2010
By Leo Tolstoy

Renungan Natal: "Dimana Ada Cinta-Kasih, Disana Ada Tuhan"

Adalah seorang tukang sepatu yang bernama Martin Avdeich, dia tinggal di satu apartemen bawah tanah dengan satu jendela kecil. Dari jendela itulah dia bisa melihat orang yang lalu lalang dari kakinya. Martin yang karena pekerjaannya sebagai tukang sepatu, tidaklah sulit buat dia mengenali orang yang lalu lalang itu dari sepatu yang dipakainya. Martin adalah pekerja keras, dia tidak pernah menipu pelanggannya, dia selalu menggunakan bahan terpilih untuk membuat sepatu, dia juga selalu tepat janji, pendek kata Martin selain pekerja keras juga pekerja yang baik.

Martin pernah mengalami kekecewaan dengan Tuhan saat istri dan anak-anaknya meninggal, di tengah kekecewaannya dia pernah minta supaya Tuhan juga memanggilnya, karena dia sudah tidak melihat arti hidupnya ini. Di saat keadaan yang paling susah itulah dia bertemu orang yang mengingatkan kalau Tuhan sudah memberinya hidup, dan mengingatkan Martin bahwa hidupnya harus diberikan kepada Tuhan. Di tengah ketidak mengertiannya dan usahanya bagaimana caranya memberikan hidup untuk Tuhan, tiba-tiba dia bermimpi, mendengar suara Tuhan, “Martin … Martin .. berjaga-jagalah Aku akan datang ke tempatmu esok”.

Besoknya Martin menanti-nanti. Kadang-kadang ia berpikir suara itu hanya mimpi, kadang-kadang ia meyakini ia benar-benar mendengar suara itu. Martin duduk di samping jendelanya sambil bekerja. Tiap kali dia menatap ke jalan menunggu Tuhan datang. Akhirnya dari jendelanya Martin melihat orang berpakaian usang, dengan sepatu penuh jahitan dan sebuah sekop di tangan. Dari sepatunya Martin tahu bahwa orang tua itu Stephanich, orang miskin yang menumpang di rumah orang lain dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan salju. Ia mulai membersihkan salju di depan jendela Martin. Martin mengamati Stephanich sampai Stepanich meletakkan sekop, dan kelihatan menggigil mencari tempat istirahat dan berlindung dari hawa dingin. Orang tua ini kelihatan sangat rapuh. Martin mengundangnya masuk. Stephanich begitu gemetar sampai hampir jatuh waktu masuk. “Masuklah ke dalam dan aku punya teh hangat,” demikian seru Martin kepada Stepanich. Stepanich yang ragu-ragu masuk ke rumahnya bertanya apakah Martin sedang menunggu seseorang? Martin menjawab, “Saya sebenarnya malu untuk mengatakan pada anda bahwa memang saya sedang menunggu Tuhan, seperti yang saya pahami melalui Alkitab bahwa betapa betapa besar kasih Tuhan sampai Dia mau turun ke bumi”. Begitulah Martin bukan hanya memberikan teh tetapi juga bagian makan siangnya yang sangat sederhana. Stephanich pamit dengan air mata di pipi karena rasa terimakasihnya yang dalam.

Martin menunggu lagi. Berbagai orang lewat lalu lalang. Tuhan belum juga muncul. Sampai dilihatnya seorang wanita miskin dengan bayinya. Wanita ini hanya berpakaian musim panas, wanita ini tidak punya uang untuk menebus syal nya yang digadaikan. Martin bangkit dan memanggil wanita itu untuk masuk kerumahnya. Martin menyambut wanita dan bayinya ini. Memasak bubur untuk bayi itu dari persediaannya yang tipis dan memberikan uang kepada wanita itu supaya ia bisa menebus syal yang dia gadaikan untuk memberi makan bayinya. Ia juga memberikan satu-satunya mantel cadangannya yang juga sudah tua dan benangnya yang sudah menipis. Wanita miskin tersebut mengambil pemberian Martin dengan air mata yang berlinang.

Martin, duduk lagi. Hari mulai sore. Dia makan sisa makanan yang masih tersedia, bekerja lagi. Tapi dia tetap berkali-kali memandang ke jalan. Menunggu dan menunggu datangnya Tuhan.

