Materi Metopen ARL

1 04 2017

Materi Metopen ARL  untuk Minggu IV dan V dapat diunduh di blog ini.

Materi Metopen ARL MG IVa SKALA NOIR

Materi Metopen ARL MG IVb STATISTIK DESKRIPTIF KAS

Materi Metopen ARL MG V METODE ANALISIS DATA KAS

MG IVa

MG IVb

MG V

SKALA NOIR

Nominal

Data berjenis NOMINAL membedakan data dalam kelompok yang bersifat kualitatif. Dalam ilmu statistika, data NOMINAL merupakan data dengan level pengukuran yang paling rendah.

 

Ordinal

Data berjenis ORDINAL mempunyai level pengukuran yang lebih tinggi daripada data nominal dan termasuk data kualitatif. Pada data nominal semua data dianggap bersifat kualitatif dan setara, sedangkan pada data ORDINAL terdapat klasifikasi data berdasarkan tingkatannya.

 

Interval

Data berjenis INTERVAL termasuk dalam kelompok data kuantitatif. Dalam ilmu statistika, data Interval mempunyai tingkat pengukuran yang lebih tinggi daripada data nominal maupun ordinal. Angka yang digunakan dalam data ini, selain menunjukkan urutan juga dapat dilakukan operasi matematika. Angka nol yang digunakan pada data interval bukan merupakan nilai nol yang nyata.

 

Rasio

Dalam ilmu statistika, data RASIO merupakan tipe data dengan level pengukuran yang paling tinggi dibandingkan dengan tipe data lain. Data ini termasuk dalam kelompok data kuantitatif. Angka yang digunakan pada data ini menunjukkan angka yang sesungguhnya, bukan hanya sebagai simbol dan memiliki nilai nol yang sesungguhnya. Pada data ini, dapat dilakukan berbagai operasi matematika.

 

STATISTIKA DESKRIPTIF

Statistika Deskripsi adalah bidang statistika yang membicarakan cara atau metode mengumpulkan data, menyederhanakan dan menyajikan data sehingga bisa memberikan informasi. Dalam hal ini belum sampai pada upaya menarik kesimpulan, tetapi baru sampai pada tingkat memberikan bentuk ringkasan data sehingga informasi yang terkandung dapat dipahami.

Referensi: Sarwono, J. 2012. Metode Riset Skripsi, Pendekatan Kuantitatif Menggunakan Prosedur SPSS. Penerbit PT Elex Media Komputindo. 252 hal.




Manajemen Jasa Lanskap MG VI

29 03 2017

Manajemen Jasa Lanskap MG VI

Capaian Pembelajaran:

Mahasiswa mampu menjelaskan Jasa Lanskap Sejarah dan Budaya dan mampu mengaplikasikannya dalam proses perencanaan, desain dan manajemen lanskap.

 

LS Types:

  1. Supply services of physical assets that produce direct benefits to people
  2. Services carried out by ecosystems in regulating environmental processes
  3. Support services, which do not provide direct benefit to people but are required for functioning of ecosystems
  4. Services related to cultural and spiritual needs of the community

 

Cultural Landscape Services [CLS]

  • The intangible benefits that people receive from ecosystems through spiritual enrichment, cognitive development, reflection, recreation and aesthetics experience, including cultural systems, social relations and the aesthetic value.
  • The contribution of the ecosystem to the intangible benefits (experience, skills) that people derive from human-ecological relationships
  • Those which satisfy the needs of daily life, as a function of information, as comfort and gratification services, as comfort services, or as services for satisfaction of socio-cultural needs.

 

CLS is Important

CLS constitute an important category of services at a landscape scale, as they are able to express the “sense” of a place and the identity of a community interacting over time in a specific area.

Physical, emotional and psychological benefits of cultural products are often only implicitly expressed through indirect manifestations.

CLS are treated as a residual category since they are difficult to assess –> Therefore poorly integrated in landscape management plans.

