MWSnap – Screen Capture Utility

24 10 2010

MWSnap is a small yet powerful Windows program for snapping (capturing) images from selected parts of the screen. Current version is capable of capturing the whole desktop, a highlighted window, an active menu, a control, or a fixed or free rectangular part of the screen. MWSnap handles 5 most popular graphics formats and contains several graphical tools: a zoom, a ruler, a color picker and a window spy. It can be also used as a fast picture viewer or converter. MWSnap does not require installation and does not need any special dlls, drivers or system files which can mess up your system.

Click this link http://www.mirekw.com/winfreeware/mwsnap.html

==============================================

MWSnap adalah software yang sangat bermanfaat untuk membuat artikel panduan seperti tutorial, pelatihan, pedoman, ataupun triks/tips yang berkaitan dengan penggunaan software pada komputer.Umumnya sebuah tutorial membutuhkan sebuah screenshot, dan ini dapat dilakukan dengan mudah melalui MWSnap.

Software ini bersifat opensource, jadi legal untuk Anda download. Silahkan manfaat software ini untuk mempermudah pekerjaan membuat tutorial dalam dunia RS dan GIS.

Silahkan klik link berikut ini http://www.mirekw.com/winfreeware/mwsnap.html




TUTORIAL GAP FILLING untuk Citra LANDSAT SLC-OFF

3 06 2010

(Dengan software  frame_and_fill dari NASA)

Satelit Landsat sejak tahun 2003 mengalami kerusakan pada band SLC, sehingga citra Landsat mengalami strip/garis-garis hitam pada hasil pemotretannya. Garis-garis hitam ini merupakan kawasan atau area yang tidak terpotret oleh satelit Landsat. Kondisi ini menyulitkan proses interpretasi citra. Contoh citra Landsat SLC-OFF adalah seperti gambar berikut ini:

Garis-garis hitam pada citra ini bentuknya akan semakin melebar ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, pada bagian tengahnya tidak mengalami stripping. Namun adakalanya juga citra landsat SLC-off ini memiliki garis itam yang menjang di sepanjang citra tersebut. Kondisi ini jelas tidak dapat ditolerir. Kondisi citra yang demikian, akan menyulitkan kita dalam melakukan interpretasi dan membuat kajian spatial lainnya. Oleh karena itu citra tersebut perlu diperbaiki. Beberapa point penting sebelum kita memulainya adalah :

Download citra dari :
http://glovis.usgs.gov/download
Software Frame_and_Fill dari :
http://landsathandbook.gsfc.nasa.gov/handbook/software/gap_filling_software.html

1. Siapkan citra master

Citra master adalah citra utama yang akan kita  gunakan.pilihlah dalam range 1 tahun citra dengan kondisi awan paling sedikit. Stripping yang terjadi pada citra landsat untuk setiap pemotretan tidaklah selalu sama, oleh karena itu, kita dapat mengisinya dengan citra pada waktu pengambilan berbeda, dengan path dan row yang sama. Usahakan dalam tahun yang sama pula.

2. Siapkan citra pengisi

Citra pengisi adalah citra dengan path dan row yang sama dengan citra master namun memiliki waktu pengambilan yang berbeda dan strippingnya tidak beririsan dengan citra master. Usahakan dalam tahun yang sama. Jika citranya tahun 2007, lalu pengisinya 2003, maka tidak bisa dikatakan bahwa itu kondisi tahun 2007. Maka sebaiknya adalah dengan mendownload citra dengan kondisi awan paling sedikit di tahun 2007 misal pada bulan maret, maka pengisinya adalah citra pada tahun 2007 juga dengan bulan yang berbeda yaitu februari, april, dst. Citra pengisi boleh lebih dari 1 waktu pemotretan.

TAHAPAN SETTING AWAL:

Buat folder/directory untuk penyimpanan citra.

Sebagai contoh buatlah directory Tutorial di drive D, menjadi : D:\Tutorial
Dalam directory tersebut, buatlah folder anchor sebagai tempat penyimpanan citra master menjadi:
D:\Tutorial\anchor\

Sebagai tempat penyimpanan citra untuk pengisi gap:
fill_scene_1 menjadi D:\Tutorial\fill_scene_ 1\

Bila lebih dari satu citra pengisi gap:
fill_scene_2 menjadi  D:\Tutorial\fill_scene_ 2\
(dilakukan jika pengisinya lebih dari satu waktu). Jika ingin ditambah lagi citra pengisinya untuk waktu yang berbeda, maka buat kembali folder fill_scene_. …. urutan angka pada baris terakhir digunakan sebagai urutan prioritan pengolahan, bukan urutan waktu pemotretan. Sehingga misalkan ada citra dengan kondisi awan sedikit, dipotret pada bulan desember. Lalu ada citra pengisi lain dengan kondisi awan lebih banyak pada bulan februari, maka citra pada bulan desember di letakkan di urutan folder fill_scene_1

Extract  program yang telah didownload dan letakkan di drive apa saja, karena program ini bersifat portable (tanpa installasi melalui wizard). Sebagai contoh folder D:\Software slc-off.

