Perspective Drawing

4 11 2016

Source: http://www.thisiscolossal.com/2016/10/perspective-drawing-hack/

 

Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Perspective_(graphical)

Overview of perspective drawing

A cube in two-point perspective

Perspective Drawing

Perspective Drawing

Rays of light travel from the object, through the picture plane, and to the viewer’s eye. This is the basis for graphical perspective.

Linear perspective always works by representing the light that passes from a scene through an imaginary rectangle (realized as the plane of the painting), to the viewer’s eye, as if a viewer were looking through a window and painting what is seen directly onto the windowpane. If viewed from the same spot as the windowpane was painted, the painted image would be identical to what was seen through the unpainted window. Each painted object in the scene is thus a flat, scaled down version of the object on the other side of the window.[1] Because each portion of the painted object lies on the straight line from the viewer’s eye to the equivalent portion of the real object it represents, the viewer sees no difference (sans depth perception) between the painted scene on the windowpane and the view of the real scene. All perspective drawings assume the viewer is a certain distance away from the drawing. Objects are scaled relative to that viewer. An object is often not scaled evenly: a circle often appears as an ellipse and a square can appear as a trapezoid. This distortion is referred to as foreshortening.

Perspective drawings have a horizon line, which is often implied. This line, directly opposite the viewer’s eye, represents objects infinitely far away. They have shrunk, in the distance, to the infinitesimal thickness of a line. It is analogous to (and named after) the Earth’s horizon.

Any perspective representation of a scene that includes parallel lines has one or more vanishing points in a perspective drawing. A one-point perspective drawing means that the drawing has a single vanishing point, usually (though not necessarily) directly opposite the viewer’s eye and usually (though not necessarily) on the horizon line. All lines parallel with the viewer’s line of sight recede to the horizon towards this vanishing point. This is the standard “receding railroad tracks” phenomenon. A two-point drawing would have lines parallel to two different angles. Any number of vanishing points are possible in a drawing, one for each set of parallel lines that are at an angle relative to the plane of the drawing.

Perspectives consisting of many parallel lines are observed most often when drawing architecture (architecture frequently uses lines parallel to the x, y, and z axes). Because it is rare to have a scene consisting solely of lines parallel to the three Cartesian axes (x, y, and z), it is rare to see perspectives in practice with only one, two, or three vanishing points; even a simple house frequently has a peaked roof which results in a minimum of six sets of parallel lines, in turn corresponding to up to six vanishing points.

In contrast, natural scenes often do not have any sets of parallel lines and thus no vanishing points.

Early history of perspective drawing

The earliest art paintings and drawings typically sized many objects and characters hierarchically according to their spiritual or thematic importance, not their distance from the viewer, and did not use foreshortening. The most important figures are often shown as the highest in a composition, also from hieratic motives, leading to the so-called “vertical perspective”, common in the art of Ancient Egypt, where a group of “nearer” figures are shown below the larger figure or figures. The only method to indicate the relative position of elements in the composition was by overlapping, of which much use is made in works like the Parthenon Marbles.

 




Waruga Minahasa

29 12 2012

Hari ini belajar tetang Rumah Tradisional Minahasa. Ada hal yang menarik mengenai “waruga”. Hasil penelusuran melalui google ditampilkan di bawah ini:

Di Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, ada sebuah pekuburan yang dinamakan Taman Waruga. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama waruga. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “waruga” berasal dari kata “maruga” (bahasa Tombulu, Tondano, Tonsea) yang artinya “direbus”. Versi kedua mengatakan bahwa “waruga” berasal dari kata “meruga” (bahasa Minahasa Kuna) yang berarti “lembek” atau “cair”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa “waruga” berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi, waruga dapat diartikan sebagai “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”.

Konon, makam yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah khas orang Minahasa ini adalah salah satu warisan tradisi zaman megalitikum yang terus dipertahankan hingga kira-kira pertengahan abad ke-19. Hal ini dapat dibuktikan dari pahatan angka tahun pada beberapa waruga seperti: 1769, 1839, 1850 dan lain sebagainya. Waruga dahulu digunakan sebagai sarana pemakaman keluarga yang ditaruh di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya. Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, Tondano 40 buah dan lain sebagainya.