Tidak lama seorang wanita tua penjual apel lewat. Punggungnya menggendong kayu bakar, dan tangannya menjinjing keranjang dagangan yang hanya berisi beberapa butir apel. Kayu bakarnya sangat berat sehingga ia berhenti, membetulkan gendongannya. Ia meletakkan keranjangnya di tanah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil lari dan mengambil beberapa apel. Tapi nenek ini dengan cekatan menjambret baju anak itu.

Nenek itu menarik rambut anak kecil itu dan berteriak akan membawa dia ke kantor polisi. Martin meminta-minta agar si nenek tidak membawa anak itu ke polisi. Martin akan membayar apelnya.

Akhirnya nenek melepaskan pegangannya dan anak itu langsung melarikan diri. Martin menangkapnya dan berkata, “Mintalah maaf kepada nenek itu, dan saya tidak ingin melihat engkau mengambil apelnya lagi”.

Anak itu minta maaf. Malahan dia menawarkan diri mengangkat kayu bakar si nenek. Mereka berjalan berdampingan.

Martin menunggu. Hari mulai malam. “Tampaknya hari sudah gelap”, pikir Martin. Dia membersihkan peralatannya. Menyalakan lampu. Mengambil Alkitabnya. Dan dia merenung menantikan Tuhan. Tetapi sudah malam., apakah Tuhan masih akan datang?

Martin kembali merenung akan mimpinya yang mendengar suara Tuhan, kalau Dia akan datang kerumahnya… Tiba -tiba dia mengalami situasi yang sama dalam mimpinya, dia mendengar lagi suara yang berkata di telinganya “Martin … Martin, apakah kamu tidak mengenal aku?”

“Siapa?” tanya Martin,

“Aku”,  jawab suara itu. Di tengah kegelapan malam Martin melalui kaca jendelanya samar-samar melihat Stephanich yang tersenyum.

“Ini adalah Aku”, terdengar ada suara itu lagi, dan Martin sama-samar melihat wanita tua dan bayinya dan lenyap.

“Ini adalah Aku”, terdengar suara lagi, dan Martin samar-samar melihat wanita tua dan apelnya bersama dengan anak laki-laki.

Melihat itu jiwa Martin gembira karena dia teringat apa yang tertulis di Alkitabnya, “Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku.”

Impian Martin menjadi kenyataan, Tuhan memang sudah datang dan makan bersamanya hari itu. Martin akhirnya boleh mengerti, “Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku.”

Jikalau 2000 tahun yang lalu Tuhan hadir ke dunia dalam bayi Jesus, saat ini Tuhan bisa hadir diantara kita melalui orang -orang di sekitar kita, bukalah pintu hati kita, sama seperti Martin Avdeich yang selalu menyambut hangat sesamanya.

(Cerita ini diambil dari “Where Love Is, God Is” karangan Leo Tolstoy, 1885. Cerita yang dari 14 halaman, dicoba diringkas menjadi 1 halaman, mudah-mudahan pesannya masih bisa kita nikmati sebagai renungan Natal)

Sumber: gkisu@yahoogroups.com




Kisah Mikhail

14 04 2010


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon . Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Kata Matrena pada suaminya, “ Simon , tagihlah hutang orang-orang yang tempo hari kita buatkan sepatu. Siapa tahu mereka kini punya uang.”

Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi sungguh sial, tak satu pun yang membayar. Hanya ada seorang janda yang memberinya 20 kopek (kopek uang receh Rusia). Dengan sedih Simon pulang. “Batallah rencana kami mempunyai mantel baru”, pikirnya. Di warung, Simon minum vodka untuk menghangatkan badannya yang kedinginan dengan uang 20 kopek tadi. Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja.

Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia ? Setankah ? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”.

Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya. Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata “HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU ? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA ?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sor ot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel terluarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon , sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena sudah menunggu. Ia marah sekali karena melihat Simon tidak membawa mantel baru, apalagi ketika dilihatnya Simon membawa seorang pria asing. Dia nyerocos marah-marah, “ Simon , siapa ini? Mana mantel barunya ? Astaga ! Kau bau vodka. Teganya kau mabuk menghabiskan uang yang seharusnya kaubelikan mantel !!” Simon mencoba menyabarkan Matrena, “Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Aku tidak mabuk, aku hanya minum vodka sedikit untuk mengusir hawa dingin. Adapun orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.