 

Materi Minggu VI

Manajemen Jasa Lanskap MG VI

 

 

Materi Manajemen Jasa Lanskap Minggu Sebelumnya

Manajemen Jasa Lanskap MG I

Manajemen Jasa Lanskap MG II

Manajemen Jasa Lanskap MG III

Manajemen Jasa Lanskap MG IV

Manajemen Jasa Lanskap MG V

 

Tugas Analisis

  1. Tentukan SDGs yang berkaitan dengan topik penelitian Anda.
  2. Berikan penjelasan yang jelas, lugas dan argumentatif mengapa SDGs tersebut sangat relevan bagi penelitian Anda.

Jawaban ditulis pada blog kaswanto.staff.ipb.ac.id paling lambat sebelum perkuliahan minggu depan dimulai.




Manajemen Jasa Lanskap MG V

23 03 2017

Manajemen Jasa Lanskap MG V

 

Capaian Pembelajaran Manajemen Jasa Lanskap MG V

Mahasiswa mampu menilai, mengukur dan mengevaluasi Keindahan Lanskap dan Kenyamanan Lanskap sebagai Jasa Lanskap

 

BRI – Beautification Rate Index

  1. Testing 8 (eight) variation criteria.
  2. Weighting being conducted spatially through satellite image for valuing landscape aesthetical quality.
  3. Validating being tested through Planner Preferences level (n > 60; photos > 30 ) by using Scenic Beautification Estimation (SBE) method.

 

ARI – Amenity Rate Index

  1. Air Temperature (AT)
  2. Relative Humidity (RH)
  3. Water Source Distance (WD)
  4. Land Cover (LC)
  5. Slope (SL)
  6. Elevation (EL)

 

Materi Manajemen Jasa Lanskap MG V

MG V MANAJEMEN JASA LANSKAP 17Mar2017

 

Materi Manajemen Jasa Lanskap Minggu Sebelumnya

Manajemen Jasa Lanskap MG I

Manajemen Jasa Lanskap MG II

Manajemen Jasa Lanskap MG III

 

Tragedy of the Commons

 

Tugas Analisis

Hitunglah Nilai SBE dari data satu foto berikut ini:

Resp SKOR Resp SKOR Resp SKOR
1 6 11 8 21 7
2 7 12 9 22 8
3 6 13 8 23 6
4 6 14 8 24 5
5 8 15 7 25 7
6 7 16 7 26 8
7 8 17 7 27 6
8 9 18 6 28 7
9 7 19 8 29 9
10 9 20 10 30 6

 

Jawaban ditulis pada blog kaswanto.staff.ipb.ac.id paling lambat sebelum perkuliahan minggu depan dimulai.

 




TUGAS BACAAN MK PENGELOLAAN LANSKAP [ARL332]

14 03 2017

TUGAS BACAAN MK PENGELOLAAN LANSKAP [ARL332]

