Workshop ISS-CNS

19 05 2015
Workshop ISS-CNS

Workshop ISS-CNS

Source: iss-cns.event.ipb.ac.id

WORKSHOP ISS-CNS: The International Seminar on Science (ISS) is a biannual scientific meeting that organized by the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University. For this year, we focus on the science of complex systems, especially that related to Complex Natural Systems.

As an interdisciplinary branch of science, nowadays, the study of complex systems has become interesting due to its important to understand the emergent properties of nature and social systems. Self organization,self-similarity and self-assembly are among the important behavior that occurred due to complexity.

The seminar will be held on 10th October 2015, and a day before we also organize a Workshop on Computational Modeling of Complexity.

Detail click here iss-cns.event.ipb.ac.id




Land Suitability for Agrotourism Through Agriculture, Tourism, Beautification and Amenity (ATBA) Method

12 04 2015

Procedia

My article entitled “Land Suitability for Agrotourism Through Agriculture, Tourism, Beautification and Amenity (ATBA) Method” has been published. Please take a look!

Agrotourism as an accession of human needs has to be appropriated in term of sustainability, suitability, beautification and comfortability. Therefore, a research to evaluate this activity has been elaborated through a method of four aspects, namely agriculture, tourism, beautification and amenity (ATBA). It means the landscape development has to promote sustainable for agriculture, suitable for tourism activity, esthetically beautiful for environment and comfortable for amenity resources. The spatial approach was designed by combining the value of landscape element through LANDSAT satellite image. The aim of this research is to design an optimal land management scenario from four aspects of ATBA method. The final overlay result of ATBA is performed in four levels i.e. 3,355 ha (14.5%), moderate 12,657 (54.7%), low 5,946 (25.7%) and nil 1,180 (5.1%).

Source: Procedia Environmental SciencesVolume 24, 2015, Pages 35–38

Please download fullpaper here:

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1878029615000742




SRTM-1 (1 Arc second) Available at 30m

12 01 2015
SRTM-logo (Source: http://komunitas-atlas.blogspot.com/2011/11/shuttle-radar-topography-mission-srtm.html)

SRTM-logo (Source: http://komunitas-atlas.blogspot.com/2011/11/shuttle-radar-topography-mission-srtm.html)

 

Source: http://www.digital-geography.com/dem-comparison-srtm-3-vs-aster-gdem-v2/#.VK6sNyusUrU

From now on, SRTM-1 can beat the free ASTER-DGM with a large global coverage. It’s worthy to give it a try. Have fun in examining the new data for your region!

For Indonesian Scientist please give your best shot for proving our capability. Ayo duong!!!

 




Restorasi Ekosistem

23 12 2014
Pembanguan perlu Restorasi

Restorasi Lanskap setelah pembangunan

Restorasi Ekosistem atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilahEcosystem Restoration merupakan kegiatan pemulihan ekosistem sedemikian rupa sehingga dapat kembali ke ekosistem aslinya. Perubahan ekosistem bisa saja terjadi karena perubahan penggunaan lahan akibat gangguan manusia (human disturbance) atau akibat bencana alam (natural disturbance). Proses pengembalian ekosistem seperti semula ini tentu tergantung dari empat faktor, yakni 1) frekuensi disturbance, 2) ukuran disturbance, 3) luasan area yang terkena disturbance, dan 4) laju recovery dari disturbance.

Tiga faktor yang disebutkan di awal, yakni  frekuensi, ukuran dan luasan area, berbanding lurus dengan effort yang dibutuhkan untuk pulih. Artinya semakin sering terjadi gangguan, semakin besar skala gangguan dan semakin luas area yang terkena gangguan, maka proses pemulihan membutuhkan waktu, biaya dan energi yang juga semakin besar. Sementara faktor keempat, yakni laju recovery berbanding terbalik dengan effort yang dibutuhkan. Artinya semakin tinggi laju recovery, maka effort untu pulih semakin sedikit.