“Bohong !! Aku tak percaya…. sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu ! Malam ini aku tak akan menyiapkan makan malam. Cari saja makan sendiri ! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala !! Usir saja dia !!” “Astaga, Matrena ! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit cinta kasih Tuhan ??”

Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Tanpa mengomel lagi disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. “Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu ? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja? Apakah seseorang telah merampokmu ?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”

“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab. “Tak apa, Simon . Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.” “Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”. Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. “ Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu ? Kita ini miskin. Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?

“Kita bisa terlibat kesulitan”, Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon . Simon menjawab, “Sudahlah Matrena. Percayalah pada penyelenggaraan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini. Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon . Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus.

Banyak pesanan mengalir dari dari desa-desa yang penduduknya kaya. Usaha Simon menjadi maju. Ia tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya. Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. “Hai Simon , kudengar kau dan pembantumu pandai membuat sepatu. Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu ; rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan !! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati; ini kulit yang sangat mahal!”

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Orang kaya yang melihatnya membentak, “Hei, tukang sepatu, awas jangan mengejekku, ya !! Bukan hanya majikanmu yang kumasukkan penjara kalau sepatuku jebol sebelum setahun. Kau juga takkan lolos dariku !!” Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Setelah harga disepakati, orang itu pun pergi pulang. Simon berkata, “Mikhail, kau sajalah yang  mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Biar aku mengerjakan pesanan lain saja. Kau berkonsentrasi menyelesaikan pesanan ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon . “Astaga, Mikhail, kenapa kaubuat sepatu anak-anak ? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar ? Aduh, bagaimana ini ? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….”, belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. “Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”. “Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon ”,   Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah  tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi.  Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang. Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, “Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang ?” Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang.

Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.” “Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, Matrena berkata.  Mendengar itu, Mikhail tidak lagi gelisah. Ia berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, “Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.”

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, “Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini ? Mengapa selama di sini kau hanya tersenyum tiga kali, dan mengapa tubuhmu sekarang bercahaya?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, “Sebenarnya aku adalah salah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu meskipun toh akhirnya kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggapNya kejam.

Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku  ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, ‘MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI: PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ? KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA ? KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA ?’ ”

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut di belakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, ‘Tidakkah di hatimu ada sedikit cinta kasih  Tuhan??’ Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama: YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH CINTA KASIH TUHAN”

“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua: MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”

“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Aku menyangsikan apakah si kembar dapat hidup tanpa ayah ibunya padahal mereka masih bayi. Tapi ternyata ada seorang ibu lain yang mau merawat dan mengasihi mereka seperti anak kandung sendiri. Tadi Matrena berkata, ‘Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya’ Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya . Aku tahu kebenaran yang ketiga: MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA. Simon , Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Kini aku harus kembali. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.”

Seiring dengan itu, tubuh Mikhail terangkat dan tubuhnya makin bercahaya. Mikhail kembali ke surga.




Apa yang Kita Sombongkan?

30 03 2010

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?




Allahpun Menangis Bahagia

9 03 2010



Suatu musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya.
Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu. Sungai-sungai
mengering. Itu adalah musim kering yang cukup parah bahkan ada mungkin
sebelum musim panas berakhir banyak dari para petani sudah harus mengalami
kebangkrutan. Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal
mungkin mengairi ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan
akhirnya proses ini melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik
penyimpan air setempat dan mengisinya dengan air. Penjatahan air yang ketat
membuat banyak orang kesusahan. Kalau hujan tidak turun juga dengan segera
kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga tentang
memberi
dan aku menyaksikan sendiri mujizat terjadi. Saat sedang di dapur menyiapkan
makan siang, aku melihat anak laki-lakiku, Billy, 6 tahun, sedang berjalan
ke hutan. Langkahnya tidak seperti anak kecil pada umumnya, sepertinya
sedang berjalan dengan satu tujuan yang sangat penting sekali. Aku hanya
bisa melihat punggungnya saja.