SEMESTER GENAP T.A. 2016/2017

KEL JUDUL ARTIKEL DOSEN
1.     Birge, T., M. Toivonen, M. Kaljonen, and I. Herzon. 2017. Probing the grounds: Developing a payment-by-results agri-environment scheme in Finland. Land Use Policy 61:302-315. HSA
2.     Blicharska, M., R. J. Smithers, M. Hedblom, H. Hedenås, G. Mikusiński, E. Pedersen, P. Sandström, and J. Svensson. 2017. Shades of grey challenge practical application of the cultural ecosystem services concept. Ecosystem Services 23:55-70. HSA
3.     Chen, C., S. Wu, C. D. Meurk, M. Ma, J. Zhao, m. Lv, and X. Tong. 2017. Effects of local and landscape factors on exotic vegetation in the riparian zone of a regulated river: Implications for reservoir conservation. Landscape and Urban Planning 157:45-55. HSA
4.     Colléony, A., A.-C. Prévot, M. Saint Jalme, and S. Clayton. 2017. What kind of landscape management can counteract the extinction of experience? Landscape and Urban Planning 159:23-31. HSA
5.     Dawson, L., M. Elbakidze, P. Angelstam, and J. Gordon. 2017. Governance and management dynamics of landscape restoration at multiple scales: Learning from successful environmental managers in Sweden. Journal of Environmental Management 197:24-40. HSA
6.     de Krom, M. P. M. M. 2017. Farmer participation in agri-environmental schemes: Regionalisation and the role of bridging social capital. Land Use Policy 60:352-361. HSA
7.     Ford, R. M., N. M. Anderson, C. Nitschke, L. T. Bennett, and K. J. H. Williams. 2017. Psychological values and cues as a basis for developing socially relevant criteria and indicators for forest management. Forest Policy and Economics 78:141-150. WQM
8.     Forejt, M., J. Skalos, A. Pereponova, T. Plieninger, J. Vojta, and M. Šantrůčková. 2017. Changes and continuity of wood-pastures in the lowland landscape in Czechia. Applied Geography 79:235-244. WQM
9.     Fuhlendorf, S. D., T. J. Hovick, R. D. Elmore, A. M. Tanner, D. M. Engle, and C. A. Davis. 2017. A Hierarchical Perspective to Woody Plant Encroachment for Conservation of Prairie-Chickens. Rangeland Ecology & Management 70:9-14. WQM
10.           Garrido, P., M. Elbakidze, P. Angelstam, T. Plieninger, F. Pulido, and G. Moreno. 2017. Stakeholder perspectives of wood-pasture ecosystem services: A case study from Iberian dehesas. Land Use Policy 60:324-333. WQM
11.           Hewlett, D., L. Harding, T. Munro, A. Terradillos, and K. Wilkinson. 2017. Broadly engaging with tranquillity in protected landscapes: A matter of perspective identified in GIS. Landscape and Urban Planning 158:185-201. WQM
12.           Ives, C. D., C. Oke, A. Hehir, A. Gordon, Y. Wang, and S. A. Bekessy. 2017. Capturing residents’ values for urban green space: Mapping, analysis and guidance for practice. Landscape and Urban Planning 161:32-43. WQM
13.           Jung, S., L. V. Rasmussen, C. Watkins, P. Newton, and A. Agrawal. 2017. Brazil’s National Environmental Registry of Rural Properties: Implications for Livelihoods. Ecological Economics 136:53-61. SWI
14.           Langhammer, M., V. Grimm, S. Pütz, and C. J. Topping. 2017. A modelling approach to evaluating the effectiveness of Ecological Focus Areas: The case of the European brown hare. Land Use Policy 61:63-79. SWI
15.           Leibenath, M. 2017. Ecosystem services and neoliberal governmentality – German style. Land Use Policy 64:307-316. SWI
16.           Lund, J. F., and F. S. Jensen. 2017. Is recreational hunting important for landscape multi-functionality? Evidence from Denmark. Land Use Policy 61:389-397. SWI
17.           Nguyen, V. D., L. A. Roman, D. H. Locke, S. K. Mincey, J. R. Sanders, E. Smith Fichman, M. Duran-Mitchell, and S. L. Tobing. 2017. Branching out to residential lands: Missions and strategies of five tree distribution programs in the U.S. Urban Forestry & Urban Greening 22:24-35. SWI
18.           Reed, J., J. van Vianen, J. Barlow, and T. Sunderland. 2017. Have integrated landscape approaches reconciled societal and environmental issues in the tropics? Land Use Policy 63:481-492. SWI
19.           Rinalduzzi, S., L. Farroni, A. Billi, L. De Filippis, C. Faccenna, P. P. Poncia, and G. Spadafora. 2017. Geocultural landscaping: Guidelines and conceptual framework to design future scenarios of exploited lands. Land Use Policy 64:258-281. KAS
20.           Secco, L., M. Favero, M. Masiero, and D. M. Pettenella. 2017. Failures of political decentralization in promoting network governance in the forest sector: Observations from Italy. Land Use Policy 62:79-100. KAS
21.           Stelling, F., C. Allan, and R. Thwaites. 2017. Nature strikes back or nature heals? Can perceptions of regrowth in a post-agricultural landscape in South-eastern Australia be used in management interventions for biodiversity outcomes? Landscape and Urban Planning 158:202-210. KAS
22.           Tieskens, K. F., C. J. E. Schulp, C. Levers, J. Lieskovský, T. Kuemmerle, T. Plieninger, and P. H. Verburg. 2017. Characterizing European cultural landscapes: Accounting for structure, management intensity and value of agricultural and forest landscapes. Land Use Policy 62:29-39. KAS
23.           Ungaro, F., I. Zasada, and A. Piorr. 2017. Turning points of ecological resilience: Geostatistical modelling of landscape change and bird habitat provision. Landscape and Urban Planning 157:297-308. KAS
24.           Westerink, J., P. Opdam, S. van Rooij, and E. Steingröver. 2017. Landscape services as boundary concept in landscape governance: Building social capital in collaboration and adapting the landscape. Land Use Policy 60:408-418. KAS
25.           You, H. 2017. Agricultural landscape dynamics in response to economic transition: Comparisons between different spatial planning zones in Ningbo region, China. Land Use Policy 61:316-328. KAS

