Allahpun Menangis Bahagia

9 03 2010



Suatu musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya.
Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu. Sungai-sungai
mengering. Itu adalah musim kering yang cukup parah bahkan ada mungkin
sebelum musim panas berakhir banyak dari para petani sudah harus mengalami
kebangkrutan. Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal
mungkin mengairi ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan
akhirnya proses ini melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik
penyimpan air setempat dan mengisinya dengan air. Penjatahan air yang ketat
membuat banyak orang kesusahan. Kalau hujan tidak turun juga dengan segera
kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga tentang
memberi
dan aku menyaksikan sendiri mujizat terjadi. Saat sedang di dapur menyiapkan
makan siang, aku melihat anak laki-lakiku, Billy, 6 tahun, sedang berjalan
ke hutan. Langkahnya tidak seperti anak kecil pada umumnya, sepertinya
sedang berjalan dengan satu tujuan yang sangat penting sekali. Aku hanya
bisa melihat punggungnya saja.

Dengan upaya yang besar, ia mencoba berjalan dengan tenang. Setelah
menghilang ke dalam hutan, segera dia sudah terlihat kembali, berlari
kencang menuju rumah. Aku tidak terlalu perduli, rasanya ia sudah selesai
dan aku meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat aku kembali melihat Billy,
seperti tadi lagi langkahnya tetap tenang.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu terus menerus. Akhirnya aku tidak
tahan lagi, langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (tapi berusaha untuk
tidak diketahui… rasanya dia tak mau ibunya tahu apa yang sedang
dikerjakannya) .

ia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, mencoba untuk tidak
menumpahkan satu tetespun Air ditangannya yang kecil itu paling hanya
sebanyak 1 atau 3 sendok makan. Aku mencoba lebih mendekat saat dia sedang
berjalan menuju hutan. Ranting-ranting pohon dan duri mengenai wajah
kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk menghindar. Dia lebih
memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang
sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy
berjalan tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya
menjauh. Seekor rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang
mendekat. Tapi rusa itu tidak melakukan apa-apa, bahkan ketika Billy duduk
berlutut. Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas
sekali sedang menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku
melihat anak rusa itu dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya
untuk bisa menjilat air dari tangan kecil anakku. Demikian Billy
melakukannya.

ketika airnya habis, segera Billy berdiri, kembali berlari ke rumah,
berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy membukanya dan aliran air
yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan tangannya sambil
berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu memenuhi tangannya
dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.
Butuh waktu kira-kira 2 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan kecilnya.
Setelah penuh dia berdiri dan kembali ke hutan, disaat itulah dia baru
menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata yang hampir
mengalir dia berkata, “aku nggak sedang buang-buang air,” katanya.

Akhirnya aku menemaninya. ..kali ini dengan membawa mangkuk kecil yang sudah
berisi air. Aku menunggu di kejauhan, membiarkannya memberi minum anak rusa
itu. Itu pekerjaannya. Aku berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah
hati yang luar biasa indah, dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk
menyelamatkan sebuah kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air
yang lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang
ke langit dan bisa merasakan bahwa Allah pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan. Bahwa mujizat itu
tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun. Aku tidak dapat
mendebatnya. .. dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku katakan hanyalah
bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan pertanian kami,
seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang telah
menyelamatkan nyawa makhluk lain.
———— ——–
From:Agustinus Cahyana



Actions

Informations

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>