Dalam konteks lanskap, restorasi lanskap juga diartikan sebagai upaya memulihkan kembali lanskap alami sebagaimana pembangunan belum dilaksanakan.  Restorasi lanskap dilakukan dengan mengadopsi praktek pada sistem agroforestri, agrosilvofishery dan agrosilvopastura. Praktek ini akan memberikan jasa lanskap yang maksimal baik dari keindahan lanskap, pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, hingga produksi baik secara material maupun immaterial. Pilar keberlanjutan dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial-budaya bisa dituangkan melalui konsep kebun campuran (mixed gardens), talun (forest gardens), hingga pekarangan (home gardens).  Konsep tersebut menyajikan keberagaman vertikal dalam stratifikasi tinggi tanaman, dan keberagaman horizontal dalam berbagai jenis vegetasi dan satwa. Struktur lanskap yang demikian dapat membantu ameliorasi iklim setempat, bahkwan dengan perhatian pada konsep water front landscape pada setiap potensi badan air baik dalam bentuk situ, danau, sungai dan lainnya akan lebih memberi dampak pendinginan udara yang signifikan.

 

 




Lanskap Agroforestri

15 12 2014
Lanskap Agroforestri (LAF) yang dikelola oleh Suku Baduy

Lanskap Agroforestri (LAF) yang dikelola oleh Suku Baduy

Definisi Lanskap Agroforestri

Lanskap Agroforestri (LAF) adalah kombinasi dalam skala lanskap antara pertanian dan kehutanan guna menciptakan keseimbangan dalam intensifikasi pertanian dan keberlanjutan hutan. LAF juga diinterpretasikan sebagai sistem dan teknologi penggunaan lahan ketika tanaman tahunan (perennials) dan tanaman pangan semusim (annual) dibudidayakan pada lanskap yang sama dengan pengaturan spasial dan temporal yang baik (Kaswanto, 2012) .  LAF kerap dikembangkan dengan sistem manajemen lahan yang intensif yang mengoptimalkan potensi lingkungan, sosial dan ekonomi dari interaksi bio-fisik ketika tanaman dapat tumbuh dengan baik (Christanty et al., 1986).  LAF juga mencakup penataan jaringan agroforestri (agroforestry network) sebagai proses lanskap sosial-budaya atau sosial-ekonomi dan harus dipertimbangkan sebagai fungsi ekologis sebagaimana seluruh komponen di dalamnya saling berinteraksi satu sama lain (Naveh and Lieberman, 1994). Bentuk LAF dapat berupa hutan tanaman, alley cropping, area penyangga, kebun campuran, ladang, dan juga pekarangan (Kumar and Nair, 2006). Analisi dan Pemodelan LAF umumnya dilakukan dengan pendekatan multidisiplin dari konsep pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan (agro-silvopastoral-silvofishery) dan geografi serta desain dan manajemen lanskap (Kaswanto et. al., 2014).

Jenis Lanskap Agroforestri

Lanskap Agroforestri dibedakan menjadi dua jenis yakni Agroforestri Sederhana dan Agroforestri Kompleks. Agroforestri Sederhana merupakan perpaduan konvensional yang terdiri atas sejumlah kecil jenis spesies di dalamnya, umumnya cenderung terlihat sebagai budidaya monokultur yang dominan dengan jenis tanaman tahunan komersial. Agroforestri Kompleks ditemukan dalam sistem-sistem yang didominasi kombinasi spesies pepohonan, perdu, tanaman musiman, semak dan atau rumput. Penampakan sekilas mirip dengan ekosistem hutan alam primer maupun sekunder, sehingga kerap disebut sebagai mimikri hutan tropika basah. Pada umumnya Agroforestri Kompleks lebih unggul karena perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya air, tanah dan udara yang sangat seimbang sehingga mampu mempertahankan ekosistemnya secara mandiri.