Bogor, 7 Maret 2017

MK Pengelolaan Lanskap

Dr. Kaswanto, SP, MSi

Tugas Bacaan LOLA 2017 – Judul Artikel




MG V Pengantar Ekologi Lanskap 2017

14 03 2017

MG V Pengantar Ekologi Lanskap 2017

MG V Pengantar Ekologi Lanskap 2017

Week Date Topic PIC
I 14 Feb 2017 Introduction to Landscape Ecology HSA
II 21 Feb 2017 FOUNDATION:Times Changes, Objective HSA
III 28 Feb 2017 Development of Landscape Ecology;Landscape Ecology Today HSA
IV 7 Mar 2017 Patches KAS
V 14 Mar 2017 Edges and Boundaries  KAS
VI 21 Mar 2017 Mosaics SWI
VII 28 Mar 2017 Corridors and Connectivity  SWI
VIII Mid-term Exam (UTS)

 

EDGES

E1. Keragaman Struktur Edge

Edge tanaman dengan keragaman struktur yang tingi, baik vertikal maupun horizontal, lebih banyak memiliki spesies hewan Edge.

 

E2. Ketebalan Edge

Ketebalan / Kelebaran Edge berbeda di sekeliling patch, dengan Edges yang lebih lebar berada pada bagian yang menghadap arah angin dan cahaya.

 

E3. Batas Ekologi Administratif dan Alami

Batas administratif atau politik tidak bertepatan dengan batas ekologi, kawasan diantara boundary sering menjadi berbeda dan bisa menjadi zona penyangga (Buffer Zone), mengurangi pengaruh sekelilingnya terhadap interior Kawasan Lindung (Protected Area).

 

E4. Edge sebagai penyaring (Filter)

Patch Edge biasanya berfungsi sebagai penyaring (filters), yang mana mengurangi/mereduksi pengaruh sekeliling terhadap patch interior.

 

E5. Kecuraman Edge

Kecuraman Edge yang meningkat cenderung meningkatkan pergerakan sepanjang Edge, sementara Edge yang tidak curam cenderung membuat pergerakan melintasi sebuah Edge.

 

Materi MG V Pengantar Ekologi Lanskap 2017

V Landscape Structure – Edge and Boundaries KAS 2017




MG IV Pengantar Ekologi Lanskap 2017

14 03 2017

MG IV Pengantar Ekologi Lanskap 2017

MG IV Pengantar Ekologi Lanskap 2017

 

Week Date Topic PIC
I 14 Feb 2017 Introduction to Landscape Ecology HSA
II 21 Feb 2017 FOUNDATION:

Times Changes, Objective

HSA
III 28 Feb 2017 Development of Landscape Ecology;

Landscape Ecology Today

HSA
IV 7 Mar 2017 Patches KAS
V 14 Mar 2017 Edges and Boundaries  KAS
VI 21 Mar 2017 Mosaics SWI
VII 28 Mar 2017 Corridors and Connectivity  SWI
VIII Mid-term Exam (UTS)

 

PATCHES

  • Obyek yang memiliki sifat seperti PATCH, termasuk quilts (selimut), MOSAICS, tanah, bercak pada Dalmation, dan awan di atas langit.
  • Suatu permukaan area yang non-linear yang berbeda penampilannya dari area sekitarnya.
  • Bervariasi dalam ukuran, bentuk. tipe, heterogeneity, dan boundary characteristics.
  • Sering dikelilingi oleh MATRIX, yaitu area sekitar yang memiliki perbedaan struktur jenis atau komposisinya.