Kemudian double klik file frame_and_fill_ win32.exe untuk membuka program. Jika sudah, akan terdapat 3 pilihan yang harus dilakukan berurutan, yaitu RE-FRAME, GAP FILL SLC-OFF DAN DONE

Tahap pengerjaannya sebagai berikut:

1. Pilih menu RE-FRAME SLC-OFF

Pada number of fill scenes, isi jumlah citra pengisinya. Jika ada 3 waktu pengambilan, maka diisi 3 (atau sama dengan berapa jumlah folder  fill_scene_. .. yang telah dibuat sebelumnya. Pada “DIRECTORY PATH TO SCENE FOLDERS” isikan lokasi dimana kita menyimpan folder :anchor, fill_scene_1, fill_scene_2, tadi. Kemudian klik submit. Tunggu hingga proses complete.

2. Pilih Menu GAP FILL SLC-OFF

Setelah itu, kita akan melakukan pengisian gap citra.  Klik menu GAP FILL SLC-OFF, kemudian akan muncul list band yang akan diisi gapnya. Proses ini akan berlangsung lama, sekitar 8 menit untuk 1 kali pengisian. Jika yang akan diisi untuk band2 tertentu saja, misalnya band 3, 2, dan 1. Cukup dengan cara klik band 3, band 2, dan band 1 kemudian submit. Jika ingin semua langsung saja klik All Bands.

3. DONE

Jika proses telah selesai semua. Secara otomatis, setelah proses berlangsung, penamaan citra akan berubah. Jika kita merubah penamaannya, maka tidak akan berfungsi. Pola penamaannya adalah sebagai berikut.  Penamaan sebelum di lakukan re-frame (citra awal) sebagai berikut:

L71127060_060200707 03_B20.TIF

Setelah di reframe nama file akan menjadi:

L71127060_060200707 03_B20_reg. TIF

Setelah dilakukan pengisian gap maka penamaannya akan menjadi:

L71127060_060200707 03_B20_reg_ filled.TIF

Semua perubahan dan penambahan file tersebut akan terjadi di : folder anchor

Proses perbaikan telah selesai dilakukan, jika ingin melihat hasilnya, bisa menggunakan software pengolah citra apa saja, dan gunakan file yang telah memiliki nama ……….._reg_filled. tiff.

Proses hasilnya sebagai berikut:

Landsat 2009 - Sebelum GAP FILLING

Landsat 2009 - Sesudah GAP FILLING

Silahkan DOWNLOAD SOFTWARENYA di sini




Handbook of Applied Spatial Analysis: Software Tools, Methods and Applications

28 04 2010

Handbook of Applied Spatial Analysis: Software Tools, Methods and Applications
Publisher: Springer 2009 | 811 Pages | ISBN: 3642036465 | PDF | 32 MB

This Handbook summarizes, explains, and demonstrates the nature of current models, methods, and techniques for the analysis of spatial data. The book is designed to be a desk reference for all researchers just getting into the field of spatial data analysis as well as for seasoned spatial analysts.

The volume features contributions from the very best scholars in the field. Their explanations are able to communicate the fundamental ideas of their subject area succinctly and accessibly.

Please note: This e-book file just for share on restricted distribution (only in my laboratory). If you like it, please kindly find a legal one on representative homepage.

Download here (32 Mb)




Call For Paper – PIT XVIII & MAPIN XII

24 04 2010

Poster Call for Paper

CALL FOR PAPER nih….
MAPIN bekerjasama dg IPB, Bakosurtanal,LAPAN, ITB & BPPT akan mengadakan Pertemuan Ilmiah Tahunan XVIII & Kongres MAPIN XII dg tema “Teknologi Geospasial Untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan” pada hari Senin tanggal tgl 2 Agustus 2010 di IICC Botani Square, Bogor. Partisipasi rekan-rekan sebangsa dan setanah air (ciehhh) sangat kami harapkan. Abstrak (deadline 31 Mei 2010) dapat dikirim melalui e-mail ke pitmapin2010@yahoo.com atau pitmapin2010@gmail.com.