Manajemen LAF

Manajemen LAF berbasiskan Masyarakat Rendah Karbon sejatinya dapat menjadi solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan lingkungan yang semakin kritis akhir-akhir ini. Manajemen LAF yang baik sedikitnya mampu memberikan empat benefit yang mampu menyejahterakan rakyat, yakni benefit dari sisi keragaman hayati, ketersediaan carbon, pemenuhan gizi keluarga hingga benefit ekonomi berupa pendapatan sampingan.  Lebih detil mengenai Manajemen LAF silahkan akses ke  http://kaswanto.staff.ipb.ac.id/masyarakat-rendah-karbon-mrk/ atau ke publikasi desain lanskap

Kombinasi Lanskap Agroforestri

  • Agroforestri
  • Agropastoral
  • Agrofisheries
  • Agrosilvopastoral
  • Agrosilvofishery
  • Agrosilvofisherypastoral



Agrotourism Land Suitability by ATBA Method

11 12 2014

 

ATBA Method

Agrotourism Land Suitability by ATBA Method

SBE Method (Daniel and Boster 1976)

SBE Calculation

Agrotourism as an accession of human needs has to be appropriated in term of sustainability, suitability, beautification and comfortability. Therefore, a research to evaluate this activity has been elaborated through a method of four aspects, namely agriculture, tourism, beautification and amenity (ATBA). It means the landscape development has to promote sustainable for agriculture, suitable for tourism activity, esthetically beautiful for environment and comfortable for amenity resources. The spatial approach was designed by combining the value of landscape element through LANDSAT satellite image. The aim of this research is to design an optimal land management scenario from four aspects of ATBA method. The result shows that the area of highest scale for each aspect, i.e. agriculture covers 14,624 ha (63.2% of total watershed area), tourism about 8,908 ha (38.5%), beautification occupies 9,302 ha (40.2%), and amenity reaches 7,103 ha (30.7%). The final result from overlay of all aspects is performed in four levels i.e. 3,355 ha (14.5%), moderate 12,657 (54.7%), low 5,946 (25.7%) and nil 1,180 (5.1%). In addition, statistical analysis for beautification aspect was summarized in linier regression between Scenic Beauty Estimation (SBE) and Beautification Rate Index (BRI) as SBE = -16.24 + 21.35BRI. Furthermore a stepwise regression was performed through eight variables i.e. slope variation (X1), relief degree (X2), relief contrast (X3), land use concave (X4), naturalness (X5), land use compatibility (X6), vegetation strata contrast (X7), and internal variation of landscape cohesiveness (X8). The stepwise regression is represented significantly by two variables: X5 and X6, which positively affect the value of SBE which formed SBE = -6.32 + 12.74X5 + 11.58X6. Correlation analysis both amenity rate index (ARI) and BRI was described in ARI = 2.64 + 2.82BRI. The planning and management concepts were derived from triple bottom line benefit strategic aspect: 1) environmental conservation which is implemented by agroforestry concept, 2) community welfare which is approached by landscape beautification management, and 3) landscape amenity services by the rate of comfortable scale.

Keywords: land evaluation; landscape services; remote sensing; scenic beauty estimation (SBE); triple bottom line benefit




Poster Masyarakat Rendah Karbon

10 12 2014

Poster Seminar Hasil Penelitian LPPM IPB tanggal 2 & 3 Desember 2014.

Poster Masyarakat Rendah Karbon Kaswanto IPB

Poster MRK Seminar Hasil LPPM IPB 2&3 Des 2014

POSTER Masyarakat Rendah Karbon:

ANALISIS PERUBAHAN PENUTUPAN DAN PENGGUNAAN LAHAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI DI JAWA BARAT MENUJU MASYARAKAT RENDAH KARBON

Kaswanto1, Muhammad Baihaqi2, Akhmad Arifin Hadi1, Bhre Wijaya1, Yuliana Arifasihati1, Ni Putu Ria Febriana1
1Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
2Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