 

UKURAN PATCHES

  • Land use – what is the minimum patch size needed to accomplish a particular objective?
  • What is the optimum patch size?
  • The answers to these questions are crucial to the understanding and management of landscape.
  • The primary characteristics considered are ecological: energy, mineral nutrients, and species. Others: the ability to operate planting and harvesting machinery, the distance to habitations and market, or topographic variation.

 

Materi MG IV Pengantar Ekologi Lanskap 2017

IV Landscape Structure – Patches KAS 2017




Manajemen Jasa Lanskap MG III

9 03 2017

Manajemen Jasa Lanskap MG III

Manajemen Jasa Lanskap MG III

JASA LANSKAP: KERAGAMAN VEGETASI & KARBON TERSIMPAN

Capaian Pembelajaran:

Mahasiswa mampu menganalisis Tingkat Keragaman Tanaman menggunakan teknik analisis Indeks Biodiversitas Tanaman dan mampu menganalisis Kandungan Karbon Tersimpan menggunakan teknik analisis Allometrik

Materi MG III

MG III MANAJEMEN JASA LANSKAP 3Mar2017

 

TUGAS ANALISIS

Hitung nilai Indeks Shanon Wienner pada pekarangan berikut ini:

No. Nama Spesies Family Jumlah
1. Gnetum gnemon Gnetaceae 3
2. Cyperus rotundus Cyperaceae 5
3. Nephelium lappaceum Rubiaceae 1
4. Artocarpus integra Moraceae 1
5. Averrhoa carambola Oxalidaceae 4
6. Averrhoa bilimbi Oxalidaceae 2
7. Leucaena leucocephala Fabaceae 2
8. Mimosa pudica Fabaceae 5
9. Syzygium aqueum Myrtaceae 1
Total Individu 24

Jawaban ditulis pada blog kaswanto.staff.ipb.ac.id 

paling lambat sebelum perkuliahan minggu depan dimulai.

 

Tingkat Keragaman Tanaman

(Sumber: Wikipedia) Keanekaragaman hayati adalah tingkat variasi bentuk kehidupan dalam, mengingat ekosistem bioma spesies,, atau seluruh planet. Keanekaragaman hayati adalah ukuran dari kesehatan ekosistem. Keanekaragaman hayati adalah sebagian fungsi dari iklim. Pada habitat darat, s daerah tropis biasanya kaya sedangkan spesies dukungan daerah kutub s lebih sedikit.

Perubahan lingkungan yang cepat biasanya menyebabkan kepunahan massal s. Salah satu perkiraan adalah bahwa kurang dari 1% dari spesies yang ada di Bumi adalah yang masih ada. [1]

Sejak kehidupan dimulai di bumi, lima kepunahan massal besar dan peristiwa kecil telah menyebabkan beberapa tetes besar dan mendadak dalam keanekaragaman hayati. Para eon Fanerozoikum (yang 540 juta tahun terakhir) ditandai pertumbuhan yang cepat dalam keanekaragaman hayati melalui ledakan-Kambrium sebuah periode di mana mayoritas filum multiseluler pertama muncul.[2] 400 juta tahun ke depan termasuk diulang, kerugian besar keanekaragaman hayati diklasifikasikan sebagai kepunahan massal. Dalam Karbon, kolaps hutan hujan menyebabkan kerugian besar dari kehidupan tanaman dan hewan.[3] Peristiwa kepunahan Permian-Trias, 251 juta tahun lalu, adalah yang terburuk;. Pemulihan vertebrata butuh waktu 30 juta tahun [4] Yang paling terakhir, peristiwa kepunahan Cretaceous-Paleogen, terjadi 65 juta tahun lalu, dan sering menarik perhatian lebih dari yang lain karena mengakibatkan kepunahan dinosaurus s.[5]