Pada awal abad ke-20, tradisi mengubur mayat dalam waruga ini berhenti karena muncul wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga. Di daerah Sawangan, atas instruksi Hukum Tua (kepala desa), waruga-waruga yang tersebar diseluruh desa dikumpulkan dan di taruh di pinggir desa. Hal ini dilakukan agar warga desa tidak terjangkit wabah penyakit yang disebabkan oleh mayat yang membusuk tadi.

Waruga-waruga yang ada di daerah Minahasa ini mulai banyak menarik perhatian orang luar, terutama para peneliti, sejak C.T. Bertling menulis artikel De Minahasche Waruga en Hockernestattung yang dimuat dalam majalah Nederlansche Indis Oud en Niew (NION), No. XVI, tahun 1931. Setelah itu, C.I.J. Sluijk juga menulis artikel tentang waruga berjudul Tekeningen op Grafsten uit de Minahasa.

Pada tahun 1976, Drs. Hadi Moeljono yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan, mengadakan penelitian tentang waruga di Kabupaten Minahasa. Dari hasi penelitiannya itu, pada tahun 1977 Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan melakukan pemugaran terhadap kompleks waruga di Sawangan dan Airmadidi. Hasilnya, pada tahun 1978 kompleks makam itu menjadi suatu Taman Waruga. Oleh pemerintah taman waruga ini kemudian dijadikan sebagai benda cagar budaya dan sekaligus juga sebagai obyek wisata budaya yang unik dan menarik. Kompleks makam waruga Sawangan peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Dr. Daoed Joeseof pada tanggal 23 Oktober 1978.

 

Sumber: http://uun-halimah.blogspot.com/2008/08/taman-waruga-minahasa-sulawesi-utara.html




Construction for Saijo Station

19 12 2011

Start from October 2011, construction of pedestrian passage of Saijo Station has been begun. As stated in Higashi Hiroshima City newsletter, this construction will be finished around 2014. So, it still 2 years to go. And unfortunately, I am probably do not have any chance to see this new construction, coz I have to go back to my country on 2012.  By the way, actually this construction is to build a pedestrian passage between the north and south sides of station. Currently, only one exit is provided in this station, so this is not so convenience. Furthermore, there is no elevator. So, you can imagine when there is a disable person come to take a train. It is really uncomfortable for them. So, I hope it will change my point of view when this construction is finished.

Announcement for Saijo Station Renovation

When I take a look on their design. It is really cool!! They will change it to something different! I am really amaze with this. The statement about Saijo Station is located in countryside will be changed! It is like an urban station! They absolutely have four or more floors, they probably it will be used as department store, or shopping mall, or restaurant or anything. I hope it will be get better!!!

The Master Plan of Saijo Station

The Master Plan of Saijo Station (copyright belong to Higashi Hiroshima City Office)

The situation on early November 2011

I will try to post the progress of this construction at least twice in one semester! I hope you enjoy my story about Saijo Station.




Pembuangan di Jepang

9 02 2011

Tumpukan meja gambar yang dibuang

Jepang dikenal sebagai negara yang kerap membuang barang-barang perlengkapan seperti furniture, meja, bangku, elektronik dan sebagainya. Selain alasan karena barangnya sudah tidak terpakai atau sudah tua, tapi alasan utamanya adalah untuk membantu roda perekonomian Jepang. Lajunya produktivitas di Jepang dikarenakan permintaan yang semakin bertambah. Permintaan yang tinggi bukan atas dasar kebutuhan, tapi atas dasar untuk membantu arus perputaran barang di Jepang.