Perkembangan zaman dan teknologi menuntut masyarakat untuk selalu tumbuh dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut turut mempengaruhi perubahan penutupan dan penggunaan lahan, khususnya dalam kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Empat DAS yang diteliti, yakni 1) Ciliwung, 2) Cisadane, 3) Cimandiri, and 4) Cibuni masih mengalamai perubahan penutupan dan penggunaan lahan. Hal ini terjadi dan akan terus berlanjut karena bertambahnya pertumbuhan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan terobosan yang signifikan untuk menganalisis faktor pendorong perubahan tersebut melalui gerakan Masyarakat Rendah Karbon (MRK) – Low Carbon Socities (LCS), yang dianalisis dengan pemanfaatan teknologi yang ramah dan pintar, yakni GIS dan Remote Sensing. Adapun tujuan dari penelitian ini: 1) memantau dan menganalisis perubahan penutupan dan penggunaan lahan, dan 2) menganalisis faktor pendorong dari perubahan tersebut. Faktor pendorong dari keempat DAS dianalisis melalui citra satelit LANDSAT dalam tiga periode: 1978, 1995/6, dan 2012 dan disajikan melalui olahan statistika. Hasil penelitian menunjukkan penutupan lahan selalu berubah selama tiga periode. Perubahan tersebut diikuti dengan beberapa proses yang pada akhirnya berubah menjadi lahan terbangun dan lahan kering.

 

Kata Kunci:  Alih Fungsi Lahan, Jasa Lanskap, Lanskap Agroforestri, Low Carbon Societies, Pekarangan

www.kaswanto.staff.ipb.ac.id 




Masyarakat Rendah Karbon [MRK]

1 12 2014
Masyarakat Rendah Karbon

http://www.triplepundit.com/

Apa itu Masyarakat Rendah Karbon?

Masyarakat Rendah Karbon [MRK] atau istilah kerennya Low Carbon Societies (LCS) merupakan salah satu solusi yang sebaiknya ditempuh dalam menjawab permasalahan manajemen lanskap dari berbagai disiplin ilmu. Permasalahan lingkungan, sosial dan ekonomi yang bermunculan saat ini di negara Indonesia, sejatinya dapat diantisipasi dengan membentuk karakter masyarakat yang rendah emisi – rendah karbon. Definisi masyarakat rendah karbon (MRK) didesain untuk mengilustrasikan perspektif dan kebutuhan teori keberlanjutan. Definisi MRK dapat dipaparkan sebagai berikut (National Institute for Environmental Studies, 2006):

  1. Melakukan tindakan yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development – SD), menyakinkan bahwa kebutuhan pembangunan dari seluruh lapisan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
  2. Melakukan kontribusi nyata secara global untuk mempertahankan kestabilan udara dalam atmosfir terkait konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya, pada level yang tidak membahayakan bagi lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya.
  3. Mendemostrasikan efektifitas penggunaan energi secara baik dan menggunkan sumber energi yang rendah-karbon dan berteknologi ramah lingkungan.

Lanskap Agroforestri dan MRK

Desain lanskap agroforestri menuju MRK – LCS  juga bisa menjadi sebuah jawaban dalam mengatasi permasalahan manajemen lanskap yang terjadi akhir-akhir ini. Penataan jaringan agroforestri (agroforestry network) sebagai proses lanskap sosial-budaya atau sosial-ekonomi harus dipertimbangkan sebagai fungsi ekologis yang berkelanjutan. Pendekatan ekologi lanskap sebaiknya digunakan untuk menganalisis seluruh proses lanskap agroforestri yang berkaitan dengan 1) dinamika penggunaan lahan, 2) jumlah karbon tersimpan, 3) manajemen sumber daya air dan 4) manajemen lanskap agroforestri pada skala kecil (misal: pekarangan atau kebun  campuran). Permasalahan dalam majamen lanskap melalui desain lanskap agroforestri dapat diinvestigasi pada skala makro (macro-scale), skala meso (meso-scale) dan skala mikro (micro-scale). Skala makro biasanya difokuskan pada daerah aliran sungai (DAS), skala meso pada zona hulu-tengah-hilir dari DAS, sementara skala mikro pada pekarangan, sawah, kebun ataupun tegalan.