Periode sejak munculnya manusia telah menunjukkan pengurangan keanekaragaman hayati yang sedang berlangsung dan kerugian atas keragaman genetik. Dinamakan kepunahan Holocene, pengurangan ini disebabkan terutama oleh dampak manusia, terutama kerusakan habitat. Sebaliknya, keanekaragaman hayati dampak kesehatan manusia dalam berbagai cara, baik secara positif maupun negatif.[6]

PBB ditunjuk 2011-2020 sebagai Dekade PBB tentang Keanekaragaman Hayati.




Manajemen Jasa Lanskap MG II

28 02 2017

 

Manajemen Jasa Lanskap MG II

Manajemen Jasa Lanskap MG II dengan topik Management Plan & Jenis-jenis Jasa Lanskap.

Capaian Pembelajaran Minggu II

Mahasiswa mampu menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan) dan mampu menjelaskan jenis-jenis Jasa Lanskap dalam kaitannya dengan perspektif ekologi lanskap yang berkelanjutan.

 

Proses Manajemen

  1. Penetapan tujuan manajemen
  2. Penyusunan rencana operasional manajemen
  3. Pelaksanaan pekerjaan manajemen
  4. Pemantauan pekerjaan manajemen, evaluasi, dan penyusunan perencanaan pengelolaan kembali (re-design) jika diperlukan.

 

Rencana Pengelolaan

  1. Organisasi hirarki
  2. Kebutuhan SDM
  3. Spesifikasi alat dan bahan
  4. Jadwal
  5. Kebutuhan anggaran biaya
  6. Metoda kerja

 

JasLing vs JE vs Jasa Lanskap

Jasa Lingkungan (Environmental Services)
Jasa Ekosistem (Ecosystem Services)
Jasa Lanskap (Landscape Services)

‘‘natural capital’’ (Haines-Young 2000; Chiesura and De Groot 2003; Blaschke 2006)

‘‘green services’’ (Ojeda et al. 2008; Rogge et al. 2007)

 

Karakter Jasa Lanskap

  1. Landscape services better associate with pattern–process relationships,
  2. Landscape services better unify scientific disciplines, and
  3. Landscape services are more relevant and legitimate to local practitioners.

 

MATERI MINGGU II

MG II MANAJEMEN JASA LANSKAP

 

TUGAS RESENSI

  1. Manakah skema yang sesuai untuk menjelaskan perbedaan Jasa Ekosistem, Jasa Lingkungan dan Jasa Lanskap! Pilihlah A, B atau C?
  2. Berikan argumentasi atas keputusan  Anda.

Jawaban ditulis pada blog kaswanto.staff.ipb.ac.id  paling lambat sebelum perkuliahan minggu depan dimulai.

 

Materi Minggu I

 

Detail here:

https://www.researchgate.net/publication/225989276_Landscape_services_as_a_bridge_between_landscape_ecology_and_sustainable_development

https://link.springer.com/article/10.1007/s10980-008-9314-8




Manajemen Jasa Lanskap

17 02 2017

MK MANAJEMEN JASA LANSKAP ARL333: 2 (2-0) 2

Manajemen Jasa Lanskap

Nama MK : Manajemen Jasa Lanskap
Kode MK : ARL333
SKS : 2 (2-0)
Semester : Genap
Pengajar : 1. Dr. Kaswanto, SP, MSi (Koordinator)