Barang-barang yang kerap dibuang sebenarnya masih layak pakai. Lihat saja tumpukan meja gambar yang dibuang di Universitas Hiroshima ini. Ratusan buangan meja gambar ini sejatinya masih bisa digunakan dan dimanfaatkan, terutama bagi mahasiswa Indonesia. Ada baiknya meja-meja ini tidak dibuang begitu saja, tapi dipoles sedemikian rupa dan dikirim ke Indonesia. Tentu saja dengan asumsi bukan untuk membuang sampah ke Indonesia, tetapi menghibahkan peralatan yang masih layak pakai.




Ekologi Lanskap – Part 1

30 01 2011

by Regan Leonardus Kaswanto

Dunia Arsitektur Lanskap kian hari kian berkembang, ditandai dengan makin sadarnya manusia akan arti lingkungan dan alam sekitarnya. Keselarasan hidup dengan alam, baik yang biotik maupun abiotik, kerap kali telah terbukti memberikan banyak manfaat positif. Manusia memang tidak bisa lepas dari lingkungannya, bahkan kadangkala justru lingkunganlah yang membentuk manusia. Semakin baik lingkungannya, maka semakin dipercaya bahwa manusia yang ada di dalamnya juga akan semakin membaik kualitas hidupnya. Karenanya, prinsip dasar Arsitektur Lanskap kiranya perlu disosialisasikan ke masyarakat.

Prinsip dasar imu Arsitektur Lanskap adalah bagaimana mengorganisasi suatu ruang dengan elemennya agar secara fungsional berdaya guna dan secara estetika bernilai indah. Prinsip sederhana ini bermuara pada perpaduan nilai fungsional dan estetika. Sejatinya dalam merancang apapun, kedua nilai ini harus tercapai, bila tidak, itu bukanlah Arsitektur Lanskap. Pencapaian nilai estetika bisa ditempuh dengan jiwa seni seseorang, dan hal ini tidak akan dibahas terlalu detil dalam tulisan ini.

Pencapaian dalam nilai fungsional, salah satunya dapat ditempuh dengan ilmu Ekologi Lanskap. Bahkan pada akhirnya nilai estetika akan terbentuk dengan sendirinya bila aspek ekologi lanskap ini diterapkan dengan sangat baik.

Ada empat aspek yang merupakan dasar dari Ekologi Lanskap, yakni (1) struktur, (2) fungsi, (3) dinamika dan (4) budaya. Keempat aspek ini akan dibahas secara mendetil dalam tulisan ini karena semuanya sangat berkaitan dan menjadi mata rantai yang memutar roda keberlanjutan dalam satu ekosistem.

STRUKTUR

Struktur mengandung pengertian seluruh elemen yang menyusun lingkungan tersebut, apa pun itu. Struktur adalah kumpulan material yang membentuk suatu ekosistem, baik di darat maupun di lautan, baik di udara maupun di dalam air, baik bergerak ataupun tidak, baik bernapas ataupun tidak. Semua elemen yang ada didalamnya dikatakan sebagai bagian dari struktur.

Strutktur kerap dilihat dari 2 dimensi. Dimensi pertama adalah struktur vertikal, yakni bagaimana seluruh elemen tersusun dalam pengaruh gravitasi bumi atau tegak lurus dengan permukaan bumi. Sebagai contoh, ragam tinggi gedung, ragam strata tanaman, perbedaan altitude, variasi elevasi, dan sebagainya.  Keragaman vertikal atau biasa kita kenal dengan vertical diversity menjadi landmark dan mosaic yang unik dari setiap lanskap. Tidak akan ada keragaman vertikal yang identik dalam dua lanskap yang berbeda. Satu lanskap telah dipastikan mempunyai karakternya sendiri, keragamannya adalah identitasnya. Kumpulan mosaic dalam lanskap tersebut dalam matrix yang khas menjadikannya karakter yang khas.

Dimensi kedua adalah struktur horizontal, atau kondisi terestrial dalam satu lanskap. Misalkan luas area, jenis tata guna lahan, jenis tanaman, dan sebagainya. Keragaman horizontal atau horizontal diversity merupakan penampakan penampang suatu lanskap dari atas permukaan bumi, semakin tinggi keragamannya maka semakin baik. Namun keragaman ini bersifat parabolik, ada satu titik di mana keragaman ini justru akan memberikan dampak negatif. Layaknya sifat jenuh air yang enggan melarutkan gula yang sebanyak-banyaknya, begitu pula sifat ini telah berada di alam sedemikin lamanya seumur bumi ini tercipta.