Dengan upaya yang besar, ia mencoba berjalan dengan tenang. Setelah
menghilang ke dalam hutan, segera dia sudah terlihat kembali, berlari
kencang menuju rumah. Aku tidak terlalu perduli, rasanya ia sudah selesai
dan aku meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat aku kembali melihat Billy,
seperti tadi lagi langkahnya tetap tenang.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu terus menerus. Akhirnya aku tidak
tahan lagi, langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (tapi berusaha untuk
tidak diketahui… rasanya dia tak mau ibunya tahu apa yang sedang
dikerjakannya) .

ia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, mencoba untuk tidak
menumpahkan satu tetespun Air ditangannya yang kecil itu paling hanya
sebanyak 1 atau 3 sendok makan. Aku mencoba lebih mendekat saat dia sedang
berjalan menuju hutan. Ranting-ranting pohon dan duri mengenai wajah
kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk menghindar. Dia lebih
memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang
sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy
berjalan tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya
menjauh. Seekor rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang
mendekat. Tapi rusa itu tidak melakukan apa-apa, bahkan ketika Billy duduk
berlutut. Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas
sekali sedang menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku
melihat anak rusa itu dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya
untuk bisa menjilat air dari tangan kecil anakku. Demikian Billy
melakukannya.

ketika airnya habis, segera Billy berdiri, kembali berlari ke rumah,
berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy membukanya dan aliran air
yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan tangannya sambil
berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu memenuhi tangannya
dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.
Butuh waktu kira-kira 2 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan kecilnya.
Setelah penuh dia berdiri dan kembali ke hutan, disaat itulah dia baru
menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata yang hampir
mengalir dia berkata, “aku nggak sedang buang-buang air,” katanya.

Akhirnya aku menemaninya. ..kali ini dengan membawa mangkuk kecil yang sudah
berisi air. Aku menunggu di kejauhan, membiarkannya memberi minum anak rusa
itu. Itu pekerjaannya. Aku berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah
hati yang luar biasa indah, dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk
menyelamatkan sebuah kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air
yang lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang
ke langit dan bisa merasakan bahwa Allah pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan. Bahwa mujizat itu
tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun. Aku tidak dapat
mendebatnya. .. dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku katakan hanyalah
bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan pertanian kami,
seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang telah
menyelamatkan nyawa makhluk lain.
———— ——–
From:Agustinus Cahyana




Believe in Santa Claus

4 01 2010

I remember my first Christmas adventure with Grandma. I was just a kid.  I remember tearing across town on my bike to visit her. On the way, my  big sister dropped the bomb: “There is no Santa Claus,” she jeered.  “Even dummies know that!”

My Grandma was not the gushy kind, never had been. I fled to her that day because I knew she would be straight with me. I knew Grandma always told the truth, and I knew that the truth always went down a whole lot easier when swallowed with one of her “world-famous” cinnamon buns. I knew they were  world-famous, because Grandma said so. It had to be true.

Grandma was home, and the buns were still warm. Between bites, I told her everything. She was ready for me.

“No Santa Claus?” she snorted…”Ridiculo us!  Don’t you believe it! That rumor has been going around for years, and it makes me mad, plain mad!!  Now, put on your coat, and let’s go.”  “Go?  Go where Grandma”, I asked. I hadn’t even finished my second world-famous cinnamon bun.

“Where” turned out to be Kerby’s General Store, the one store in town that had a little bit of just about everything.
As we walked through its doors, Grandma handed me ten dollars. That was a bundle in those days.

“Take this money,” she said, “and buy something for someone who needs it.  I’ll wait for you in the car.”
Then she turned and walked out of Kerby’s.

I was only eight years old.  I’d often gone shopping with my mother, but never had I shopped for anything all by myself.  The store seemed big and crowded, full of people scrambling to finish their Christmas shopping.

For a few moments I just stood there, confused, clutching that ten-dollar bill, wondering what to buy, and who on earth to buy it for. I thought of everybody I knew: my family, my friends, my neighbors, the kids at school,  the people who went to my church.

I was just about thought out, when I suddenly thought of Bobby Decker. He was a kid with bad breath and messy hair, and he sat right behind me in Mrs. Pollock’s second grade class.

Bobby Decker didn’t have a coat. I knew that because he never went out to recess during the winter.  His mother always wrote a note telling the teacher that he had a cough, but all we kids knew that Bobby Decker didn’t have a cough; he didn’t have a good coat.

I fingered the ten-dollar bill with growing excitement.  I would buy Bobby Decker a coat!  I settled on a red corduroy one that had a hood to it. It looked real warm, and he would like that.