2. Dr. Syartinilia, SP, MSi

Asisten : Nurshita Kusumaningrum


SILABUS

Mata kuliah ini membahas manajemen berbagai jenis jasa lanskap (landscape services) yang mencakup biodiversitas, karbon tersimpan, keindahan alam, pengelolaan air, ketersediaan oksigen, hingga kenyamanan lingkungan. Seluruh aspek ini akan dikaji pula dalam aspek ekonomi, ekologi dan sosial dengan pendekatan spasial beserta contoh dan studi kasus. Selain itu, mata kuliah ini juga mempelajari tentang konsep, prinsip, metode dan contoh aplikasi yang digunakan untuk manajemen lanskap alami dan buatan dalam perspektif ekologi lanskap pada skala mikro, meso dan makro.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa akan mampu memahami manajemen jenis-jenis jasa lanskap dan kaitannya dalam perspektif ekologi lanskap yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas perancangan, perencanaan dan manajemen lanskap, serta mampu menganalisis aspek ekonomi, ekologi dan sosial sesuai dengan kondisi aktual pada skala makro,meso dan mikro.  Selain itu, mahasiswa akan mampu mengevaluasi kualitas lanskap dan menyusun rencana manajemennya untuk mengetahui tingkat kesesuaian pemanfaatannya.

WAKTU PERKULIAHAN

Setiap hari Jumat pukul 13.00-14.40 WIB di RK 16FAC 401B

MATERI MINGGU I

MG I MANAJEMEN JASA LANSKAP

TUGAS RESENSI

  1. Apa harapan Saudara dengan mengikuti kuliah Manajemen Jasa Lanskap ini?
  2. Jenis Jasa Lanskap apa yang menurut Saudara harus segera dikelola

Jawaban ditulis pada blog kaswanto.staff.ipb.ac.id  paling lambat sebelum perkuliahan minggu depan dimulai.




Scenic Beauty Estimation Method

6 01 2017
Scenic Beauty Estimation Method

Scenic Beauty Estimation Method

Title: Measuring landscape esthetics: the scenic beauty estimation method

Author: Daniel, Terry C.; Boster, Ron S.;

Date: 1976

Source: Res. Pap. RM-RP-167. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Rocky Mountain Range and Experiment Station. 66 p.

Publication Series: Research Paper (RP)

Description: The Scenic Beauty Estimation Method (SBE) provides quantitative measures of esthetic preferences for alternative wildland management systems. Extensive experimentation and testing with user, interest, and professional groups validated the method. SBE shows promise as an efficient and objective means for assessing the scenic beauty of public forests and wildlands, and also for predicting the esthetic consequences of alternative land uses. Extensions and modifications of the basic methodology offer potentially useful design, planning, and management tools.

Keywords: esthetics, land use planning, Scenic Beauty Estimation (SBE)

Download herehttps://www.treesearch.fs.fed.us/pubs/20911

 

LANDSCAPE EVALUATION: OVERVIEW

Public sentiment and legislative mandate require that esthetic and other intangible consequences of public land use be considered. Landscape scenic beauty is one of the most important of our natural resources. Of the many resources we use, preserve, and try to improve, scenic beauty has proven one of the most difficult to measure in an objective, scientific manner. No doubt this is because beauty is only partially defined by characteristics of the environment, and depends, in large part, upon human judgment. National Forests are a significant source of scenic beauty, and management must be responsive to the value of this resource. Assessment of scenic beauty and of management impacts on scenic beauty has, however, posed a difficult problem for public land managers. Meaningful indicators of public esthetic preferences are necessary to comprehensive, multi-use planning and management of our National Forests. The major purpose of this paper is to describe the development of a technique for measuring scenic beauty in terms of public perceptual judgment. In this context, our five specific objectives are:
1. To discuss the need for systematic, objective measurement and prediction of the scenic beauty of forest landscapes and related wildlands.
The esthetic qualities of forests and wildlands have long been recognized as important. Much of the recent upsurge in environmental concern has focused on intangibles such as scenic beauty. As is the case for most environmental intangibles, improved means of measurement and prediction are needed. A discussion of the need for new and improved methods for considering the scenic resource is an appropriate beginning to this report.
2. To review and comment on selected approaches to the problem of scenic beauty measurement and prediction.
Until recently, designers, planners, and decisionmakers have relied to a large extent on either their own intuition or the intuition of others to assess scenic beauty. Predicting esthetic consequences of land management options has been equally subjective. Recently, a number of approaches and techniques have been offered for measuring and, to a lesser extent, for predicting scenic beauty. A discussion of those approaches is needed to place the general problem in perspective.