Pemahaman akan makna struktur ini akan memudahkan kita dalam menganalisis permasalahan apa pun di dunia aristektur lanskap. Secara spasial, bila seorang arsitek lanskap yang bergerak bidang  RS dan GIS memahami makna struktur maka dia tidak akan berkutat dengan masalah teknis alat dan bahan, tetapi lebih ke arah tujuan dan analisis struktur tersebut. Bukanlah tugas seorang arsitek lanskap untuk mengetahui secara detil apa yang salah dengan satelit dan reflektannya, tetapi seorang arsitek lanskap perlu tahu prinsip dari perlunya satelit dan makna reflektan tersebut.

…bersambung

Bagian dari tulisan ini rencananya akan diterbitkan dalam satu publikasi




KOMPAS hari ini lucu banget!!!

30 01 2011

Baca KOMPAS.com hari ini ada karikatur MICE Cartoon yang lucu banget. Ha ha ha. Sungguh lucu. Kalo lihat dari kelakarnya sungguh menggelitik. Top deh… Sering-sering aja karikatur kayak begini muncul dengan gelitikan yang segar dan penuh canda hue he he




3D Pictures

20 12 2010

Magic Eye

Here are some easy pictures to get a 3D view. I bet you can do it in just 20 seconds or less. Almost everyone took this picture and got 3D in very easy way. You can try using many methods, and I guarantee you will absolutely got 3D view in a short time.

The 3D stereogram widely known as Magic Eye 3D is different from other 3D pictures or technologies as no special viewing aids are required to see Magic Eye 3D pictures. By training your eye muscles to behave in a certain way, a 3D image will magically appear. Magic Eye 3D pictures are single-image stereogram specially made to trick the human brain into perceiving a three-dimensional (3D) scene in a two-dimensional image. Magic Eye 3D picture creates illusion of depth into a two dimensional image thus when you view a Magic Eye 3D picture in proper way you will see a clear 3D picture hidden inside the two dimensional image. When we see an object which is nearer to us we shorten our focus and again when we see distant objects we lengthen our focus, in a magic eye picture you also have to shorten and lengthen your focus to see the whole 3D view and thus you got the illusion of depth.

The answers are in the bottom of this post.

For more interesting 3D pictures, please visit here http://www.magiceye3ds.com/

View Free 3D Gallery
Download Free Online Diary

The Answer is:

Please try another one:

Please enjoy it!!!




Logo PPI Jepang – Downloadable

18 12 2010
Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang yang disingkat PPI-Jepang adalah organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Organisasi ini didirikan di Tokyo pada tanggal 24 Juni 1953 dengan nama “Himpunan Mahasiswa Indonesia di Jepang” yang kemudian dalam perjalanan waktu namanya berubah menjadi “Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang” atau dalam bahasa Jepang disebut “Zainichi Indonesia Ryugakusei Kyokai”. Lebih detail silahkan akses ke http://ppijepang.org.
Hak cipta dari logo ini  ada di PPI jepang yang beralamat di http://ppijepang.org
File information:
– Resolution 300dpi [2835 x 2004 pixels]
– RGB format
– 8 bits/channel
– Approximately B5 sized [250 x 176 mm]Please see the file sized before download.
Mohon lihat ukuran file dan tipenya sebelum mendownload. 

Logo PPI – PNG Type.png (114 KB)
Logo PPI – TIFF layered.tif (813 KB)
Logo PPI Hiroshima – TIFF latyered. tif (883 KB)
Logo PPI Emboss.tif (6 MB)

Keterangan: Layered berarti file tersebut memiliki layer yang bisa diedit, jadi bisa didesain sesuai dengan keinginan. Silahkan saja didownload semuanya bila tidak ada masalah dengan akses internetnya.