Bagi anggota MAPIN cukup dikenakan biaya registrasi sebesar Rp. 100.000,- saja.

Buruan nulis yah…

Sampai ketemu saat kopi darat nanti…

See yaaa!!!




Penyelesaian Network Problem dalam GIS

25 03 2010

Salah satu penyelesaian terhadap network problem dalam GIS dapat ditempuh dengan menggunakn sedikit konsep modeling yang dapat diimplementasikan dengan teknik loose coupling atau tight coupling. Teknik pertama, dengan loose coupling maka seluruh data yang diperlukan oleh model tersebut diekspor dari GIS sebagai kumpulan file data terpisah yang kemudian dijadikan sebagai input dari model. Output dari model ini kemudian dikembalikan lagi dalam bentuk file data yg ditampilkan di dalam aplikasi GIS. Jadi modelingnya sendiri dapat berjalan di luar aplikasi GIS. Di sini GIS hanya digunakan untuk preprocessing data dan hanya menampilkan data output. Dengan demikian, kemampuan programming jelas sangat diperlukan karena model dibuat oleh kita sendiri.

Teknik kedua dengan tight coupling, artinya pertukaran data antara GIS dan model berlangsung di belakang layar (behind the scene), tersembunyi dari user. Kegiatan ini seolah-olah tampak menyatu dengan aplikasi GIS, padahal sebenarnya tidak demikian adanya. Sebagai contoh adalah software ArcGIS Network Analyst, SuperGeo, TransCAD. Beberapa algoritma yang disediakan untuk mengatasi problem network, seperti shortest path problem, p-median problem, p-center problem, dan sebagainya sudah banyak tersedia dalam interface software tersebut. Tugas kita hanya memasukkan input parameternya saja. Kita sangat dimanjakan dengan perangkat yang seperti ini.

Teknik lainnya bisa saja kita membuat sendiri model SDSS dengan algoritma yg kita rancang sendiri, kemudian disimpan dalam bentuk aplikasi yang bisa diembed ke dalam aplikasi GIS yang sudah ada. Misalnya kita membangun model dalam bentuk format file *.dll yang dapat di-embed sebagai toolbar ke dalam aplikasi ArcGIS. Teknik ini sangat jarang dilakukan oleh para pelaku GIS (GIS-ers), karena seringnya error yang ditimbulkan dalam proses embedding file ini. Layaknya membuat homepage dengan bahasa CSS, sederhana namun rumit.

Sebagai contoh spatial decision problem (diambil dari berbagai sumber):

  1. Menentukan rute terbaik dari satu lokasi ke satu atau lebih lokasi yang lain.
  2. Mencari lokasi terbaik untuk membangun fasilitas umum seperti sekolah, pemadam kebakaran, rumah sakit, supermarket, perkebunan, perumahan dan sebagainya.
  3. Mencari lahan yang paling efisien untuk kegiatan komersil. Dalam menetapkan suatu problem spasial, kita harus menetapkan tujuan (objective function), asumsi dan batasan-batasan (constraints). Misalnya, pada contoh kasus 1: -Tujuan: meminimalkan waktu tempuh; -Asumsi: waktu tempuh setiap segmen jalan hanya dihitung dari panjang jalan dan batas maksimum kecepatan pada ruas jalan tersebut, dan kecepatan ini statik sepanjang masa; -Constraint: ruas jalan yg boleh dilalui hanyalah ruas jalan yg memiliki kecepatan di atas 40 km/jam. Problem di atas merupakan problem matematis berbasis network yg dapat diselesaikan dengan algoritma heuristics. Djikstra merupakan algoritma yg sering dipakai utk menyelesaikan shortest path problem. Utk problem yg lebih rumit, bisa menggunakan metaheuristic spt Genetic Algorithm, Tabu Search, Simulated Annealing, dsb.

Kasus 2 dan 3 umumnya melibatkan banyak stakeholder sehingga tujuannya lebih dari satu (multi-objective) . Misalnya, sebagian pihak lebih peduli terhadap faktor lingkungan, pihak lain lebih peduli terhadap faktor biaya atau keuntungan, pihak lainnya lebih peduli terhadap dampak sosial dari pembangunan suatu fasilitas umum. Situasi dimana terdapat keputusan yang kontroversial seperti ini memunculkan konsep Multi-Criteria Decision Making (MCDM). Sesuai namanya, dalam MCDM kita menetapkan sejumlah kriteria untuk membangun lokasi fasilitas umum, misalnya sekolah. Kriterianya, sekolah tersebut harus dekat dengan permukiman, memiliki aksesibilitas baik, jauh dari pusat industri, terletak di tanah yg landai, dan sebagainya. Problem MCDM bisa diselesaikan dengan teknik Analytical Hierarchy Process (AHP), perankingan ataupun peratingan. Dalam tools GIS, analisis MCDM ini dapat diimplementasikan dengan menggunakan pe-layer-an raster dimana masing-masing layer mewakili satu kriteria. Setiap pixel dalam raster mewakili site yang akan dievaluasi, dan nilai-nilai pixel tesebut mencerminkan seberapa baikkah suatu site memenuhi kriteria yang sudah kita tetapkan. Dengan memberi faktor pembobotan (weighting factor) untuk setiap kriteria, maka kita dapat melakukan operasi tumpang tindih (overlay) terhadap layer dari raster tersebut untuk mencari tapak  yg paling tinggi nilai kesesuaian lahannya.