Permasalahan lain dalam proses desain lanskap agroforestri adalah perlunya disiplin ilmu dari bidang ilmu kehutanan (agro-forestry), peternakan (agro-pastura), teknologi pertanian (agro-technology) dan perikanan (agro-fishery). Selama ini lanskap agroforestri tidak hanya berkaitan dengan elemen lanskap berupa tanaman saja, namun juga berkaitan dengan elemen lanskap lainnya yakni tanaman tahunan (berkayu – sumberdaya hutan),  hewan ternak yang merupakan kompetensi ilmu peternakan, mekanisasi pertanian dan juga kolam-kolam ikan yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu desain lanskap agroforestri merupakan kerjasama antara fakultas pertanian, kehutanan, peternakan, teknologi pertanian dan perikanan. Bahkan disiplin ilmu yang lain juga bisa ikut terlibat untuk mengembangkan lanskap agroforestri, misalanya mengenai gizi masyarakat, ekonomi, sosial dan legalitas kawasan. Istilah agroforestri sendiri sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak lama.   Istilah ‘wanatani” lebih dahulu dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia.

Istilah “wana” yang berarti hutan dan “tani” yang berarti pertanian, kerap menghiasi khasanah ilmiah Indonesia, namun tenggelam tak terdengar sepak terjangnya lagi. Menurut Wikipedia, Wanatani atau agroforestry adalah suatu bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaanhutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanamanpertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan (http://id.wikipedia.org/wiki/Wanatani).

Sejatinya konsep Masyarakat Rendah Karbon dapat didekati dengan manajemen lanskap agroforestri. Manajemen lanskap agroforestri yang baik akan mengurangi percepatan alih fungsi lahan, akan membentuk rasa mencintai lingkungan, akan mengecambahkan benih-benih perilaku yang rendah emisi, bahkan jangkauan yang lebih jauh adalah akan membuat BUMI ini menjadi lebih baik. Alih fungsi lahan telah terbukti sebagai penyumbang terbanyak dalan kontribusi emisi karbon di dunia, bahkan ditengarai bahwa dunia kehilangan hutan seluas 33 kali lapangan sepakbola setiap menitnya, dan  Indonesia kehilangan hutan seluas 6 lapangan sepak bola setiap menitnya. Bayangkan berapa jumlah emisi karbon yang hilang saat Anda sedang membaca artikel ini. 

Rasa cinta lingkungan bisa dimulai dengan pemahaman bahwa “everything comes from carbon”. Setiap kertas yang kita gunakan, setiap baju yang kita kenakan, dan setiap peralatan yang kita hidupkan berasal dari karbon. Pemahaman ini akan mengubah “mental” seorang manusia sehingga memanfaatkan sumber daya lebih baik, tidak boros dan tidak buang sampah sembarangan.

Semoga gerakan Masyarakat Rendah Karbon di Indonesia semakin gencar dan membahana ke pelosok-pelosok daerah.

Salam MRK – LCS   Regards,

Dr. Kaswanto




Globally Important Agricultural Heritage systems (GIAHS)

30 09 2013

Worldwide, specific agricultural systems and landscapes have been created, shaped and maintained by generations of farmers and herders based on diverse natural resources, using locally adapted management practices. Building on local knowledge and experience, these ingenious agri-cultural systems reflect the evolution of humankind, the diversity of its knowledge, and its profound relationship with nature. These systems have resulted not only in outstanding landscapes, maintenance and adaptation of globally significant agricultural biodiversity, indigenous knowledge systems and resilient ecosystems, but, above all, in the sustained provision of multiple goods and services, food and livelihood security for millions of poor and small farmers (source: www.fao.org/giahs/en).




Lokakarya dan Seminar FKPTPI 2013

24 08 2013

Lebih detil: http://www.faperta.ipb.ac.id/fkptpi2013/

 

Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) akan menyelenggarakan lokakarya nasional pendidikan pertanian dan seminar dengan tema terwujdnya sistem pertanian-bioindustri berkelanjutan yang menghasilkan beragam pangan sehat dan produk bernilai tambah tinggi dari sumberdaya hayati pertanian dan kelautan tropika. Acara ini juga diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis IPB yang ke-50, usia emas!

Acara akan diselenggarakan pada tanggal 2-4 September 2013. Mohon partisipasi dan dukungannya. Silahkan klik link di bawah ini untuk mendaftar.

<http://www.faperta.ipb.ac.id/fkptpi2013/images/peserta.png>

http://www.faperta.ipb.ac.id/fkptpi2013/