“Is this a Christmas present for someone?” the lady behind the counter asked kindly, as I laid my ten dollars down.
“Yes ma’am,” I replied shyly. “It’s for Bobby.”

The nice lady smiled at me, as I told her about how Bobby really needed a good winter coat.
I didn’t get any change, but she put the coat in a bag, smiled again, and wished me a Merry Christmas.

That evening, Grandma helped me wrap the coat (a little tag fell out of the coat, and Grandma tucked it in her Bible) in Christmas paper and ribbons and wrote, “To Bobby, From Santa Claus” on it.

Grandma said that Santa always insisted on secrecy. Then she drove me over to Bobby Decker’s house, explaining as we went that I was now and forever officially, one of Santa’s helpers.

Grandma parked down the street from Bobby’s house, and she and I crept noiselessly and hid in the bushes by his front walk. Then Grandma gave me a nudge. “All right, Santa Claus,” she whispered, “get going.”

I took a deep breath, dashed for his front door, threw the present down on his step, pounded his door and flew back to the safety of the bushes and Grandma.

Together we waited breathlessly in the darkness for the front door to open.  Finally it did, and there stood Bobby.
Fifty years haven’t dimmed the thrill of those moments spent shivering beside my Grandma, in Bobby Decker’s bushes.  That night, I realized that those awful rumors about Santa Claus were just what Grandma said they were: ridiculous.. ..

Santa was alive and well, and we were on his team.  I still have the Bible, with the coat tag tucked inside: $19.95.

May you always have LOVE to share, HEALTH to spare and FRIENDS that care…

And may you always believe in the magic of Santa Claus

Give back – what you can, where you can, whenever you can.

I remember my first Christmas adventure with Grandma. I
was just a kid.  I remember tearing across town on my bike to visit her. On the way, my  big sister dropped the bomb: “There is no Santa Claus,” she jeered.  “Even dummies know that!”

My Grandma was not the gushy kind, never had been. I fled to her that day because I knew she would be straight with me. I knew Grandma always told the truth, and I knew that the truth always went down a whole lot easier when swallowed with one of her “world-famous” cinnamon buns. I knew they were  world-famous, because Grandma said so. It had to be true.

Grandma was home, and the buns were still warm. Between bites, I told her everything. She was ready for me.

“No Santa Claus?” she snorted…”Ridiculo us!  Don’t you believe it! That rumor has been going around for years, and it makes me mad, plain mad!!

Now, put on your coat, and let’s go.”  “Go?  Go where Grandma”, I asked. I hadn’t even finished my second world-famous cinnamon bun.

“Where” turned out to be Kerby’s General Store, the one store in town that had a little bit of just about everything.
As we walked through its doors, Grandma handed me ten dollars. That was a bundle in those days.

“Take this money,” she said, “and buy something for someone who needs it.  I’ll wait for you in the car.”
Then she turned and walked out of Kerby’s.

I was only eight years old.  I’d often gone shopping with my mother, but never had I shopped for anything all by myself.

The store seemed big and crowded, full of people scrambling to finish their Christmas shopping.

For a few moments I just stood there, confused, clutching that ten-dollar bill, wondering what to buy, and who on earth to buy it for.

I thought of everybody I knew: my family, my friends, my neighbors, the kids at school,  the people who went to my church.

I was just about thought out, when I suddenly thought of Bobby Decker. He was a kid with bad breath and messy hair, and he sat right behind me in Mrs. Pollock’s second grade class.

Bobby Decker didn’t have a coat. I knew that because he never went out to recess during the winter.  His mother always wrote a note telling the teacher that he had a cough, but all we kids knew that Bobby Decker didn’t have a cough; he didn’t have a good coat.

I fingered the ten-dollar bill with growing excitement.  I would buy Bobby Decker a coat!  I settled on a red corduroy one that had a hood to it. It looked real warm, and he would like that.

“Is this a Christmas present for someone?” the lady behind the counter asked kindly, as I laid my ten dollars down.

“Yes ma’am,” I replied shyly. “It’s for Bobby.”

The nice lady smiled at me, as I told her about how Bobby really needed a good winter coat.

I didn’t get any change, but she put the coat in a bag, smiled again, and wished me a Merry Christmas.

That evening, Grandma helped me wrap the coat (a little tag fell out of the coat, and Grandma tucked it in her Bible) in Christmas paper and ribbons and wrote, “To Bobby, From Santa Claus” on it.