Semoga pemikiran ini berguna…




Delineasi Batas Daerah Aliran Sungai (DAS)

24 03 2010

Delineasi batas watershed atau Daerah Aliran Sungai (DAS) bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan data Digital Elevation Model (DEM) SRTM dan software ArcGIS.  Data DEM dengan resolusi 30 m (1 arc) saat ini sudah bisa didownload secara gratis. Software GIS lainnya yang sudah menyertakan analisa spasial lebih lanjut tentu juga memiliki fasilitas ini. Berikut adalah sebuah tutorial dalam format PDF ekspor dari Power Point berjumlah 17 halaman (34 slide) yang ditulis oleh Agus Wibowo dan bisa didownload di link berikut.

Download Tutorial di Download

Sumber: http://aw3126.blogspot.com




Impact of Land Use Change on Hydrology and Land Use Pattern in West Java Region

23 03 2010

Authors: Kaswanto, N. Nakagoshi, and HS Arifin

ABSTRACT

The main inputs of this research were rainfall, land cover level, and soil physical condition. These three components were designed by GenRiver Model of River Flow Generic which were developed based on hydrological process (based model process). Simulation of GenRiver model uses Stella, a software that is connected with Microsoft Excel. Its main outputs are river flow and water balance for four watersheds scale. These data were analyzed using the most commonly used technique for spatial commercial assessment. Each datum can provide different pixel sizes, temporal frequencies, financial costs and levels of technical complexities. These data can be used to predict the impact of land use change on hydrological condition and on land use pattern along the four watersheds. Land use change within two decades significantly affected the hydrological condition. In addition, land use change resulted in the formation of more patches pattern than before. The northern part has a faster acceleration of land use change compared to the southern part in the last two decades. The Conversion of Land Use and its Effects (CLUE-s) model comprises two parts: a non spatial demand module and a spatially explicit allocation procedure.

Keyword: hydrological landscape, land use change, land use pattern, West Java.

Catatan:

Poster ini telah dipresentasikan pada konferensi ESJ 57 (Ecological Society of Japan, 57th) di Tokyo 15-19 Maret 2010. Bagi yang ingin share data GIS atau sejenisnya, silahkan kontak ke penulis. Perangkat lunak GenRiver dapat diunduh langsung di situs resmi ICRAF, yakni di www.worldagroforestrycentre.org. Sementara untuk penggunaan model CLUE-s, silahkan dowload versi DEMOnya di www.cluemodel.nl, versi FULLnya silahkan register di www.cluemodel.nl/registration/users.html.

Semoga bermanfaat.

Bila ada hal yang ingin didiskusikan, silahkan tuliskan comment Anda.




NDVI

23 03 2010

NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index merupakan metode standar yang digunakan dalam membandingkan tingkat kehijauan vegetasi yang berasal dari citra satelit. Formula standar untuk menghitung nilai NDVI adalah sbb:

NDVI = (NIR – Red) / (NIR + Red)

Nilai index NDVI ini mempunyai rentang dari -1.0 (minus 1) hingga 1.0 (positif 1). Nilai yang mewakili vegetasi berada pada rentang 0.1 hingga 0.7, diatas nilai ini menggambarkan tingkat kesehatan tutupan vegetasi. Data dari bermacam citra satelit yang dapat digunakan dalam formulasi ini, antara lain:
* Landsat TM/ETM : band 3 (0.63-0.69 µm) dan band 4 (0.76-0.90 µm)
* NOAA AVHRR : band 1 (0.58-0.68 µm) dan band 2 (0.72-1.0 µm)
* Terra MODIS : band 1 (0.62-0.67) dan band 2 (0.841-0.876)

NDVI dapat digunakan untuk menghitung tingkat biomassa dan tingkat kehijauan (greenness) secara relatif pada berbagai skala, mulai dari skala plot hingga global. Saat ini analisis NDVI telah berada pada tingkat yang sangat advanced (sangat kompleks). Artinya hingga saat ini, kegiatan RS/GIS tidak hanya sekedar melihat nilai NDVI saja tetapi juga mencakup bagaimana perubahan NDVI terhadap kegiatan manusia di dalamnya. Bahkan lebih jauh hingga bisa memprediksi potensi area untuk padang penggembalaan, persis seperti yang sedang saya cermati saat ini. Begitu juga dengan mendevelop low carbon society (LCS) bagi masyarakat perdesaan bisa didekati dengan metode NDVI ini.