Grandma said that Santa always insisted on secrecy. Then she drove me over to Bobby Decker’s house, explaining as we went that I was now and forever officially, one of Santa’s helpers.

Grandma parked down the street from Bobby’s house, and she and I crept noiselessly and hid in the bushes by his front walk.

Then Grandma gave me a nudge. “All right, Santa Claus,” she whispered, “get going.”

I took a deep breath, dashed for his front door, threw the present down on his step, pounded his door and flew back to the safety of the bushes and Grandma.

Together we waited breathlessly in the darkness for the front door to open.  Finally it did, and there stood Bobby.

Fifty years haven’t dimmed the thrill of those moments spent shivering beside my Grandma, in Bobby Decker’s bushes.

That night, I realized that those awful rumors about Santa Claus were just what Grandma said they were: ridiculous.. ..

Santa was alive and well, and we were on his team.  I still have the Bible, with the coat tag tucked inside: $19.95.

May you always have LOVE to share, HEALTH to spare and FRIENDS that care…

And may you always believe in the magic of Santa Claus

Give back – what you can, where you can, whenever you can.




Kekuatan Genggaman Tangan

4 01 2010

Ada seorang gadis kecil bernama Elina. Suatu hari Elina diajak ayahnya berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, mereka harus melalui sebuah jembatan kecil di atas sebuah sungai.

Ayah Elina sedikit khawatir. Ia berkata pada Elina, “Elina, ayo genggam tangan Papa. Biar kamu tidak jatuh ke sungai.”

“Tidak,” tolak Elina. “Seharusnya, Papa yang menggenggam tanganku”.

“Lho, memang apa bedanya?” tanya ayahnya bingung.

“Berbeda sekali, Papa. Jika aku yang menggenggam tangan Papa dan terjadi sesuatu pada diriku, bisa saja genggamanku terlepas. Tapi, jika Papa yang menggenggam tanganku, apapun yang terjadi, aku yakin Papa tidak akan melepaskan genggaman Papa padaku,” jawab Elina.

Ayah Elina sangat terkejut mendengar jawaban dari anaknya. Setelah dipikirkan kembali, ia merasa apa yang dikatakan oleh anaknya sangat benar. Jadi, ia menggenggam tangan anaknya dengan penuh kasih untuk menyeberangi jembatan itu.

Apa arti cerita ini?

Kepercayaan tidak sekedar mengikatkan diri satu sama lain. Namun, kepercayaan harus bisa saling mempersatukan. Jadi, genggamlah tangan orang yang kita sayangi, daripada mengharapkan orang itu menggenggam tangan kita.

Sumber: sejenabijak@yahoogroups.com




Kisah David dan Telepon Umum

3 01 2010

David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya yaitu satu keping uang logam itu ke dalam telepon.

“Halo, apa kabar,” telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. “David dengan nada agak terisak berkata: “Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan.” “Ibu David berkata: “Anak tersayang, mama tahu.” Sudah tahu kenapa masih tidak mengirim uang? David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya: “Mama, apa yang telah terjadi di rumah?” Ibu David berkata: “Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi.” Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri.”

Ibu David berbicara sampai di situ, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Diujung telepon lainnya, air mata David juga “tes”, “tes” tak hentinya menetes, dan ia berpikir: Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung. David berkata kepada ibunya: “Mama, kamu jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian.” Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out. Pada detik ketika David mengatakan “Sampai jumpa” kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu.

David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, satu: Karena tidak ada yang tahu, dua: Diri sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon. Mendengar penuturan David, nona pelayanan umum berkata: “Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon).” Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali.

Sekali lagi David menelepon pelayanan umum yang berkata: “Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan.” Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu. Tak lama kemudian, nona pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David: “Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak punya cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana .” “Hore!” David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah dan gamblang menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama menghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti.

Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan. Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya.

David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel. Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David.

Sang ibu menulis di dalam suratnya: “Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup.” Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan.” Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: “Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya.”

Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat dipenuhi antusiasme: “Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $ 9,50 yang dikembalikan dengan $ 10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan: Di saat paling sulit, satu: Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata; dua: Jangan melupakan menjaga moralitas.”

20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David sekarang? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, presiden direktur saat ini, ialah David. David, selain itu juga adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal.

(From: Hendric Leenardo )