Perhitungan indeks tumbuh-tumbuhan dari produksi biomassa atas dasar perbandingan yang berikut:

VI = [NIR] / R

Perhitungan perbandingan sifat respon obyek terhadap pantulan sinar merah dan NIR dapat menghasilkan nilai dengan karakteristik khas yang dapat digunakan untuk memperkirakan kerapatan atau kondisi kanopi/kehijauan tanaman. Tanaman yang sehat berwarna hijau mempunyai nilai indeks vegetasi tinggi. Hal ini disebabkan oleh hubungan terbalik antara intensitas sinar yang dipantulkan vegetasi pada spektral sinar merah dan NIR.

Silahkan kita berdiskusi lebih detail…




Software GAP FILLING untuk Citra LANDSAT SLC-OFF

8 03 2010

Software untuk mengisi gap pada citra Satelit LANDSAT tahun 2003 ke atas sudah tersedia dan bisa di download.

Landsat 2009 - Sebelum GAP FILLING

Landsat 2009 - Sesudah GAP FILLING

Berikut petikan dari situs resmi NASA, “An ETM+ gap filling program has developed and is availalble for download. The purpose of the frame_and_fill program is to first align multiple ETM+ Landsat scenes to a common frame of reference and then fill the gaps caused by the 2003 scan line corrector failure. The program is designed for Level 1 terrain corrected (L1T) GeoTIFF formatted products distributed by the center for Earth Resources Observation and Science (EROS).  These can be freely downloaded from the USGS Global Visualization Viewer (Glovis) web site (http://glovis.usgs.gov/). The freeware was written in IDL and requires no license to run. Versions for other operating systems will be posted after testing.”

Contoh image di atas diambil dari citra LANDSAT 2009. Citra masternya berada pada tanggal 6 Agustus 2009, sementara citra fillernya bertanggal 21 Juli 2009. Bila dilihat sekilas, nyaris SEMPURNA yah :-)

Perlu diingat bahwa proses untuk pengisian satu band membutuhkan waktu kurang lebih 8-10 menit. So, silahkan bayangkan bila ingin mengisi gap untuk delapan band. Saran buat para GIS-ers, setelah klik tombol “submit”, ngga ada salahnya segera cari cemilan or bikin kopi, atau boleh juga “nyetor” dulu ke belakang. Ngga disaranin untuk maen game di komputer yang sama, silahkan maen game di komputer yang laen yah.. hue he he.. Good Luck

Silahkan DOWNLOAD DI SINI




Perhatian pada 4 DAS

8 03 2010

Sistem Lahan Pulau Jawa 1987

Perhatian pada 4 (empat) DAS di wilayah barat Pulau Jawa kini menjadi kajian strategis yang dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Empat DAS tersebut adalah DAS Ciliwung, Cisadane, Cimandiri dan Cibuni. Keempat DAS ini menjadi kajian utama dalam kaitannya dengan perubahan lahan. Perbedaan utama dilihat pada posisinya yang berada di bagian utara dan selatan Jawa. Saat ini menjadi fakta (yang kemudian terbukti) bahwa wilayah utara Jawa diyakini lebih berkembang dibandingkan dengan wilayah selatan Jawa. Beberapa kajian dengan hipotesis awal perbedaan utara-selatan saat ini sedang disimulasikan untuk melihat potensi dan peluang pengembangan wilayah sub-urban or country-side di bagian selatan untuk menjadi daya tarik pembangunan.

Batas DAS - Cisadane & Ciliwung (Utara Jawa), dan Cimandiri & Cibuni (Selatan Jawa)

Wilayah keempat DAS tersebut disajikan pada peta di atas. Bagi rekan-rekan yang ingin sharing pengetahuan dan pengalaman mengenai proses analisis pada keempat DAS ini silahkan tinggalkan comment di bawah. Semoga dalam waktu dekat, kita bisa berdiskusi lebih detail di forum ilmiah ataupun dalam diskusi non-formal.

Salam Spasial!!

Semoga bermanfaat!!